Misteri Perceraian

  • Whatsapp
banner 468x60

Namaku Diana. Umur 25 tahun. Pertengahan umur dua puluhan menjadi hal yang menakutkan bagiku. Beberapa kali ibuku bertanya; “Kapan kamu menikah?” Aku mulai muak dengan pertanyaan itu. Sebenarnya wajar saja orang tua bertanya. Tetapi apakah mereka tau berkat siapa aku enggan menikah?

Aku dibesarkan di keluarga yang terlihat harmonis. Ya hanya terlihat saja. Tapi nyatanya, setiap hari rumahku berantakan hanya perkara hal sepele saja. Ayahku pekerja sipil biasa. Ibuku bekerja sebagai guru taman kanak-kanak. Ingatanku tentang mereka benar-benar yang terburuk.

Orang tuaku bercerai saat aku kuliah semester 2. Aku dan adik perempuanku memilih ikut ibuku. Sedangkan abangku memilih untuk hidup sendiri di dekat kantor tempat ia bekerja. Sebulan kemudian ayah menikah lagi dengan istrinya yang sekarang. Sedangkan ibuku menjadi single parent dan mengurus aku dan adikku.

Meski peristiwa pedih perceraian itu sudah berlangsung dua tahun lalu. Ingatan tentang hari itu sering berkelebat di memoriku hingga hari-hari ini.

Hari itu, Ayah pulang dari kantor. Ayah terlihat kelelahan. Seperti biasa, ibu menyiapkan makan untuk disajikan agar ayah bisa bersemangat kembali. “Makan dulu yah,” kata ibu. Tapi, ayah yang terlalu lelah hanya menatap makanan lalu masuk ke kamar dan tidur. Aku tidak tahu bagaimana perasaan ibu, tapi saat itu ibu terlihat sudah tidak peduli lagi. Kami melanjutkan makan.

Setelah selesai makan, seperti biasa, aku masuk ke kamar untuk melanjutkan tugas kuliah. Satu jam kemudian terdengar teriakan ayah, “Kenapa lauknya dingin?” Aku menarik napas dalam-dalam sembari memasang headphone dan menyalakan lagu sekencang mungkin. “Paling 5 menit lagi selesai,” ujarku dalam hati.

Tiba-tiba Pintu Kamarku Dibanting

Brak…! Tiba-tiba pintu kamarku dibuka dan dibanting dengan sangat keras. Ayah menarik headphoneku dan berteriak “Keluar!” saat itu hatiku mencelos. Aku termangu karena ayah berteriak tepat di telingaku. Akhirnya aku menuruti ayah dan bergegas keluar. Di ruang tamu sudah ada ibu, adik dan abangku. Pandangan ibu kosong. Adik menahan tangis karena takut dimarahi ayah. Abangku diam saja. Aku akhirnya memangku adik dan memeluknya agar ia tak takut lagi.

“Jadi langsung saja. Ayah dan ibu memutuskan untuk bercerai.” Ucap ibu lirih. “Ya sudah, lagian capek lihat ayah dan ibu berantem terus tiap hari,” abangku nyeletuk. “Kamu! Kurang ajar sekali! Diajarin siapa kamu kurang ajar begini?!” jawab ayahku. “Ajaran ayah?” balas abangku tidak peduli. “Sudah Abang, Ayah,” ucap ibu.

Aku bertanya. “Sebenarnya dulu ayah dan ibu menikah untuk apa? Biar akhirnya bisa cerai?”. “Maaf Di, kita udah nggak bisa balik lagi kaya dulu,” ucap ibu. “Iya bu. Diana tau. Cuma tanya saja. Ayah dulu menikahi ibu untuk apa yah?” aku melempar pertanyaan kepada Ayah. “Kamu fokus saja belajar Diana. Tidak usah mencampuri urursan orangt tua. Ayah dan ibu mengumpulkan kalian untuk menanyakan kalian mau ikut siapa. Bukan meminta pendapat kalian atas perceraian ini!” jawab ayah ketus.

Aku terdiam. Suaraku sebagai salah satu anggota keluarga tidak didengar. Kenapa mereka tidak memikirkan perasaan anak mereka? Kenapa memilih memegang ego masing-masing?

Setelah itu orang tua kami bercerai. Sampai saat ini tidak ada yang tahu alasan sebenarnya apa. Bahkan setelah menelusuri berbagai kemungkinan, semua itu  tidak masuk akal. Kenapa mereka memilih cerai sebagai jalan keluar? Karena mereka memang tidak mau mengalah. Tidak mau saling mendengarkan. Maunya hanya didengar.

Oleh sebab itu, aku nyaman hidup sendiri. Pernikahan menjadi momok yang menakutkan bagiku. Tujuanku hidup di dunia ini adalah melakukan yang terbaik untuk kebahagiaan hidupku sendiri. Aku bahkan tidak perlu orang lain untuk masuk dikehidupanku secara intens. Cukup aku sendiri saja tanpa rasa kecewa dari pihak lain.

Penulis: Aufa Taqiyyah, Jurusan Fiqh wa Ushul Jordan University, Yordania.