Tak Hanya JFC, Festival Jember Kota Cerutu Indonesia Mulai Jadi Perhatian

Hasti Utami, Sekretaris Association of The Indonesian Tours And Travel Agencies (Asita) Kabupaten Jember, sempat mengikuti pertemuan antaragen perjalanan beberapa waktu lalu di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Jan 5, 2023 - 19:04
Tak Hanya JFC, Festival Jember Kota Cerutu Indonesia Mulai Jadi Perhatian
Tak Hanya JFC, Festival Jember Kota Cerutu Indonesia Mulai Jadi Perhatian

NUSADAILY.COM – JEMBER  – Kabupaten Jember, Jawa Timur, kini tak lagi identik hanya sebagai kota karnaval namun juga kota cerutu. Agen-agen perjalanan wisata, termasuk di luar negeri, mulai melihat Festival Jember Kota Cerutu Indonesia (JKCI) sebagai salah satu agenda penting.

Hasti Utami, Sekretaris Association of The Indonesian Tours And Travel Agencies (Asita) Kabupaten Jember, sempat mengikuti pertemuan antaragen perjalanan beberapa waktu lalu di Lombok, Nusa Tenggara Barat. “Saat saya mengatakan dari Jember, rata-rata orang langsung menyebut: Oh, Jember yang ada cerutunya,” katanya, Kamis (5/1/2023).

BACA JUGA : Komnas Perempuan Angkat Bicara Terkait Kasus Remaja Perempuan...

Hal serupa ditemuia Hasti saat di Singapura. “Saat bertemu dengan beberapa travel agent, biasanya mereka bilang: Yes, I know Jember Fashion Carnaval. Sekarang mereka mulai bergeser Jember yang ada cerutu dan tembakau,” katanya.

Dalam pertemuan dengan agen perjalanan dan agen pariwisata Malaysia, lagi-lagi Jember sebagai Kota Cerutu kembali terlontar. “I know Jember, Jember tobacco,” kata Hasti menirukan ucapan mereka.

Saat acara touring otomotif di Malang, sebagian peserta menanyakan oleh-oleh cerutu saat bertemu dengan perwakilan Jember. “Ternyata cerutu Jember tidak hanya dikenal kalangan kelas atas, tapi juga kelas menengah,” kata Hasti.

Sayangnya, lanjut Hasti, baru JFC saja yang masuk dalam kalender agenda kegiatan wisata Pemerintah Provinsi Jawa Timur. “JKCI tidak masuk. Padahal itu peluang besar, kalau ngomong kearifan lokal Jember,” katanya.

JKCI digagas Febrian Ananta Kahar, seorang pengusaha muda tembakau cerutu dan sudah memasuki tahun keempat pada 2022 lalu. Sejumlah produsen cerutu di Jember terlibat dalam acara itu, antara lain MDR (Mangli Djaya Raya), Kopkar Kartanegara, Bin Cigar, dan Dwipa Nusantara Tobacco.

Acara tersebut biasanya dihadiri perwakilan dari sejumlah negara seperti Argentina, Republik Ceko, Zimbabwe, Nigeria, Serbia, Kuba, Bahrain, Yaman, dan Uzbekistan, Kuba, Prancis, dan Makao. Tak hanya festival, di sini bisnis juga berjalan.

JKCI semakin menguatkan predikat Jember sebagai Kota Tembakau. Dengan identitas daun tembakau sebagai logo kabupaten, sejak lama Jember memang dikenal sebagai eksportir tembakau bahan pembuat cerutu di dunia.

BACA JUGA : Pria di Jember Bunuh Pacar yang Hamil 7 Bulan

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Jember 2021-2026 disebutkan, ada 23 kecamatan yang membudidayakan menjadi sentra tembakau jenis kasturi, 9 kecamatan sentra tembakau rajang, 5 kecamatan sentra tembakau white burley, dan 12 kecamatan sentra tembakau na-oogst. Tembakau na-oogst adalah tembakau yang menjadi bahan dasar pembuatan cerutu.

Kendati dikenal sebagai Kota Tembakau, ternyata produktivitas empat varietas tembakau di Jember semakin menurun. Jika pada 2016, produktivitas tembakau na oogst mencapai 22.425 kuintal, pada 2020 tinggal 1.640 kuintal.

Begitu juga produksi tembakau jenis voor oogst kasturi yang semula 35.986 kuintal pada 2016, berkurang tinggal 1.530 kuintal pada 2020. Produksi tembakau voor-oogst rajang yang semula 3.890 kuintal pada 2016, empat tahun kemudian tersisa jadi 980 kuintal.

Nasib tembakau jenis white burley malah lebih tragis. Jika pada 2016, produksinya masih 1.727 kuintal, pada 2019 dan 2020 sudah tak ada lagi yang memproduksi.

Kendati produksi terus turun, dana bagi hasil cukai tembakau diproyeksikan terus meningkat. Jika pada 2021 RPJMD Jember memproyeksikan Rp68,728 miliar, lima tahun berikutnya meningkat menjadi Rp84,842 miliar.

Hasti melihat JKCI bisa menjadi modal penting untuk membuat Jember unggul sebagai kota penghasil tembakau dan cerutu. “Jember dengan festival cerutunya jadi peluang baru, asalkan agendanya tidak berdekatan dengan jadwal Jember Fashion Carnaval (JFC). Jangan semuanya dibarengkan JFC,” katanya.(ris)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow