Sengketa Lahan BMI Dampit Memanas Lagi, Ratusan Karyawan Duduki PN Kepanjen Minta Penundaan Eksekusi

May 22, 2024 - 19:59
Sengketa Lahan BMI Dampit Memanas Lagi, Ratusan Karyawan Duduki PN Kepanjen Minta Penundaan Eksekusi
Karyawan PT BMI Dampit menduduki Pengadilan Negeri Kepanjen

NUSADAILY.COM – MALANG - Sengketa lahan antara PT Bumi Menara Internusa (BMI) Dampit dengan ahli waris, kembali memanas. Rabu (22/5/24) ratusan karyawan PT. BMI Dampit ngeluruk Pengadilan Negeri Kepanjen.

 

Ratusan buruh ini, meminta PN Kepanjen menunda eksekusi lahan yang menjadi sengketa. Alasannya, karena saat ini PT. BMI masih melakukan upaya Peninjauan Kembali (PK), ke Mahkamah Agung. Dan saat ini, prosesnya masih berjalan.

 

"Kalau sampai eksekusi dilakukan oleh PN Kepanjen, maka sebanyak 2.500 karyawan PT. BMI akan kehilangan pekerjaan," ucap Arifin, juru bicara karyawan PT. BMI, disela-sela aksi.

 

Sekadar diketahui, lahan PT. BMI Dampit sedang dalam sengketa dengan orang yang mengaku sebagai ahli waris. Dalam perjalanan sengketa, pihak ahli waris memenangkan gugatan.

 

Kemudian, berdasarkan putusan Mahkamah Agung, meminta Pengadilan Negeri Kepanjen untuk melakukan eksekusi atas lahan yang disengketakan. Tetapi, pihak PT. BMI Dampit masih berupaya melakukan PK.

 

Arifin mengungkapkan, PT. BMI yang ada di lahan seluas 40,300 meter persegi, sudah berdiri sejak tahun 1984. Setelah dibeli oleh Indra Winoto dari Ibu Kasiatun. Sedangkan kasusnya muncul mulai tahun 2021, yang dilakukan oleh ahli waris Sunarwan.

 

Perkara ini sudah menjalani beberapa kali sidang. Mulai dari PN Kepanjen, PN Surabaya hingga MA semuanya sama memenangkan penggugat. Saat ini dari pihak PT. BMI mengajukan PK, dengan nofum baru dan masih berproses.

 

"Makanya kami seluruh karyawan PT. BMI meminta pada PN untuk melakukan penundaan eksekusi atas lahan yang digugat oleh ahli waris," ujarnya.

 

Karena berdasarkan nofum yang dipakai lampiran PK, lanjut Arifin, bahwa Sunarwan itu bukan ahli waris dari Rasmi. Padahal nama Rasmi Rasti itu adalah dua orang sementara dari pengakuan mereka itu satu orang.

 

"Kami tidak tahu siapa itu Sunarwan. Sedangkan yang menggugat adalah buyut dari Sunarwan," imbuh Arifin

 

Pada waktu yang sama Purnawan, juru bicara lain menceritakan kronologis peralihan tanah BMI, dimana saat itu Rasmi sudah mewariskan pada Sunarwan. Lantas oleh Sunarwan dijual pada bu Kasiatun, pada tahun 1984 oleh oleh Kasiatun dijual pada Indra Winoto.

 

Sejak tahun itu lahan BMI sudah legal karena sertifikat SHM. Sedangkan yang dipermasalahkan oleh penggugat seluas 7.000 meter persegi. Memang posisi lahan itu persis berada di tengah pabrik dan saat ini sebagai akses jalan masuk.

 

"Jika sampai dilakukan eksekusi, secara otomatis kendaraan tidak bisa masuk ke pabrik. Maka akan dilakukan penutupan yang berimbas terjadinya PHK," ungkap, Purnawan.

 

Dia juga menambahkan, kalau dilihat dari runtut riwayat tanah, diketahui Ibu Rasmi memiliki 13 anak, informasinya semua sudah mendapatkan semua. Sedangkan lahan yang sekarang menjadi BMI, serta yang disengketakan seluas 7.000 meter persegi. Bagaimana ceritanya semuanya tidak tahu.

 

"Namun secara pasti kami karyawan BMI meminta mulai dari PN hingga MA untuk mendengarkan aspirasi. Jangan dilakukan eksekusi dulu sebelum adanya jawaban atas proses PK yang dilakukan pihak BMI," tegas Purnawan.(ap/wan)