Sudah Pandemi Tertimpa Bencana Lagi

  • Whatsapp
Original Photo by AP.
banner 468x60

Oleh: Awan Abdullah

Kemarin dan esok adalah hari ini,
Bencana dan Keberuntungan … sama saja.
Langit di luar, langit di badan
bersatu dalam jiwa— Rendra

Hari-hari ini, Indonesia sedang menghadapi kemarahan alam. Gempa bumi dan bencana alam datang bertubi-tubi. Di tengah pandemi Covid-19 yang belum berakhir, banjir dan badai menghampiri di sejumlah kawasan di tanah air. Belum lagi gempa bumi mengharu-biru kesadaran kita bersama, ketika pendapat akan pentingnya vaksinasi dan penolakan saling bertubrukan.

Baca Juga

Dalam sepekan ini, bencana diawali dengan jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJY-182, dengan korban meninggal 62 orang penumpang. Kemudian bencana longsor di Sumedang Jawa Barat yang memakan korban jiwa 28 orang.

Dua peristiwa itu belum selesai penanganannya, Mamuju dan Majene, Sulawesi Barat (Sulbar) telah diguncang gempa yang menewaskan 46 orang meninggal dunia. Selanjutnya banjir melanda Kalimantan Selatan. Banjir di Kalimantan Selatan, 27 ribu rumah terendam, 112 ribu jiwa mengungsi

Gunung Merapi di Magelang, Jawa Tengah, dan gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur, erupsi dengan menyemburkan awan panas dan mengeluarkan cairan lava dan hujan abu, pada Minggu 17 Januari 2021 dini hari.

Tanah longsor juga terjadi di Manado, Sulawesi Utara, dan sebuah Pondok Pesantren di Cianjur, Jawa Barat, ambruk saat para santri sedang melaksanakan salat berjamaah. Bencana Alam beruntun ini melengkapi pandemi Covid-19 yang telah berlangsung lebih dari 10 bulan dengan korban jiwa lebih dari 25.000 orang.

Para ahli gempa di Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, menegaskan, bencana yang saat ini sedang melanda Indonesia disebakan oleh berbagai macam fenomena yang terjadi secara bersamaan dimusim hujan. Termasuk Fenomena Lalina, MunsonAsia, dan meruaknya angin dingin.

Sejak bulan Oktober diprediksi akan terjadi fenomena alam yang menegangkan, dipengaruhi oleh beberapa fenomena. Selain Fenomena Lalina juga fenomena MonsunAsia yaitu angin yang bertiup dari arah asia yang membawa hujan di Inonesia. Jadi musim hujan ini juga karena monsunasia dan saat ini sedang mencapai puncaknya sampai febuari.
Bencana terjadi bersamaan dengan fenomena datangnya gelombang atmosfer yang berupa kumpulam awan-awan, yang bergerak dari samudera hindia di zona tropis. Tepatnya dari arah timur Afrika di zona tropis dan bergerak menuju samudra pasifik tetapi melintasi Indonesia saat ini. Semoga memang, periode ini hanya sekitar 2-7 hari dan tidak akan lama. Berbeda dengan Lalina yang bisa 5-6 bulan. Puncaknya pada bulan Januari-Febuari, prakiraan pada April-Mei akan berakhir.

Beberapa fenomena terjadi itu menyebabkan bencana di sejumlah wilayah Indonesia saat ini. Selain itu, lembaga tersebut turut mendeteksi adanya masuknya seruak udara dingin dari daratan tinggi di Asia. Udara dingin masuk mmeyeruak ke wilayah Indonesia di sekitar Sumatera dan tetntunya hal tersebut meningkatkan intensitas pembentukan awan-awan hujan dan menambah intensitas curah hujan. BMKG memprediksi terjadi curah hujan yang terjadi di Januari-Februari bisa mencapai 40-80 persen dari biasanya, akibat fenomena yang berlangsung bersamaan.

Sedang fenomena Lalina terjadi di Indonesia tengah dan Timur, termasuk Kalimantan, Sulawesi lalu ke Maluku dan Papua. Sementara MonsunAsia ke barat ke timur, dan khusus untuk seruak udara dingin masih sekitar sumatera dan bisa berpontensi kearah jawabarat. tetapi saat kami deteksi masih di Sumatera. Di sinilah, masyarakat diimbau untuk waspada terkait tinggi gelombang terutama perairan Samudra Hindia, dan Natuna di arah uatara Pulau Kalimatan.

Perlu deteksi dini kebencanaan. Terhadap rentetan musibah dan bencana alam melanda Indonesia, pakar geologi kebencanaan dari Universitas Hasanuddin Prof Dr Eng Ir Adi Maulana, ST, M.Phil mengingatkan pentingnya edukasi tentang kebencanaan sejak dini. Kita harus mewaspadai tetapi kita tidak boleh takut.

Sudah sepatutnya masyarakat Indonesia bersahabat dengan alam. Permukaan bumi Indonesia banyak patahan lempengan yang bisa menyebabkan gempa dan tsunami setingga 10 meter. Kita hidup di kepulauan Indonesia yang dibentuk oleh tiga interaksi lempeng besar penyusun bumi.

Bencana di Medos, Obesitas Informasi, Kembali pada Keimanan

Banyak orang menyebut, tahun-tahun kita sekarang adalah era post truth (Post-Kebenaran) dengan obesitas informasi yang tinggi. Dalam situasi ini, sebagian masyarakat mengalami kesulitan untuk membedakan akurat tidaknya sebuah informasi.

Kita menyaksikan silang-sengkarut pendapat soal vaksin Covid-19. Vaksinasi sebagai cara menekan laju penyebaran virus Covid-19, setidaknya ada 26 persen masyarakat yang tidak percaya. Meski tergolong sedikit, prosentasi tersebut adalah orang-orang yang vocal dan popular di media sosial. Kekhawatiran kita, hal itu bisa mengagalkan iktiar untuk mengakhiri pandemik.

Prof. Alimatul Qibtiyah dari UGM menyebut, dengan penerimaan masyarakat terhadap vaksin juga erat kaitannya dengan polarisasi politik yang sangat kuat dan mempengaruhi cara berfikir yang penuh kecurigaan. Inilah batu sandungan serius dalam relasi sosial masyarakat.

Selama enam bulan pertama jumlah hoaks Covid-19 sangat tinggi, sangat banyak. Data dari Mafindo, hoaks kesehatan mencapai 519 atau 56 persen dari total 926 hoaks selama enam bulan. Jumlah hoaks kesehatan meningkat dari tahun 2019 yang hanya berjumlah 86 atau 7 persen dari total hoaks dalam setahun yang mencapai 1221. Merebaknya virus Covid-19 seiring sejalan dengan gelombang hoaks kesehatan yang tinggi. Hoak covid pun diboncengi dengan aneka tema seperti agama, politik, dan SARA.

Di sinilah kita mengingatkan pentingnya selalu tabayun (klarifikasi) atas membanjirnya informasi. Pemikiran yang tradisional, budaya yang tak mempedulikan orang lain, dan era Post-Truth menjadi tantangan dalam pengentasan pandemi Covid-19. Kita tahu, sebagian masyarakat masih bersikap acuh dan tak peduli dengan keselamatan orang lain dan semaunya sendiri.

Di masa Post-Truth (setelah kebenaran) sesuatu dipandang benar apabila memenuhi selera kita yang tak cocok dengan kita dianggap salah. Pemahaman Seperti inilah yang bertentangan dengan prinsip ilmu pengetahuan. Padahal ilmu pengetahuan adalah karunia dari Allah.

Maka, media sosial yang kita gunakan berkomunikasi sering kali mengandung elemen-elemen atau konten yang sebenarnya menggambarkan “post-truth society”. Tak ada logika, tak ada kemauan untuk melakukan tabayyun (klarifikasi) sementara Allah Ta’ala mengingatkan kita untuk “menjauhkan diri dari prasangka”.

Di tengah pandemi Covid-19, kita pun mengalami musibah besar dengan wafatnya para ulama panutan umat, pemimpin (informal) di tengah masyarakat. Mereka tak tergantikan. Karena itu, wafatnya para ulama merupakan musibah besar karena dicabutnya ilmu agama di muka bumi. Serupa atap yang bocor, tak bisa ditambal dengan apapun. Akhirnya, atap itu pun akan selalu bocor. Hanya bisa digantikan dengan atap baru. Serupa ulama yang wafat, hanya bisa digantikan dengan kelahiran ulama baru.

Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani dalam kitab Kitab Tanqih Al-Qaul, mengingatkan pesan Nabi Muhammad S.a.w: “Barangsiapa yang tidak sedih dengan kematian ulama maka dia adalah munafik, munafik, munafik”. Sampai tiga kali Nabi mengatakan “munafik”.

Maka, menangislah, karena meninggalnya seorang ulama adalah suatu perkara yang besar di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala. Suatu perkara yang akan mendatangkan konsekuensi bagi kita yang ditinggalkan jika kita ternyata bukan orang-orang yang senantisa mendengar petuah mereka. Menangislah jika kita ternyata selama ini belum ada rasa cinta di hati kita kepada para ulama.

“Jika seorang ulama wafat, maka ada sebuah lubang dalam Islam yang tak dapat ditambal kecuali oleh generasi penerusnya. Demikian Imam Al-Ghazali menukil pesan Sayidina Ali bin Abi Thalib (kitab Ihya Ulumiddin I/15).

Pijakan keimanan menghadapi bencana. Berbeda dengan para pakar kebencanaan yang mendalami ilmu eksakta. Bencana alam yang terjadi di Indonesia secara beruntun jangan dimaknai hanya karena faktor alam semata. Sebagai orang yang berimanan harus memaknainya bahwa kejadian ini adalah peringatan dari Allah. KH Mustofa Bisri, menyatakan pesannya atas kondisi yang kita hadapi bersama ini.

Memang, bermacam-macam orang menyikapi atau melihat becana alam beruntun tersebut. Bila dipandang hanya dari sudut ilmu pengetahuan, tragedi tanah longsor dan banjir diduga akibat kerusakan alam. Selain itu, penggundulan hutan dan patahanya lempengan di dasar laut menyebabkan terjadinya gempa dan tsunami. Ya, demikian sama-sama kita dengar berita di televisi, koran, radio, media online dan celotehan di media sosial kan seperti itu.

Tetapi, Gus Mus — panggilan akrab Pengasuh Pondok Pesantren Raudout Tolibin Rembang Jawa Tengah — mengingatkan kita bahwa bencana sambung menyambung ini sebagai peringatan dari Allah. Ya, kita sedang diperingatkan atau “dijewer” oleh Allah Ta’ala.

Kini, saatnya kita sadar dan introspeksi atau melakukan perenungan mungkin kita lepas kendali, banyak melakukan kesalahan, menjahui Tuhan merasa paling pintar, tidak peduli lagi terhadap sesama dan bertindak sewenang-wenang pada orang yang lemah.

Demikian, wallahu a’lam. (*)

*) Penulis adalah salah satu pengisi tetap Selamat Pagi Nusaku, rubrik khusus berisi tulisan Dewan Redaksi Nusadaily.com.