Tolak Perjanjian Tentatif, Puluhan Ribu Pekerja Kereta Api AS Ancam Mogok Kerja!

Anggota serikat pekerja kereta api di Amerika Serikat (AS) menolak perjanjian tentatif tentang tenaga kerja perkeretaapian setempat. Langkah ini berpotensi menimbulkan mogok kerja buruh pada bulan depan.

NUSADAILY.COM – JAKARTA - Anggota serikat pekerja kereta api di Amerika Serikat (AS) menolak perjanjian tentatif tentang tenaga kerja perkeretaapian setempat. Langkah ini berpotensi menimbulkan mogok kerja buruh pada bulan depan.

Brotherhood of Railroad Signalmen (BRS) adalah salah satu yang menentang perjanjian tentatif. Hasil pemungutan suara menunjukkan 2.810 atau 60,5% menolak perjanjian itu, sementara 1.820 atau 39,2% menyetujuinya.

BACA JUGA: Indonesia Bakal Pamerkan Kereta Cepat Jakarta-Bandung ke Dunia di G20 Mendatang


Serikat pekerja itu mewakili lebih dari 6.000 karyawan kereta api barang yang bertugas memasang, memperbaiki, dan memelihara sistem sinyal perkeretaapian.

"Untuk pertama kalinya yang saya ingat, anggota BRS memilih untuk tidak meratifikasi Perjanjian Nasional dengan tingkat partisipasi tertinggi dalam sejarah BRS," kata Michael Baldwin, presiden BRS, dalam sebuah pernyataan.

Mengutip detikcom, awal bulan ini, Brotherhood of Maintenance of Way Employees District (BMWED) yang mewakili 23.000 pekerja juga menolak perjanjian tentatif. Langkah ini meningkatkan potensi mogok kerja setelah tanggal 19 November.

Sebagai informasi, buruh ditawari kontrak 5 tahun berisi kenaikan 24% gaji dan bonus US$ 5.000. Namun, buruh menolaknya karena tidak sesuai dengan keinginan.

Apalagi banyak perusahaan kereta api mulai menghilangkan sepertiga pekerjaan mereka selama enam tahun terakhir.

Perwakilan pemerintah lewat Komite Konferensi Operator Nasional mengatakan kecewa dengan hasil pemungutan suara. Namun mereka yakin gagalnya ratifikasi tidak akan mengganggu layanan kereta api dalam waktu dekat.

BACA JUGA: Departemen Kereta Api Shenzhen Terapkan Peta Operasi Kereta Baru Mulai 11 Oktober


Sementara itu, Michael Baldwin menyebut belum jelas kapan serikat pekerja melakukan aksi mogok. Namun ia memprediksi anggotanya tidak bisa mogok hingga awal Desember.

AS memiliki undang-undang khusus untuk mengatur buruh rel kereta api. Undang-undang ini berbeda dengan undang-undang yang mengatur sebagian besar bisnis di AS.(eky)