Hotel Sarangan Berumur Ratusan Tahun Dijual Rp 22 Miliar

  • Whatsapp
hotel sarangan dijual
Hotel Sarangan yang dijual, sudah berdiri sejak zaman penjajahan Belanda. Foto: Riyanto/nusadaily.com
banner 468x60

NUSADAILY.COM-MAGETAN- Hotel Sarangan dijual. Bangunan bersejarah di kawasan objek Wisata Telaga Sarangan terancam hilang. Hotel Sarangan, penginapan yang telah ada sejak zaman penjajahan Belanda akan dijual. Kabar penjualan tersiar melalui postingan di salah satu forum jual-beli media sosial facebook, kemarin 12 Oktober 2020.

BACA JUGA: Oemah Djowo, Pilihan Terbaik Menikmati Keindahan Sarangan dan Gunung Lawu

Baca Juga

BACA JUGA: Asal Usul Telaga Sarangan Magetan Konon Berawal dari Telur Misterius

Dalam postingan yang dikirimkan akun media sosial Juli Bakhtiar, hotel seluas 7429 meter persegi itu dijual dengan harga Rp 22 miliar nego. Tercantum nomor kontak milik Juli Bakhtiar, lengkap dengan statusnya dalam penjualan tersebut.

“Saya bukan pemilik tapi kuasa jual,” ungkap Juli saat dihubungi nusadaily.com melalui sambungan telepon hari ini Selasa 13 Oktober 2020.

Kronologi penjualan ini bermula saat Juli mendapatkan pembeli yang ingin membeli hotel itu. Hanya saja calon pembeli tak tahu menahu harus menghubungi siapa. Hingga akhirnya, Juli bersama temannya mencoba menjadi perantara.

Setelah berkomunikasi dengan Moko, salah satu pemilik hotel diminta untuk membuat surat kuasa penjualan.

“Setelah buat, ternyata pembeli tadi justru menghilang,” tuturnya sambil menyebut jika itulah alasannya memposting penjualan hotel di medsos.

Wartawan nusadaily.com selanjutnya menelusuri kebenaran kabar ini. Dan bertemu dengan salah satu staf bernama Pipit. Dia pun tak tahu menahu jika Hotel Sarangan dijual melalui media sosial. Diperkirakan penjual tersebut calo.

“Bukan dari kami,” katanya.

Hanya saja, Pipit mengakui jika hotel tersebut sudah lama hendak dijual. Sedangkan harganya diperkirakan tak semurah itu. Itu mengingat adanya tawaran Rp 23 miliar hingga Rp 25 miliar tak diiyakan.

“Banyak yang sudah berkunjung untuk bertanya-tanya,” imbuhnya.

Ini Dua Hotel Tertua Lainnya di Sarangan

Sementara itu, Pipit membenarkan jika Hotel Sarangan telah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Dibuktikan dengan arsitektur bangunannya. Untuk menyakinkan, Pipit pun mengeluarkan buku dan sejumlah foto dan dokumen kepada nusadaily.com.

Dalam buku berbahasa Belanda itu, hotel tersebut berkali-kali ganti nama akibat Kependudukan penjajahan dan peralihan kepemilikan. Pertama Hotel Hakone dan juga Grand Hotel Sarangan. Sesuai dengan keterangan foto penampakan Hotel Sarangan kala itu sudah berdiri megah sejak tahun 1919. Sayang kapan persis pembangunan, Pipit tak mengetahuinya.

“Selain sini ada Hotel Lawu dan Sylverwin yang merupakan peninggalan Belanda,” terangnya.

Ditanyakan lebih lanjut mengapa sepi, menurutnya sejak pandemi tutup. Jika tidak tamunya banyak, tetapi bukan dari pribumi. Paling banyak asing, seperti Belanda Jerman dan Perancis. Mereka ingin nampak tilas dan mengenang leluhurnya yang pernah tinggal di Indonesia.

Sementara itu ditempat terpisah, Kepala Dinas Pariwisata Magetan Joko Trihono mengaku tidak tahu bila ada hotel bersejarah mau dijual. Pihaknya akan segera melapor kepada Bupati.

“Kita tidak bisa menghalanginya, yang akan kita lakukan mengimbau kepada pembeli untuk tidak melakukan renovasi masif atau memugarnya dari bentuk aslinya. Karena dimungkinkan banguan hotel se abad tersebut masuk dalam peninggalan cagar budaya,” terangnya.

Joko berharap bangunan sejarah tersebut tidak jatuh kepada orang luar Magetan. Mengingat tidak banyak bangunan peninggalan sejarah di Kabupaten Magetan. Joko berjanji akan segera menyampaikan hal ini kepada Bupati.(nto/cak)

Post Terkait

banner 468x60