Gading yang Retak

  • Whatsapp
Gading yang retak
Ilustrasi Cerpen Gading yang Retak
banner 468x60
Nia Lischynsky
Oleh: Nia Lischynsky*

Melalui Cinta semua yang pahit menjadi manis,
Melalui Cinta semua tembaga akan menjadi emas.
Melalui Cinta segala ampas menjadi anggur paling murni;
Melalui Cinta semua penyakit berubah menjadi obat
Melalui Cinta yang mati menjadi hidup,
Melalui Cinta sang raja kembali menjadi seorang budak!

(Schimmel, 2002)

KAU menggenggam erat tanganku sambil tersenyum dengan hangatnya cinta di matamu.Feri yang kita tumpangi melaju dengan anggunnya di atas sungai Seine, Prancis. Perlahan tapi pasti kapal ini membawa kita menuju jembatan Pont des Invades, atau yang juga terkenal dengan jembatan gembok cinta, merupakan momen yang pas untuk merayakan 25 tahun pernikahan kita.

Berlalunya waktu semakin membuatku mencintaimu, menggembokku dalam cintamu yang selalu memabukkan seperti halnya jembatan Pont des Invades ini. Kau cium punggung tanganku di atas makan malam yang terhidang di meja kita. Feri masih melaju dengan anggun, dari balik matamu kunikmati juga deretan lukisan yang berjajar di sepanjang tepi sungai Seine.Dalam lukisan itu, ada danau biru yang begitu tenang, dikelilingi pepohonan hijau yang rindang, dikitari oleh burung bangau nan putih berkilau sayapnya. Namun ada juga mentari jingga yang membakar, meronta disela gedung-gedung bercakar.Ada saatnya topan bertiup memporak-porandakan kapal yang bersauh. Dan ada rembulan yang begitu lembut membelai malam yang tenang. Seperti halnya lukisan cinta kita yang abadi, terpajang berjejer di kalbu menggambarkan jalinan kasih sayang kita.

Aku begitu bahagia ketika kau memilihku diantara wanita-wanita bule lainnya yang rupawan.Ada 3 mantan pacarmu dari tiga negara yang berbeda sebelum akhirnya kau menjatuhkan pilihanmu padaku.Gadis udik dari desa kecil di sebuah negara berkembang, Indonesia.Sampai sekarang aku kadang tersenyum geli mengingat alasanmu memilihku, “Kau begitu perhatian dan tulus” ucapmu saat kutanya alasanmu meminangku dulu. Pertemuan kita pun begitu sederhana saat itu.Aku mendampingi murid-murid TK ku berlibur di Jogja selama 2 hari ketika kulihat botol minummu terjatuh dan aku refleks memungutnya untukmu.Kesan pertama yang tak terlupakan.Selanjutnya menuju pernikahan.

Kutertegun saat Paramitha, teman sejawatmu di kantor, sudah menanti di depan pintu apartemenmu saat pertama kali aku mengunjungimu di Seattle, Amerika Serikat. Paramitha adalah pengajar Bahasa dan Sastra Indonesia di University of Washington yang juga teman sejawatmu tempat engkau mengabdikan dirimu selama 5 tahun untuk mengajar Linguistics di sana. Sebenarnya gadis yang juga berasal dari Indonesia itu sudah pernah kau singgung dalam ceritamu saat kita masih belum menikah dulu.Dan entah kenapa sebersit rasa cemburu menyeruak dalam dadaku dari pertama kali kau sebut namanya. Mungkin karena aku merasa diapun berasal dari negara yang sama denganku, entahlah. Aku beruasaha menenangkan diriku sendiri dengan meyakini bahwa akulah yang kau pilih meski kau telah mengenal Paramitha lebih dahulu dari pada kau mengenalku.

“Hai Tim, maaf aku tidak memberitahumu dulu kalau aku akan ke sini. Tadi aku ada perlu dengan Ellen, maka sekalian aku mampir ke sini untuk bertanya tentang Moodle, tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat,” kata Paramitha dalam Bahasa Inggris yang sangat fasih sambil melirikku.

“Ia. Istriku baru datang dari Bantul.Perkenalkan ini Amelia, istriku.”

“Paramitha,” ujarnya sambil mengulurkan tangan.Kulihat ada sebersit rasa kecewa dan sedih di matanya.Diapun cepat-cepat pamit dan berlalu meninggalkan kami.

“Apa dia selalu begitu? Datang tanpa janjian denganmu terlebih dahulu?” ujarku memberondongmu dengan pertanyaan, tak peduli bahwa saat itu harusnya aku kagum dengan apartemenmu yang kau tata sedemikian rapi untuk menyambutku.

“Baru kali ini.Dulu kadang kami makan bersama dan kami selalu membuat janji sebelumnya. Mungkin karena dia tadi menemui Ellen, yang apartemennya setingkat di bawah kita, sekalian mampir ke sini,” jawabmu sambil sibuk memasukkan koper-koperku di dalam ruang kerjamu.

“Apa kau suka tempat ini?” tanyamu sambil tersenyum dan memelukku dengan hangat.Aku hanya mengangguk tak bergairah.Dari jendela kulihat hujan yang masih mengguyur dedaunan.Kehadiran Paramitha memudarkan lautan kebahagiaan di hari pertamaku di Seattle.

Setelah tiga hari berkutat dengan penataan barang-barang dan bersih-bersih apartemen, sore itu akhirnya aku bisa membuat sendiri makan malam untuk kami. Beef steak beserta kentang goreng, jus mangga dan tak lupa secangkir kopi asli Indonesia cukup membuat suamiku bahagia.

“Sayang, apa kau sibuk malam ini?” tanyamu sambil menyeruput kopi kesukaanmu.

“Tidak, ada apa?”

“Bagaimana kalau kita nonton film sebelum tidur?”

“Film apa?’

“Bagaimana kalau kita nonton film kesukaanmu, Midsomer’s Murders.”

“Yeyy…oke,” jawabku penuh semangat.

Dengan sigap kubersihkan meja makan dan kuletakkan semua peralatan makan yang kotor dalam dish washer. Sementara Tim menyiapkan laptopnya untuk memutar film kesukaanku.

Aku selalu bahagia saat nonton bersama Tim, suamiku.Kami sering menghabiskan waktu nonton berdua dalam kamar melalui laptopnya.Sesekali kami nonton di Gedung bioskop tapi bagiku nonton di rumah berdua lebih menyenangkan.Tim selalu bertanya jika ada film yang kusuka dan ingin kulihat. Aku tinggal sebut judulnya dan dia akanbrowse di aplikasi streaming film. Meski terkadang aku suka tertidur di tengah jalannya cerita namun Tim tidak pernah marah.

Seperti biasa aku setengah menutup mata saat akan terjadi adegan pembunuhan di film berlatar belakang negara Ratu Elizabeth tersebut. Adegan pembunuhan selalu menegangkan meskipun di film itu adegan pembunuhan tidak ditampilkan dengan vulgar namun tetap saja membuat bulu kuduku bergidik ngeri membayangkannya.Agen Barnaby dan Troy teman sejawatnya sedang menginvestigasi pembunuhan yang telah terjadi ketika kami mendengar suara HP Tim berbunyi.Tim meraih HPnya dan kulihat dia mengernyitkan dahi ketika membaca pesan yang baru saja masuk.

“Dari Paramitha, Sayang,” katanya sambil memandangku.

Harusnya adegan dalam film itu sedang sangat menarik tetapi mendengar nama wanita itu disebut membuyarkan indahnya malam itu bagiku. Aku hanya diam saja menunggu kalimat berikutnya dari Tim.

“Dia akan ke sini besok pagi untuk bertanya tentang Moodle.Dia harus mengajar menggunakan Moodle dua hari lagi dan dia belum begitu paham tentang Moodle,” kata Tim dengan datar.

“Oke,” jawabku pendek.Aku berusaha memahami keadaan Paramitha dan posisi suamiku. Dia hanya membantu Paramitha dan lagipula mereka akan bertemu di apartemen di mana ada aku juga. Selebihnya aku sudah tidak begitu menikmati lagi Midsomer’s murders malam itu.

Hujan masih mengguyur Seattle dalam balutan udara yang begitu dingin ketika kudengar ketukan pintu pagi itu.Aku baru saja membereskan meja makan setelah sarapan dan Tim masih di kamar mandi.Kubuka pintu apartemen dan mempersilahkan Paramitha duduk.

“Tim masih di kamar mandi.Mungkin agak lama.Apa sudah sarapan?” tanyaku berbasa basi.Ingin rasanya kusedot wanita cantik di hadapanku ini dengan penyedot debu yang baru saja kupakai habis shubuh tadi.

“Sudah, terima kasih,” jawabnya dengan senyum mengembang.

Aku terpaksa duduk di sampingnya dan menemaninya sampai Tim keluar kamar mandi.Aroma khas parfum berkelas yang begitu lembut tercium dari tubuhnya.

“Kamu sudah berapa lama di Seattle?” tanyaku sekenanya.

“Sudah 3 tahun.Sejak pertama aku mengajar di sini aku sudah berteman baik dengan Tim.Diasangat baik dan suka membantu. Kadang kami makan berdua di restaurant dan menghabiskan waktu di kantor bersama.”

Aku tidak tahu apa tujuan dia bercerita panjang lebar tentang mereka, dalam hati aku berkata, “siapa yang nanya?”

Aku terdiam karena malas untuk menanggapi.Dia memainkan jemarinya yang lentik, rambutnya yang dicat kecoklat-coklatan ala bule tergerai rapi.Tubuhnya yang semampai terbalut dalam kaos kuning dan rok pendek hitam bermerk ala Paris.Dia begitu stylish dan elegan.Syukurlah akhirnya Tim selesai juga dari kamar mandi.Paramitha langsung berdiri menyapa Tim.

“Tim, aku akan memberikan mahasiswaku kuliah tentang The Buru Quartetnya Pramoedya dua hari lagi.Aku masih bingung dengan Moodle.Tolong dong,” ujarnya dengan nada yang sangat manja.

Gatal rasanya telingaku mendengarnya.Segera kutinggalkan mereka yang tak lama kemudian asyik dengan aplikasi Moodle di ruang tamu.Aku menuju kamar, memasang ear phone dan memutar lagu-lagu favoritku.Mending mendengar suara merdu penyanyi-penyanyi Indonesia dan barat dari pada mendengar ocehan Kakak tua di ruang tamu.

“Hai Sayang,” sapa Tim mengagetkanku. Kepalanya menyembul dari balik pintu kamar.Nampaknya Tim sudah selesai mengajari Moodle dan Paramitha juga sudah pulang.

“Bagaimana Moodlenya?” tanyaku penasaran.Namun rasa penasaran itu hanya di jawab pendek oleh suamiku.

“Good!”

Akhir pekan yang indah Tim mengajakku jalan-jalan ke Seattle Center and Space Needle. Kami begitu menikmati ikon kota Seattle tersebut apalagi saat Tim membawaku ke puncak menara. Aku begitu takut dengan ketinggian namun semua terbayar begitu kami sampai di dek observasi dan melihat pemandangan kota Seattle dari atas menara. Gedung-gedung bertingkat dibangun sebegitu rapi dan megah.Kutenggelam sesaat dalam kekaguman ketika HP Tim berbunyi. Dari Paramitha lagi! Dia seolah menjadi bayangan dalam hubungan kami.Tim memberitahuku bahwa dia mengundang kami makan malam di hari ulang tahunnya.Aku sudah tidak berminat mengunjungi Chihuly Garden and Glass lagi.Kugandeng tangan Tim sambil berkata pelan namun lugas, “Ayo pulang!”

Sesampainya di apartemen aku langsung menumpahkan uneg-unegku selama ini kepada suamiku.

“Kenapa dia selalu mengganggu kita?Kenapa dia selalu ingin menemuimu?Aku tahu kalian sudah berteman sejak lama sebelum kita bertemu.Tapi mestinya kalian sadar bahwa kamu sudah beristri. Aku tidak bermaksud menghalangi pertemanan kalian, namun aku tidak suka dengan cara kalian berteman. I just don’t like it!” berondongku sengit.Kutinggal Tim yang masih melongo di ruang tamu.Aku menghempaskan diriku di atas ranjang dan tidur sampai aku puas.

30 menit menjelang makan malam aku membangunkan diri dari kamar.Jengkel setengah mati ingin rasanya kubiarkan suamiku kelaparan malam itu namun aku teringat pesan kedua orang tuaku di desa.“Layani suamimu dengan baik, patuhi perintahnya, maka dia akan mencintaimu sepenuh hati.”

“Ugh, benarkah?Pesan klasik!” bisik hatiku mengumpat.Aku sudah berusaha namun tetap saja suamiku bikin resek.Dengan berat kulangkahkan juga kakiku ke dapur memanaskan pizza dalam microwave.Tak lupa mengiris beberapa buah dan membuat secangkir kopi untuk Tim.

Biasanya dengan manja aku akan berkata, “Sayang, makan malam sudah siap,” namun kali ini dengan malas aku berkata “Dinner is ready.”

Dia berusaha tersenyum sambil menjawab singkat, “Ya.”

Aku terkejut melihat kedua bola matanya yang memerah dan sembab. Tim menangis! Oh Tuhan, apa yang telah kulakukan pada suamiku? Namun, mengingat Paramitha membuatku sakit hati lagi.Kami makan malam dalam diam. Tidak seperti biasanya, aku bercerita, bertanya tentang apa saja agar tetap bisa mengobrol dengan suamiku yang memang pendiam. Tapi malam itu aku diam saja, antara marah dan merasa bersalah kubiarkan suara rinai hujan di luar yang mengalunkan lagu sendu sore itu.

Tim tidak beranjak dari tempat duduknya beberapa menit setelah kami selesai makan malam. Aku tahu, dia akan berbicara sesuatu. Tim tidak suka membiarkan satu keadaan berlarut-larut.

“Sayang, aku tidak akan datang ke acara ulang tahun Paramitha,” ujarnya lirih namun pasti.

“Kamu yakin?Kalian kan dah lama berteman,” kataku menggoda.

“Iya.Karena aku sadar ini tidak benar.”

Honey, can I ask you one thing?” tanyaku penasaran.

“Iya, silahkan.”

“Kenapa kau memilihku dari pada Paramitha? Dia dosen, dia cantik dan sepertinya dia menyukaimu,” tanyaku benar-benar penasaran.

Tim tersenyum.Dia sepertinya sangat lega mengetahui bahwa aku cemburu.

“Seperti yang kubilang dulu, aku memilihmu karena kau begitu perhatian dan tulus. Banyak wanita yang cantik tapi gaya hidup mereka glamour namun kurang peduli terhadap sesama. Tapi kau adalah wanita yang luar biasa, kau menerimaku apa adanya, kau sangat peduli pada siapapun dan kau juga memperlakukanku begitu baiknya. Aku sangat beruntung memilikimu,” ujar Tim tulus.

Kupeluk dia sambil berusaha menahan butiran air mata yang jatuh di pundaknya. Aku baru sadar, selama ini Tim tidak bisa membantuku dengan pekerjaan rumah karena penyakit pneumonianya yang kronis.Tubuhnya begitu lemah.Namun dia adalah lelaki yang sangat sabar dan telaten menghadapiku yang gampang sekali cemas dan marah.

Dan Tim telah membuktikan kesungguhannya. Selama 25 tahun pernikahan kami dia memperlakukanku bak sang ratu. Ratu dari cintanya yang tulus dan murni. Kita adalah dua gading yang retak, namun justru keretakan itulah tempat cinta kita bersemi dan memahami satu sama lain.

Sentuhan tangan Tim membuyarkan lamunanku.

“Kita sudah sampai, Sayang.Mari kita turun dari kapal. Kau bilang kau ingin membeli salah satu lukisan di pinggir sungai itu kan?” bisikmu lembut.

Aku mengangguk dan tersenyum.Kugenggam erat tangannya menuruni Feri.Malam itu sungai Seine begitu indah. (***)

*Penulis adalah Pengajar Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Gresik, Anggota Perkumpulan Cendekiawan Bahasa dan Sastra (CEBASTRA)