Senin, September 20, 2021
BerandaSelamat Pagi NusakuProstitusi Artis, Tren Dunia Selebritis

Prostitusi Artis, Tren Dunia Selebritis

Oleh: Awan Abdullah

Seorang lelaki datang di seberang kali.
Ia berseru. “Maria Zaitun, engkaukah itu?”
“Ya,” jawab Maria Zaitun keheranan.
Lelaki itu menyeberang kali.
Ia tegap dan elok wajahnya.
Rambutnya ikal dan matanya lebar.
Maria Zaitun berdebar hatinya.
Ia seperti pernah kenal lelaki itu.
Entah di mana.
Yang terang tidak di ranjang.
Itu sayang. Sebab ia suka lelaki seperti dia.
“Jadi kita ketemu di sini,” kata lelaki itu.
Maria Zaitun tak tahu apa jawabnya.
Sedang sementara ia keheranan
lelaki itu membungkuk mencium mulutnya.
Ia merasa seperti minum air kelapa.

“Nyanyian Angsa”, Puisi WS Rendra dalam bukunya, “Blues Untuk Bonnie” (1971), berkisah tentang Maria Zaitun. Seorang pelacur yang menghadapi maut. Tragis, pada ujung hidupnya: ia pelacur dan pengantin. Mempelai laki-laki, adalah “lelaki datang di seberang kali” itu.

Ungkapan sajak seperti itu terasa kuno. Tak lagi terjadi di era kini, ketika revolusi informasi telah menembus ke ruang-ruang pribadi kita. Di hadapan kita, di tangan kita, di HP yang kita pegang tiap hari. Karena itu, bentuk pelacuran pun tak lagi sebagaimana digambarkan Rendra itu. Meski pun kita tahu, Rendra pernah berseru: Bersatulah pelacur-pelacur kota Jakarta!

Praktik pelacuran tak lagi terjadi di lokalisasi. Kramat Tunggak di Jakarta, tak ada lagi. Kawasan lokalisasi Dolly di Surabaya, tinggal legenda. Tapi, di suatu lokalisasi, tetap tinggal para mucikari yang kini beraktivitas berbeda dengan dulu. Mereka tak lagi menyediakan outlet dengan ruang kaca sebagai etalase, melainkan — seiring dengan revolusi teknologi dan informasi — mereka menggunakan komunikasi onlie. Ya, pelacuran online kini memang marak terjadi.

Memang, yang muncul ke permukaan adalah para artis dan selebiritis. Belum lama ini, kita dengar nama Hana Hanifah jadi pembicaraan setelah dikaitkan dengan prostitusi di Medan. Meski ia berusaha membersihkan nama baiknya dan membuktikan bahwa tuduhan mereka salah, media sosial yang memviralkannya tak bisa dibendung, apalagi dihapus begitu saja.

Fenomena pelacuran di kalangan para artis, bukanlah khas zaman kini. Telah berlangsung lama, jauh sebelum media sosial berkembang marak. Tapi, faktanya, kita tahu, sepanjang tahun 2020, sederet artis dan selebiritis, terseret kasus prostitusi online. Mereka yang diciduk saat tengah “ngamar” di hotel bersama lelaki hidung belang pun menjadi sorotan publik.

Sebagai bagian dari publik, kita kerap penasaran dengan sosok artis yang disebutkan hanya inisialnya itu. Publik pun sering penasaran dengan tarif yang dipatok para artis untuk sekali kencan.

Pada Juli 2020, Hana Hanifah dikonfirmasi sebagai artis FTV berinisial HH ditangkap di Medan karena dugaan prostitusi online. Pihak kepolisian menjelaskan, Hana Hanifah ternyata sudah menerima uang transferan sebesar Rp20 juta sebelum ia terbang ke Medan untuk menemani kliennya. Namu, Kapolrestabes Medan, Kombes Riko Sunarko, tak memberikan lebih rinci uang tersebut hanyalah uang muka atau memang bayaran kencan utuh.

Tak lama setelah Hana Hanifah, Vernita Syabilla ikut terseret kasus dugaan prostitusi online. Ia digerebek saat “ngamar” dengan seorang pengusaha mengaku hanya menemani kliennya makan malam. Namun pihak kepolisan mengatakan, dari pekerjaan itu Vernita menerima bayaran Rp30 juta. Kata Kapolresta Bandar Lampung Kombes Yan Budi Jaya, “Itu transfer Rp 15 juta, tunai Rp 15 juta”.

Ada lagi yang menarik. Artis inisial ST dan selebgram inisial MA terlibat kasus prostitusi online. Keduanya diciduk di sebuah hotel di kawasan Sunter, Jakarta Utara, saat sedang berhubungan seks threesome. Untuk melakukanhubungan tersebut, mereka mematok tarif yang kukup fantastis, Rp110 juta. Dari nilai total itu, diterima ST dan MA telah termasuk bagian untuk dua orang muncikari. ST dan MA menerima Rp60 juta dengan masing-masing Rp30 juta, sementara muncikari ambil bagian Rp50 juta. Sungguh, ini seperti dalam impian dan film-film…

Dalam beberapa hari ini, ada nama Tania Ayu Siregar. Menjelang akhir tahun 2020, nama Tania Ayu Siregar pun terseret kasus dugaan prostitusi online. Perempuan 26 tahun itu, ditangkap petugas Subdit V Siber Ditreskrimsus Polda Jabar di hotel berbintang di Kota Bandung, pada Kamis 17 Desember 2020.Dia mematok harga Rp75 juta untuk sekali kencan.

Begitulah kata Kabid Humas Polda Jawa Barat Kombes Erdi A Chaniago di Mapolda Jabar, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. Polisi kemudian membawa Tania Ayu ke Mapolda Jabar untuk dimintai keterangan sebagai saksi lantaran ada dugaan artis yang juga sebagai model itu terlibat prostitusi online.

Aparat penegak hukum semakin mendapt tantangan dengan persoalan-persoalan prostitusi online. Belum lagi bentuk kejahatan lainnya yang memanfaatkan media sosial dan kecanggihan teknologi terkini.

Di masa lalu, prostitusi terjadi di lokalisasi. Kini, prostitusi tak mengharuskan seseorang tinggal di tengah-tengah perkampungan yang kerap dicibir atau dijauhi orang baik-baik. Segalanya bisa berubah. Prostitusi yang terjadi di kalangan artis dan selebritis, adalah hal yang kerap muncul di atas permukaan. Nah, bagaimana yang berada di bawah permukaan?

Semua patut diwaspadai. Polisi dan petugas negara tak bisa hanya mencermati di kalangan para artis dan selebritis semata. Di kalangan orang-orang biasa, bahkan yang tampak seperti orang baik-baik di masyarakat, bisa jadi dengan mudah telah memasuki “arena bisnis” harga diri, secara online. Masalahnya, mereka belum terdeteksi sehingga publik pun belum mengetahui faktanya secara jelas. Nah, yang begini ini, bukankah juga bagian dari tugas polisi? (*)

*) Penulis adalah salah satu pengisi tetap Selamat Pagi Nusaku, rubrik khusus berisi tulisan Dewan Redaksi Nusadaily.com.

RELATED ARTICLES
- Advertisement -spot_img

popular minggu ini

AnyFlip LightBox Embed Demo

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

berita khusus

Pemkot Malang Alokasikan Dana Cukai Hasil Tembakau untuk Jaminan Kesehatan

NUSADAILY.COM - MALANG - Pemerintah Kota Malang melalui Dinas Kesehatan memanfaatkan Dana Bagi Hasil (DBH) Cukai Hasil Tembakau (CHT) untuk program pemenuhan dan penyediaan...