Ulang Tahun dalam Pandangan Tradisi Jawa

Istilah ulang tahun yang sekarang lebih banyak dikenal dengan istilah birthday, dalam bahasa Jawa dikenal dengan istilah tanggap warso.

Ulang Tahun dalam Pandangan Tradisi Jawa
Ilustrasi Ulang Tahun (Credit: petnyaku via www.petnyaku.com)

Oleh: Dr. Rosita Ambarwati, S.S, M.Pd

(Dosen Univ. PGRI Madiun, anggota PISHI)

Istilah ulang tahun yang sekarang lebih banyak dikenal dengan istilah birthday, dalam bahasa Jawa dikenal dengan istilah tanggap warso. Ulang tahun merupakan peristiwa yang dianggap penting sehingga hampir semua orang di dunia merayakannya. Mengulas makna ulang tahun dan berbagai ragam perayaannya bisa digunakan sebagai media untuk terus belajar menambah pengetahuan. 13 Oktober di saat penulis membuat tulisan, tepat dihari dan tanggal itu pula penulis dilahirkan atau berulang tahun.

Berdasarkan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), ulang tahun diartikan sebagai hari lahir atau hari ketika suatu peristiwa penting terjadi. Budaya barat mengenal ulang tahun sejak kepemimpinan raja Mesir Firaun pada 3000 SM. Beberapa tradisi yang ada pada perayaan ulang tahun di Barat adalah meniup lilin, memotong kue ulang tahun, meniup balon dan make a wish. Kue Ulang tahun ditambah dengan lilin merupakan simbol harapan agar orang yang sedang berulang tahun mendapatkan kebahagiaan dan bersinar kehidupannya. Harapan dan doa yang khusus selalu dipanjatkan oleh orang yang sedang berulang tahun ketika akan meniup lilin. Harapan dan doa inilah yang dikenal dengan istilah make a wish.

Adapun balon adalah wujud kegembiraan yang biasa digunakan untuk pesta ulang tahun terutama pesta anak kecil. Akan tetapi, saat ini jarang terlihat ada pesta ulang tahun orang dewasa yang dihiasi balon. Makna filosofi balon adalah ita-cita yang hendak diraih, dengan harapan setiap orang yang berulang tahun terus bersemangat mencapai cita-cita. Lebih mendalam penulis berkebangsaan Inggris Terry Pratchett menyatakan bahwa balon mempunyai makna metafora yaitu manusia harus bisa mengekang nafsu. Dalam kehidupan manusia harus bisa mengontrol kapan harus mempertahankan dan kapan harus melepas. Secara kodrati manusia tidak mungkin lepas dari dosa dan juga masa lalu. Ketika balon dilepaskan naik memiliki makna melepas kelam masa lalu dan melesat terbang untuk meraih masa depan yang lebih baik.

BACA JUGA: Di Manakah Maluku

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya, dalam bahasa Jawa dikenal dengan ungkapan “Desa mawa cara, negara mawa tata”.  Artinya setiap daerah memiliki adat istiadat dan aturan yang berbeda.  Ulang tahun dalam kebudayaan Jawa mempunyai konsep dan menjadi tradisi yang bermakna luhur. Apa yang penulis rasakan dan alami di saat ulang tahun bisa jadi berbeda dengan teman-teman penulis saat itu. Impian penulis pada saat itu adalah merayakan ulang tahun dengan kue tart, mengundang teman, menyanyikan lagu ulang tahun, meniup lilin, dan mendapat kado. Akan tetapi sampai penulis menikah belum pernah merasakan ulang tahun yang seperti diimpikan tersebut. Kebiasaan keluarga kami selalu membuat nasi kuning dan jenang sengkolo di setiap tanggal kelahiran anggota keluarga kemudian dibagikan ke tetangga. Tradisi keluarga tersebut akhirnya terus dilakukan penulis hingga saat ini. Nasi kuning dengan jenang sengkolo ditambah dengan kue ulang tahun. Sedikit percampuran antara budaya Jawa dan budaya Barat.

Ulang tahun dalam konsep budaya Jawa dikenal sebagai wetonan yang berarti keluar. Peringatan ini merupakan tradisi untuk mengenang kelahiran bayi. Berbeda dengan perayaan ulang tahun dalam tahun masehi, wetonan dilakukan dengan cara selametan, dengan tumpeng sebagai rasa syukur kepada Tuhan. Menu tumpeng ini menjadi istimewa karena makanan diatur sedemikian rupa sehingga tampak khas yaitu nasi yang dibentuk kerucut sebagai perwujudan gunung. Bentuk gunung tersebut dipercaya sebagai tempat bersemayam nenek moyang terdahulu. Tradisi Islam di Jawa mengambarkan tumpeng sebagai simbol permohonan kepada Yang Mahakuasa dan wujud syukur atas segala nikmat yang telah diberikan.

Mencermati hidangan  dan tradisi yang ada pada acara selametan wetonan di daerah asal penulis terlihat ada pergeseran dari tradisi aslinya. Beberapa sumber menyatakan bahwa lauk pauk yang melengkapi tumpeng seharusnya berjumlah 7 jenis. Secara filosofis 7 jenis makanan tersebut merupakan harapan mendapatkan pertolongan dari Tuhan Yang Mahakuasa. Angka 7 dalam bahasa Jawa pitu yang dimaknai sebagai pitulungan (pertolongan).

BACA JUGA: Renungan Penghujung Ramadan

Saat ini, fakta yang ditemui penulis, lauk pauk yang biasa disajikan untuk melengkapi tumpeng jumlahnya tidak sampai tujuh macam. Begitu juga lauk-pauk yang biasa dilakukan oleh keluarga kami. Biasanya keluarga kami membuat nasi kuning dengan lauk ayam (tidak selalu ayam jantan ), kering tempe atau kentang, telur, kerupuk, mentimun.

Selain nasi kuning hidangan yang biasa dibuat keluarga kami  adalah hidangan bancakan yang terdiri atas nasi, lauk ayam, terik tahu tempe, urapan, telur. Dalam setiap hidangan bancakan selalu ada adalah ayam dan telur. Tradisi asli budaya Jawa ayam yang digunakan sebagai pelengkap tumpeng adalah ayam jantan (jago) dengan harapan bahwa manusia diharapkan selalu rendah hati dan menghindari sikap sombong seperti gambaran ayam jago yang angkuh. Telur mengandung makna bahwa manusia harus bertindak hati-hati dan teliti. Permasalahan yang dihadapi harus dikupas secara hati-hati. Apa yang akan dilakukan harus direncanakan dan dievaluasi untuk menjadi lebih baik. Apapun bentuknya, acara ulang tahun dengan selametan patut dilestarikan sebagai bentuk solidaritas, kebersamaan, kerukunan, dan menebarkan rasa sayang dengan bersedekah. Bagi penulis Peringatan hari kelahiran memberikan peringatan untuk selalu ingat dan memperbaiki diri. Di usia yang tidak lagi muda semoga Allah selalu menuntun di jalan yang lurus dalam kebahagiaan dan keberkahan.(***)

 

Disunting oleh Dr. Umi Salamah Anggota Perkumpulan Ilmuan Sosial Humaniora Indonesia (PISHI).