Ki Dung Senja

  • Whatsapp
kidung senja
Ilustrasi Lelaki Tua
banner 468x60

Cerpen Ki Dung Senja
oleh: Dr. Teguh Sulistyo, M.Pd.*

Urip iku urup
Iki wis wayah surup
Elingo sing gawe urip…

Penggalan alunan kidung Jawa dari seorang lelaki tua di teras rumahnya yang sering ia lakukan saat menjelang magrib.

Dia segera mengambil air wudlu dan bergegas ke surau kecil tidak jauh dari rumahnya. Rutinitas yang dia lakukan bertahun-tahun demi menjadi pemenang garis finish kehidupan, husnul Khotimah yang dia impikan.

Dia bernama asli Dudung, 73 tahun, dengan wajah berhias banyak senyum tanda dia sangat menikmati masa senja yang dia jalani.

Sejak kecil sampai dewasa dia biasa dipanggil Dudung. Lalu dia dipanggil ‘Dung Senja’- akronim dari seniman Jawa karena dia adalah pelaku dan penerus budaya Jawa, tari Topeng khususnya. Kabupaten Malang tepatnya.

Semenjak memiliki cucu pertama, dia lebih suka dipanggil Ki Dung Senja. Menurut murid-murid sanggar, nama itu pas untuknya karena juga merepresentasikan kebiasaannya melantukan kidung-kidung Jawa, khususnya karya Sunan Kalijaga.

Kidung yang berisikan syair petuah kehidupan yang bermakna sangat dalam. Sebenarnya, dia suka kidung senja hanya untuk mengingatkan dirinya sendiri yang sudah senja –  bau tanah.

Dia bersyukur memiliki penerus yang melestarikan tari topeng dan gamelan Jawa.

Dia juga membuat sanggar untuk latihan dan pementasan seni  Jawa bagi anak kecil sampai dewasa yang tinggal di Desa Guyup Rukun dan sekitarnya.

Sebuah pengabdian pada peninggalan leluhurnya. Dia bangga karena merasa sudah ada penerusnya.

Walau dalam hati dia sedih karena tak satupun dari ketiga putranya meneruskan jejaknya. Mereka memilih hidup di tengah gemerlap kota sebagai pengusaha sukses.

Hanya anak angkatnya, Zainudin, yang menjadi pewaris utama seni  Jawa yang sudah dia tekuni hampir sepanjang hidupnya.

Di usia senja, dia sangat menikmati hidup. Baginya, hidup bahagia itu sederhana.

Mendengarkan cantriknya mengaji dan menyaksikan anak-anak memainkan gemulai tari topeng diiringi gamelan merupakan ‘bonus’ kenikmatan hidupnya.

Baginya, urip iku urup. Hidup akan sangat bermakna apabila dapat berguna untuk sekitarnya.

Uang pensiunnya sebagai guru seni di sebuah SMP negeri menjadi penopang hidupnya. Baginya, asal perut sudah terisi agar kuat beraktivias sudah alhamdulillah. Sebagian besar uang pensiun  tersebut digunakan untuk operasional surau dan sanggar. 

Untuk urusan akhiratnya, dia masih tekun membimbing anak-anak mengaji di surau. Cantriknya, yang juga penari topeng dan pemain gamelan penerus budaya Jawa, merupakan anak cucu baginya.

Penerus cita-citanya sebagai insan beragama dan berbudaya. Baginya, agama dan budaya laksana dua sisi uang logam.

Tidak terpisahkan dan saling melengkapi dalam senyawa unsur keimanan, keluwesan hati, dan keindahan.

Sore itu, setelah sanggar sepi, dia menatap lekat-lekat poto yang tergantung di dinding. Poto Ki Dung Senja bersama empat karibnya saat masih SMA sudah terlihat buram.

Diambilnya poto itu dan ditatapnya sahabatnya satu-persatu. Tak terasa air mata menetes perlahan. Jumingan, Daiman, dan Sastro sudah berpulang ke Illahi Robbi.

Hanya tersisa satu sahabat, Ibrahim, yang sukses memiliki pabrik dan sampai sekarang masih sanggup bekerja keras demi kemajuan perusahaannya. Dalam hati dia berdoa untuk sahabat-sahabatnya.

Di sisi lain dia sangat bersyukur masih diberi umur untuk beribadah dan berbuat kebajikan untuk sekitarnya.

Dia sadar bahwa waktu baginya sudah terbilang senja. Bukan seniman Jawa, tapi sudah bau tanah. Orang Jawa bilang wis wayah surup.

Suatu hari, Pak Ibrahim pulang ke desa karena rasa rindu tanah kelahiran. Dia bertemu dengan sahabatnya Ki Dung Senja.

Dia memeluk sahabatnya itu dengan erat, “Dung, Alhamdulillah bisa bertemu lagi. Piye kabarmu? Kliatan seger waras kamu.”

Ki Dung Senja berkaca-kaca dan tersenyum, “Iya… kayak mimpi temu dirimu.”

Mereka lalu bercengkerama. Bersenda gurau menceritakan kabar masing-masing. Sesekali terdengar tawa terkekeh dari dua aki-aki tersebut. Pak Ibrahim dengan bangganya menceritakan betapa jerih payahnya berbuah manis.

Walau belum sekelas konglomerat, dia memiliki satu pabrik dengan seratusan karyawan. Rumah yang cukup mewah dengan tiga mobil kelas menengah atas di garasi rumahnya. Sampai sekarang dia masih bekerja keras dari pagi hingga malam dibantu dua putranya.

Tiba-tiba sopir pak Ibrahim datang dan memberikan ponsel bossnya yang tertinggal, “Maaf Boss Bram, hp boss ketinggalan.” Ki Dung Senja mengernyitkan dahi mendengar nama sahabatnya dipanggil sebagai Big Boss Bram.

Kedengaran keren, tapi terasa aneh di telinga Ki Dung Senja. Dia perhatikan sahabatnya yang ngobrol dengan anak buahnya via telepon.  Kelihatannya ada hal yang sangat serius hingga dia harus kembali ke kota secepatnya.

“Maaf Dung, aku harus balik ke Surabaya besok pagi karena ada meeting penting.” Sesal pak Ibrahim. Dia bercerita lagi bahwa dia hampir-hampir tidak punya waktu luang hanya untuk sekedar memanjakan diri keluar dari rutinitas kerja. Selalu pada siklus kerja dan kerja.

“Dung, aku lihat kamu kok lebih muda dan energik dari saya. Resepnya apa?” tanya pak Ibrahim setelah dia menatap sahabatnya itu dalam-dalam. “Aku sih hidup santai. Kunikmati hidup ini, Him.

Apalagi kita ini sudah wayah surup. Cari bekal untuk hidup ‘kekal’ sesungguhnya. Urip mung mampir ngombe, jare Sunan Kalijaga.” Jawab Ki Dung Senja.

Jawaban itu sungguh mengusik nurani Pak Ibrahim. Selama ini dia hidup hanya untuk menumpuk harta. Harta itu telah memperbudaknya. Membuatnya lupa bahwa hidup di dunia ada batasnya.

Dia lupa untuk belajar dari sekitarnya. Dan Ki Dung Senja hari ini membuka hatinya. Sahabatnya itu lebih memahami hakekat kehidupan.  

Dia pandangi lagi sahabatnya itu. Kelihatan sederhana tapi merasa sangat bahagia dan bersyukur dengan keadaannya. Seharusnya dia juga mulai menata hati dan hidupnya.

Mendekatkan diri pada yang di atas. Dia juga sudah senja dan perlu lebih banyak mendengarkan kidung senja.

Akhirnya, diputuskannya dalam rapat besok pagi akan mengumumkan untuk lengser sebagi big boss karena sudah ada dua pangeran yang siap menggantikannya.

Dia ingin menatap ‘masa depannya’. Masa depan sebagi orang yang sudah wayah surup.

Ki Dung Senja bahagia mendengar rencana sahabatnya tersebut. Dia ingin menikmati wayah surup bersama sahabatnya. Apalagi istrinya sudah mendahuluinya sewaktu mereka umroh lima tahun lalu.

Kedua aki-aki tersebut saling melempar senyum dan bergegas wudlu. Mereka melangkah  ke surau karena sudah menjelang magrib.

Wis wayah surup. Ki Dung Senja nembang kidung Jawa sebagaiman dia lakukan. Tapi kali ini ada sahabatnya di sampingnya. Sahabat masa senja pencari husnul khotimah.

Urip iku urup
Iki wis wayah surup
Elingo sing gawe urip…

*Penulis adalah dosen Universitas PGRI Kanjuruhan Malang, dan anggota Perkumpulan Cendekiawan Bahasa dan Sastra (CEBASTRA)

Cerpen Lain:

Desah TerakhirMisteri Perceraian
Gading yang RetakPak Guru Hilman