Sukses Belajar Bahasa Asing Ala Janet Holmes

Oleh: Dr. Dra. Yuli Christiana Yoedo, M.Pd.

Jul 2, 2023 - 01:42
Sukses Belajar Bahasa Asing Ala Janet Holmes

Ilustrasi artikel ini berasal dari kisah nyata pembelajar bahasa asing yang memiliki pengalaman berbeda-beda. Dimulai dari pengalaman penulis belajar bahasa asing ketika masih duduk di Sekolah Dasar. Saya mempunyai guru les Bahasa Inggris dan Bahasa Mandarin. Kedua guru tersebut wanita dan sangat pandai. Namun, saya hanya menyukai guru Bahasa Inggris saja karena beliau sangat cantik dan berpenampilan anggun. Sementara itu, guru Bahasa Mandarin saya tidak menarik penampilannya. Akibatnya, saya sangat menyukai Bahasa Inggris dan tidak menyukai Bahasa Mandarin.

 

Saya juga menyukai Bahasa Inggris karena saya melihat hidung penutur asli Bahasa Inggris mancung-mancung. Hidung guru Bahasa Inggris saya juga mancung. Ketika saya sering dihina karena berhidung pesek, saya menganggap hidung mancung selalu lebih baik daripada hidung pesek. Akibatnya, saya lebih suka melihat orang-orang berhidung mancung karena terlihat lebih  cantik dan tampan. 

Faktor lainnya kenapa saya lebih menyukai Bahasa Inggris adalah karena Bahasa Inggris lebih sering digunakan di sekolah. Tidak ada mata pelajaran Bahasa Mandarin waktu itu. Keluarga saya juga jarang sekali menggunakan Bahasa Mandarin dalam percakapan sehari-hari.  Apa yang saya alami tampaknya mendukung pendapat Janet Holmes. Dalam bukunya An Introduction to Sociolinguistics, Holmes menyatakan bahwa sikap terhadap bahasa mencerminkan sikap terhadap pengguna dan penggunaan bahasa. Beliau juga menyatakan bahwa sikap mempengaruhi pemahaman bahasa. Bahasa akan lebih mudah dipahami apabila pembelajar menyukai atau mengagumi pemakai bahasa tersebut.

Tampaknya, pengalaman saya juga dialami oleh keponakan saya, Gifan namanya. Gifan seorang murid TK yang sangat menyukai bahasa Inggris dan terbiasa berkomunikasi dalam Bahasa Inggris. Pagi itu dia mengatakan kepada orang tuanya bahwa dia ingin pindah ke Pulau Bali. Gifan membayangkan sedang makan pagi bersama di sebuah hotel yang dipenuhi tamu asing. Gifan sangat bahagia karena Gifan menyangka bahwa semua tamu asing tersebut tinggal di Bali.

Kemajuan Gifan dalam berbahasa Inggris sangat cepat. Dia mudah memahami film-film berbahasa Inggris karena dia sangat menyukainya. Dia menangis setiap kali ibunya memilihkannya film berbahasa lain. Kecintaan Gifan terhadap Bahasa Inggris sangat tinggi. Dia selalu ingin dikelilingi oleh penutur asli bahasa Inggris. Dia selalu ingin mendengar kata-kata Bahasa Inggris. Dia selalu ingin  bebas berkomunikasi dalam bahasa Inggis. Gifan dapat dengan mudah memahami Bahasa Inggris dan bersikap positif terhadap pengguna Bahasa Inggris karena Orang tuanya memberi akses belajar yang tepat.

Holmes juga menambahkan bahwa Pembelajar akan lebih termotivasi dan lebih sukses dalam belajar bahasa apabila mereka berpikir dan bersikap positif terhadap pengguna bahasa target. Motivasi saya untuk belajar bahasa Inggris semakin meningkat ketika saya berteman dengan penutur aslinya. Komunikasi kami sangat lancar dan harmonis, sehingga saya juga menyukai budaya mereka. Akhirnya, sayapun termotivasi untuk memasuki prodi pendidikan Bahasa Inggris dan menjadi guru bahasa Inggris.

Pengalaman mengajar Bahasa Inggris bersama guru penutur aslinya membuat saya lebih suka mempelajari bahasa Inggris. Saya pun melanjutkan studi ke jenjang S2 dan S3. Kecintaan saya terhadap Bahasa Inggris semakin meningkat meskipun saya telah menjadi pengajar selama 34 tahun. 

Holmes juga menyampaikan poin berikut ini. Semakin positif pandangan pembelajar terhadap pengguna bahasa dan bertambahnya manfaat bahasa yang dipelajari semakin positif sikap pembelajar terhadap bahasa tersebut.

Saya telah menceritakan kisah nyata pengalaman belajar bahasa Inggris saya dan Gifan, keponakan saya. Sekarang giliran saya menceritakan kisah nyata pengalaman belajar bahasa Inggris tiga mahasiswa saya. Ketiga mahasiswa tersebut adalah Fena, Reni dan Poppy (bukan nama sebenarnya). Ketiganya mempunyai trauma dengan guru Bahasa Inggris saat belajar di SMA.

Akibat trauma tersebut, mereka merasa antipati terhadap Bahasa Inggris. Mereka mempunyai sikap yang negatif terhadap Bahasa Inggris. Bahasa Inggris dianggap sebagai “Hantu” yang mengerikan. Hantu yang membuat mereka menderita. Hal ini disebabkan oleh sikap tidak menyukai perlakuan guru dan metode pembelajaran bahasa Inggris yang tidak menyenangkan.    

Ketiga mahasiswa tersebut merasakan perlakuan guru yang tidak menyenangkan. Ketika mereka membuat kesalahan, mereka dipermalukan. Guru mereka juga mengajar dengan tidak serius. Akibatnya, tidak banyak yang mereka peroleh di kelas Bahasa Inggris.

Mereka hanya merasakan satu manfaat belajar Bahasa Inggris, yaitu mendapatkan nilai yang bagus. Mereka tidak mempunyai kesempatan untuk bepergian ke negara yang menggunakan Bahasa Inggris. Mereka tidak mempunyai kesempatan untuk berkomunikasi dalam Bahasa Inggris dengan penutur asli. Mereka juga tidak dilatih untuk membaca teks berbahasa Inggris. 

Sikap ketiga mahasiswa tersebut terhadap Bahasa Inggris menjadi positif setelah pandangan mereka terhadap guru bahasa Inggris berbeda. Mereka merasakan bahwa dosennya dapat menghargai mereka. Mereka tidak pernah dipermalukan ketika membuat kesalahan. Mereka juga banyak mendapat pengetahuan dan bimbingan.

Sikap positif mereka terhadap Bahasa Inggris juga berubah karena mereka melihat lebih banyak manfaat yang diperoleh. Mereka mempunyai kesempatan untuk ikut kegiatan pertukaran mahasiswa di luar negeri. Mereka dapat membaca begitu banyak buku dan artikel Berbahasa Inggris. Mereka dapat mengikuti kegiatan Abdimas bersama dengan mahasiswa dari manca negara. 

Berdasarkan uraian saya di atas, saya sependapat dengan Janet Holmes. Saya akan selalu mengingat pernyataannya agar kompetensi bahasa Inggris mahasiswa meningkat, maka sikap saya sebagai dosen kepada mahasiswa harus menyenangkan, Sebab sikap yang menyenangkan akan meningkatkan motivasi dan minat belajar mahasiswa. Minat belajar mahasiswa yang tinggi akan meningkatkan pemahaman dalam belajar bahasa asing. Selain itu, memilih mitra tutur dan bersikap positif terhadap penutur asli (native speaker) akan menambah manfaat bagi pembelajar. Semakin banyak manfaat yang diperoleh, semakin besar pembelajar meraih sukses dalam belajar bahasa asing. (****)

 

Penulis adalah: Dosen Tetap Prodi PGSD Universitas Kristen Petra

 

 

Disunting oleh Dr. Umi Salamah, M.Pd, pengurus PISHI, Dosen PPG IKIP Budi Utomo Malang dan Dosen Luar Biasa Universitas Brawijaya Malang).