Ngabuburit Menikmati Pencakar Langit Monas Jakarta

  • Whatsapp
Monumen
Tugu Monumen Nasional Jakarta (idetrips)
banner 468x60

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Ngabuburit merupakan momen yang paling ditunggu-tunggu di Bulan Ramadan. Sambil menunggu waktu berbuka, tidak ada salahnya mengunjungi salah satu ikon Ibu Kota Jakarta ini, yakni Monumen Nasional atau sering disingkat Monas.

Tugu Monas adalah bangunan pencakar langit yang memiliki ketinggian 132 meter di Jakarta dan berdiri di tengah Medan Merdeka. Monumen tersebut melambangkan perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Baca Juga

BACA JUGA: Ngabuburit di Ancol, Ternyata Bisa Naik Kapal Phinisi, Buka Puasa di Laut Tenang – Nusadaily.com

Sejarah Pembangunan Monas

Pada masa penjajahan Belanda, Ibu Kota Republik Indonesia pernah berada di Yogyakarta, kemudian berpindah kembali ke Jakarta setelah pemerintah Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia pada tahun 1949.

Setelah kejadian tersebut, Presiden pertama RI Ir. Soekarno mulai merencanakan pembangunan sebuah Monumen Nasional yang setara dengan Menara Eiffel di lapangan tepat di depan Istana Merdeka.

Tujuan Soekarno membangun sebuah tugu monumen nasional guna melestarikan dan mengenang perjuangan bangsa Indonesia, agar semangat patriotisme dari generasi penerus dapat bangkit dan berkembang, layaknya api yang berkobar. 

Pada tanggal 17 Agustus 1954, terbentuklah sebuah komite nasional untuk merencanakan pembangunan monumen nasional. Selanjutnya komite nasional menggelar dua kali sayembara untuk merancang pembangunan monumen nasional, pertama pada tahun 1955 dan kedua pada tahun 1960.

Pada tahun 1955 sayembara pertama digelar, dan pada waktu itu banyak sekali rancangan yang terkumpul, jumlahnya mencapai 51 karya, akan tetapi hanya satu karya yang dibuat oleh Frederich Silaban yang memenuhi kriteria yang ditentukan komite, antara lain menggambarkan karakter bangsa Indonesia dan dapat bertahan selama berabad-abad.

Pada tahun 1960 sayembara kedua digelar, dan terkumpul 136 karya, akan tetapi dari kesemuanya tidak satupun yang masuk dalam kriteria. Ketua juri kemudian meminta Silaban untuk menunjukkan hasil rancangannya kepada Soekarno, tetapi Soekarno kurang menyukai rancangan itu dan ia menginginkan monumen itu berbentuk lingga dan yoni.

Lalu Frederich Silaban diminta untuk membuat lagi rancangan sesuai dengan keinginan Soekarno. Silaban kembali membuat rancangan dan hasil rancangan tersebut memiliki spesifikasi yang terlampau istimewa sehingga membutuhkan biaya yang sangat besar untuk membangunnya, terlebih kondisi ekonomi saat itu cukup buruk.

Kemudian Silaban diminta untuk merancang dengan ukuran yang lebih kecil tetapi dia menolak dan menyarankan pembangunan ditunda hingga ekonomi Indonesia membaik.

Soekarno kemudian meminta arsitek R.M. Soedarsono untuk melanjutkan rancangan itu. Soedarsono memasukkan angka 17, 8 dan 45, melambangkan 17 Agustus 1945 memulai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, ke dalam rancangan monumen itu.

Pada akhirnya pembangunan monumen itu dimulai 17 Agustus 1961 yang diarsiteki oleh Frederich Silaban dan R. M. Soedarsono. Kemudian pada tanggal 12 Juli 1975 Monumen Nasional itu mulai dibuka untuk umum.

BACA JUGA: Wisata Simpang Lima Gumul Serasa Liburan ke Perancis – Noktahmerah.com

Ada Apa Saja di Monas?

Di bagian dasar Monas adalah Museum Sejarah Nasional Indonesia yang didalamnya terdapat 51 diorama’s (model tiga dimensi) menceritakan sejarah Indonesia dari prasejarah untuk kali terakhir.

Monas terdiri dari dua bagian. Bagian pertama adalah platform dasar yang disebut piala, ketinggiannya mencapai 17 meter dan di atasnya adalah obelisk dengan tinggi 117,7 meter yang terbuat dari marmer Italia.

Piala tersebut merupakan Yoni, yang menyerupai mortir beras lesung yang melambangkan organ wanita sementara tugu menyerupai Lingga, sebuah nasi alu melambangkan orang laki-laki.

Di dalam piala itu adalah Ruang Kemerdekaan yang didalamnya terdapat berbagai simbol kemerdekaan Indonesia seperti teks asli Proklamasi Kemerdekaan, peta kepulauan dilapisi emas dan mantel senjata Indonesia.

Di bagian atas monumen terdapat sebuah api emas yang disebut Flame Kemerdekaan. Api emas tersebut terbuat dari 14,5 ton perunggu dilapisi dengan 50kg emas dengan ketinggian 14 meter.

Disana anda dapat melihat platform pada ketinggian 115 meter dengan lift di sisi selatan struktur. Tidak hanya itu, di tempat ini telah disediakan teropong untuk menikmati pemandangan Jakarta.

Saat ini, Monas menjadi salah satu pusat wisata sekaligus pusat edukasi bagi masyarakat. Tak hanya bagi masyarakat Jakarta saja, masyarakat dari luar Jakarta juga turut menikmati wisata Monumen Nasional ini.

BACA JUGA: Temani Ngabuburit, Dufan Kembali Hadirkan “Magic House” – Imperiumdaily.com

Ada Aktivitas Apa Saja di Monas?
  • Melihat Pemandangan Ibu Kota dari Atas Monas
  • Mengunjungi Museum Sejarah Nasional
  • Mencicipi Khas Kuliner Jakarta
  • Atraksi Air Mancur Menari
  • Menikmati Seni Rupa
  • Menyewa Sepeda
  • Melihat Rusa
  • Berolahraga

Dan masih banyak hal lain yang bisa anda lakukan di Monas sambil menunggu waktu berbuka, anda bisa jalan-jalan sore sambil menikmati rindangnya pepohonan di taman-taman yang ada di Monas ataupun berburu spot foto.

Kini selama masa pandemi, Monas juga telah menerapkan protokol kesehatan yang ketat, seperti pembatasan kapasitas pengunjung, penggunaan masker, pengecekan suhu tubuh, dan jaga jarak.(eky)