Empat Potong Kisah Pendek

  • Whatsapp
aku dan empat kisah
Ilustrasi
banner 468x60

Empat Potong Kisah Pendek Oleh:
Dono Sunardi*

/1/ Tahun Baru yang Kesepersekian

Ini malam pergantian tahun yang kesekian yang tidak bakal begitu mengesan. Aku tahu itu dari ringkih tubuhku yang kini hanya bisa berbaring di dipan putih.

Mungkin ini mirip pergantian tahun ketika aku kecil dulu, saat emak dan bapak ingin aku cepat dewasa agar aku bisa segera mencari uang sendiri.

Baca Juga

Hanya saja, kini emak dan bapak sudah berbaring di bawah tanah sedangkan aku masih juga menghirup ini udara jahanam.

Tahun baru bagiku hanya mengesan saat aku masih muda, yakni saat aku berumur akhir belasan dan awal dua puluhan.

Saat itu, diri ini pasti bisa dijumpai di pesta-pesta bebakaran, bergerumbul bersama anak-anak muda lain; bercengkerama atau sekadar saling melirik; mendengarkan alunan musik tahun 90-an.

Ini malam pergantian tahun yang kesekian yang tidak bakal begitu mengesan, karena aku baru saja menandatangani surat kematianku. Aku mengizinkan dokter melepas semua alat bantu hidupku.

Esok pagi atau paling lambat lusa, aku sudah tidak akan perlu lagi mengisi rongga paruku yang tinggal secuil karena kanker itu karena aku menyusul emak dan bapakku.

“Tolong, beri aku sebatang rokok,” pintaku pada suster jaga. Suster itu menggeleng tegas-tegas.

“Tolong, Suster. Hidup toh absurd,” pintaku sambil mengejeknya.

“Hanya seperhisapan rokok saja indahnya. Habis itu hanya sepah.” Lalu, kami tertawa bersama.

Halaman Selanjutnya: Paling Benci

Baca Juga: Ki Dung Senja