Pak Guru Hilman

  • Whatsapp
banner 468x60

Cerpen : Akadillah

Tetap seperti pagi yang kemarin, atau pagi-pagi yang lain ketika kokok ayam menghias. Keluarga Pak Hilman selalu menyambutnya dengan semangat. Si anak kanak berucap salam saat mata membelalak pelan. Karena ucapan itulah yang selalu diajarkan kedua orang tua si anak. Salam setelah bangun tidur, adalah salam untuk memasuki rumah dunia setalah sekian waktu berkelana di alam mimpi. Seumpama tamu, bocah itu langsung disambut oleh tuannya dengan penuh kehangatan. Tubuhnya dijunjung dan pipinya dicium-cium. Air liur bacin yang kering di pipi usai mengalir, ketika menemani mimpi tak terasa oleh hidung sang ibu, yang memang tak mengenal bau bacin pada anak-anaknya. Karena bagi sang ibu, segala bau yang keluar dari anaknya adalah wangi.

Baca Juga

Sang ibu segera membawa si anak bercuci muka dan mengganti pakaian yang terkena ompol. Sementara sang ayah mulai sibuk dengan peralatan sekolah. Pagi yang masih bisu telah mereka bangunkan dengan senyum yang mengembang. Hingga pukul 06.00 suasana masih biasa seperti yang dulu. Anak-anak yang masih duduk di bangku SD bersiap untuk berangkat sekolah, mereka berbagi celoteh dan berebut lauk saat sarapan pagi.

”Anak-anak sudah mau berangkat, kok ayah masih belum mandi ?,” Sundari, sang istri bertanya tanpa beban. Seakan mendorong suaminya segera bersiap dan menunaikan tugas. Tapi, sang suami masih terdiam, pura-pura sibuk menyiapkan buku dan mencari baju.

”Sudah jam 06.45 lho pak, nanti terlambat,” tambah istri setengah kesal.

”Iya aku segera berangkat Bu, “ Hilman menjawab pelan lalu mengambil baju di gantungan. Jawaban yang keluar dari mulut Pak Guru kali ini terdengar parau dan berat. Seakan meninggalkan beban yang dalam setelah diucap. Berangkat ke sekolah, oh sungguh beban yang sangat berat bagi Hilman selama dua bulan terakhir ini. Tetapi, beban itu tidak juga dia bagi dengan istrinya, karena khawatir bukan akan semakin ringan, melainkan semakin berat saja. Maka, disimpanlah beban yang sebenarnya mulai terpikirkan sejak dua tahun yang lalu, dan mengalami puncak pada dua bulan terakhir. Beban yang melenyapkan harapan seorang guru swasta.

Sebelum dua bulan terakhir ini, setiap hari wajah Hilman masih menyirat ceria disambut sayap-sayapnya ketika pulang, dan dilepas oleh mereka, saat berangkat ke sekolah. Sungguh suasana pagi yang indah dan siang yang merekah. Pulang sehabis mengajar adalah dahaga Hilmam yang paling dalam untuk memeluk sayap-sayap itu dan segera terbang.

Tetapi itu dulu, setidaknya dua tahun yang lalu dan sebelum-sebelumnya. Tetapi kini sudah tidak, sejak dua tahun lalu, sekolah tempat Hilman mengajar, mulai kekurangan murid. Dulu yang menerima sepuluh kelas, dua tahun yang lalu merosot menjadi tujuh kelas, setahun kemudian merosot lagi hingga tinggal lima kelas. Tahun ini atau saat akhir pendaftaran dua bulan lalu, adalah mimpi buruk yang tiada terlupakan bagi pengelola sekolah, terutama bagi Hilman yang hanya sebagai guru swasta yang hanya di sekolah itulah dia abdikan seluruh jiwa raganya, bukan pada yang lain.

Awalnya dia dan sejumlah guru masih belum tahu, apa murid yang mendaftar di sekolah itu akan bertambah atau malah akan menghilang. Oh… rupanya kemungkinan yang kedua yang kini terjadi, sembilan siswa yang sempat mengambil formulir di sekolah itu hanya lima yang mengembalikan. Tetapi, mereka menghilang lagi saat seharusnya daftar ulang setelah diumumkan diterima. Itu karena mereka mengetahui, jika yang mendaftar di sekolah itu tak lebih dari sepuluh. Maka untuk tahun ini praktis kelas satu di sekolah itu tidak ada muridnya. Hanya siswa kelas dua dan kelas tiga yang tinggal menunggu kelulusan. Sejak itulah guru Bahasa Indonesia yang berhati lembut itu tidak lagi mengajar, meski setiap hari berangkat ke sekolah. Dia lebih banyak di perpustakaan membaca-baca buku penyejuk jiwa pembangkit semangat. Maka buku-buku Dale Cornigie sudah banyak yang dia khatamkan.

Sungguh hal inilah yang menjadi pikiran Hilman sejak ada kebijakan baru dari dinas pendidikan, yang membolehkan sekolah negeri membuka banyak kelas.