Tanggung Jawab Siapa?

Tepat pukul 11.05 saya duduk berhadapan dengan seorang dokter bedah di ruang periksa kliniknya. Kedatangan pertama saya ini untuk mengkonsultasikan kondisi kaki saya. Tentu saja saya mendengarkan perkataan beliau dengan cermat sambil sesekali bertanya.

Tanggung Jawab Siapa?
Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

Dr. Dra. Yuli Christiana Yoedo, M.Pd.

 

Tepat pukul 11.05 saya duduk berhadapan dengan seorang dokter bedah di ruang periksa kliniknya. Kedatangan pertama saya ini untuk mengkonsultasikan kondisi kaki saya. Tentu saja saya mendengarkan perkataan beliau dengan cermat sambil sesekali bertanya.

Percakapan medis telah berakhir. Namun, percakapan kami belum berakhir. Beliau mulai mengeluarkan uneg-unegnya tentang pegawai pemerintah yang tidak mau mengubah pola pikirnya. Terus terang saya kaget. Kami baru pertama bertemu dan beliau berani bercerita tentang problemnya.

Sebelum saya memasuki ruang periksa klinik, saya harus memberi data tentang pekerjaan saya. Di kertas tersebut jelas tertulis saya seorang dosen. Mungkinkah pekerjaan saya menjadi penyebab mengapa beliau bercerita banyak tentang perlunya perubahan pola pikir? Saya semakin yakin bahwa dosen identik dengan agen perubahan pola pikir. Dokter tersebut yakin bahwa saya orang yang tepat untuk mendiskusikan topik tersebut.

Dosen memang bukan hanya bertugas mentransfer ilmu pengetahuan. Tugas yang lebih penting adalah mengubah pola pikir. Pola pikir yang sempit diperluas. Pola pikir yang salah dibenarkan.  

Pola pikir siapa yang harus diubah? Pertama, pola pikir diri sendiri. Kedua, pola pikir, mahasiswa. Ketiga, pola pikir masyarakat.

Pola pikir diri sendiri dapat diubah, diantaranya, dengan banyak membaca dan berdiskusi. Perubahan pola pikir tentunya harus ke arah yang lebih baik. Gelar akademik yang bertambah tidak menjamin pola pikir seseorang menjadi bertambah baik. Saya trenyuh melihat beberapa teman yang bertambah gelar akademik mereka tetapi makin sempit pola pikir mereka. Mereka lupa bahwa kepentingan Indonesialah yang harus lebih diutamakan daripada kepentingan pribadi maupun kelompok.

Indonesia tidak akan menjadi lebih maju jika penduduknya tidak mempunyai pola pikir yang baru. Percuma Bapak Jokowi bekerja keras memberantas korupsi jika tidak didukung oleh anak buahnya. Begitulah kata dokter bedah tersebut.

Perkataan dokter tersebut memunculkan pertanyaan berikut di otak saya. Jadi sebetulnya tanggung jawab siapa untuk mengubah pola pikir seseorang? Apakah hanya tanggung jawab pendidik?

Saya jadi teringat dengan beberapa kisah. Ada seorang mahasiswa dari keluarga miskin dan berantakan. Dia mendapatkan beasiswa dan jaminan bekerja setelah lulus. Pada semester 5 dia melanggar peraturan. Akibatnya, beasiswanya dicabut sehingga dia tidak bisa melanjutkan studinya.

Para dosen berjuang mengentas mahasiswa ini dari kehidupan suramnya. Mereka mencoba mengubah pola pikirnya. Sayangnya, mereka gagal karena mahasiswa tersebut tidak mau mengubah pola pikirnya bahwa dia adalah manusia yang baru. Dia tetap melakukan kebiasaan lamanya yang membuat dia kehilangan masa depan yang cerah.

Mahasiswa penerima beasiswa lainnya bernama Sania (nama samaran) juga tidak termotivasi untuk serius belajar. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk kegiatan lain karena dapat segera menghasilkan uang. Dosen wali tidak berhasil memotivasinya. Dia berubah setelah orang tuanya bertanya, ‘Kamu ini mahasiswa atau model?’

Mahasiswa ini berubah setelah ada intervensi orang tua. Sebetulnya, perubahan ini juga merupakan hasil kerja dosen wali. Di awal semester di pertemuan dengan orang tua dan mahasiswa baru, dosen wali mengingatkan orang tua bahwa tugas mereka belum selesai. Mereka perlu memotivasi anak mereka untuk belajar giat selama 4 tahun.

Sebetulnya tanggungjawab siapa mengubah pola pikir ini? Dari cerita yang telah saya sampaikan di atas, jelas bahwa ini bukan hanya tanggungjawab pendidik. Ini tanggungjawab bersama. Tanggungjawab pemerintah, masyarakat, keluarga, pendidik tentunya dan diri terdidik sendiri. Kesadaran terdidik untuk berubah inilah yang terpenting.

Pertanyaannya bagaimana jika keluarga dan masyarakat tidak menyadarinya atau tidak mempunyai kapasitas untuk melakukannya. Dosenlah yang seharusnya membantu mereka. Salah satu cara yang dapat dilakukan, yaitu melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

Bagaimana jika pendidik sendiri tidak mau mengubah pola pikir mereka? Bekerjasama dengan PEMDA, saya mengadakan pelatihan bagi guru di suatu daerah tertinggal. Beberapa guru tidak menghadiri 3 pertemuan secara lengkap tanpa pemberitahuan. Mereka tidak menyadari perlunya memperluas wawasan pengetahuan mereka. Jika pendidik saja tidak mau mengubah pola pikir mereka, tanggungjawab siapa untuk mengubah pola pikir anak didik?

Ternyata perjalanan untuk menuju gerbang kesuksesan masih sangat panjang. Apakah kita harus menyerah? Sebagai orang yang percaya kepada kebesaran Tuhan Sang Pencipta, kita akan terus berjuang. Tanggungjawab siapa tidak perlu ditanyakan lagi. Sebagai gantinya, kita perlu menjawab dengan lantang bahwa ini tanggungjawab kita. Kita harus terus berjuang sekuat tenaga dengan  menggandeng berbagai pihak. Kita menyerahkan usaha kita kepadaNya. Biarlah Tuhan Sang Pencipta memberkati usaha kita.

 

Dr. Dra. Yuli Christiana Yoedo, M.Pd. adalah dosen tetap Prodi PGSD Universitas Kristen Petra. Tulisan ini disunting oleh Dr. Dewi Kencanawati, M.Pd., dosen program studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Nusantara PGRI Kediri dan Pengurus Perkumpulan Ilmuwan Sosial humaniora (Indonesia (PISHI).