Kongres HMI Ricuh, Skenario Siapa?

  • Whatsapp
kongres HMI
Ilustrasi kericuhan kongres HMI. (ark/ist)
banner 468x60

Oleh: Awan Abdullah

Raihan Ariatama telah terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dalam Kongres XXXI di Surabaya. Ia terpilih setelah Kongres, 17-25 Maret 2021 melewati kericuhan dalam beberapa hari sebelum berakhir. Kursi rusak dan kaca pecah mewarnai perjalanan menuju kemenangan Raihan.

Kongres Himpunan Indonesia Mahasiswa Islam (HMI) di Surabaya ricuh. Gedung Islamic Centre pun rusak. Sejumlah peserta kongres mengamuk. Akibatnya pintu kaca pecah. Ketua Badan Koordinasi (Badko) HMI Jawa Timur Yogi Pratama tak menolak fakta tersebut.

Baca Juga

Yogi Pratama bahkan menjelaskan, kursi kongres yang semula tersusun rapi juga nampak sudah berantakan. Kursi berhamburan setelah dilemparkan oleh oknum para peserta yang mengamuk.

BACA JUGA: Melihat Kursi Beterbangan di Kongres HMI ke XXXI

Kericuhan tersebut disulut oleh lima orang peserta kongres. Mereka mengamuk lantaran keinginanya tidak bisa dipenuhi oleh mayoritas pemilik suara. Mereka memaksakan kehendak, yang kehendaknya tak bisa diikuti mayoritas pemilik suara di dalam. Sehingga, mereka melakukan tindakan yang brutal dan destruktif itu.

Lima oknum peserta Kongres HMI yang ngamuk tersebut, sejak beberapa hari lalu setelah pembukaan, sengaja menghambat berjalannya kongres. Mereka meminta agar Badan Koordinasi (Badko) HMI dari seluruh Indonesia dihadirkan pada saat itu juga. Dari 20 Badko, sudah ada 12 di Surabaya. Namun, di antara mereka ada yang berhalangan, karena sakit atau keperluan lain, sehingga tidak bisa terpenuhi permintaan itu.

Atas insiden tersebut, memang tak ada peserta kongres yang dikabarkan mengalami luka-luka. Organisasi mahasiswa mengaku bertanggung jawab atas seluruh kerusakan yang terjadi di Gedung Gedung Islamic Center.

BACA JUGA: Kongres HMI Surabaya Ricuh, Kader Ngamuk, Ketum Badko Jatim: Kerusakan Menjadi Tanggung Jawab Kami

Pengunaan Gedung Islamic Center Surabaya, sesungguhnya telah melewati batas waktu pada Senin, 22 Maret 2020. Bahkan, panitia sempat berpikiran untuk memindahkan lokasi Kongres HMI ke Asrama Haji Sukolilo Surabaya. Namun, dengan berbagai pertimbangan hal tersebut urung terjadi. Dan panitia meminta perpanjangan peminjaman kepada pihak pengelola Gedung Islamic Center.

Kongres di Surabaya, sesuai jadwal berlangsung 17-20 Maret 2021. Tapi, toh tidak berlangsung sesuai tepat waktu. Panitia sempat menargetkan, kongres diselesaikan hari Rabu, 24 Maret 2021. Namun, akhirnya Kongres berakhir — termasuk pemilihan Ketua Umum HMI — pada Kamis, 25 Maret 2021.

Tradisi Ricuh di Kongres HMI

Kongres HMI ricuh bukan kali ini saja. Pada Kongres XXIX HMI di Pekanbaru, Riau kacau balau akibat aksi saling serang, pada 4 Desember 2015. Oknum peserta kongres saling serang hingga menghancurkan sejumlah fasilitas di Gelanggang Olah Raga Remaja (GOR), saat peserta tak terima keputusan sidang dengan beberapa poin pembahasan. Akibat tindakan tersebut, peserta saling lempar kursi dan meja akibatnya beberapa orang mengalami luka-luka.

Nah, pada saat digelar Kongres di Surabaya, ricuh pun berulang. Sejauh amatan NusaDaily.com, peserta kongres memang terkesan kurang sigap dalam pertimbangan waktu.

Pembukaannya berlangsung di Gedung Grahadi Surabaya, Presiden Joko Widodo pun menyampaikan sambutannya. Setelah serenomi, di lokasi Islamic Center para peserta lebih banyak terlihat di luar gedung. Adakah suasana pandemi Covid-19 menjadi alasan molornya kegiatan?

Sementara itu, adanya ricuh di lokasi kongres telah diperkirakan sebelumnya. Rombongan datang dari luar Jawa, diperkirakan dari Makassar, yang membikin ulah. Mulai dari memperolok sikap polisi yang dinilai menjadikan suasana tak kondusif (karena seluruh peserta harus sesuai Protokol Kesehatan), hingga aksi mereka mengancam agar Kapolda Jatim diganti.

Sejak awal kongres, mendapat perhatian serius dari sejumlah tokoh. Tak kurang Menkopolhukam M Mahfud MD memberikan harapan. Pada saat yang sama, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menggelar kongresnya di Balikpapan.

Lalu, pertanyaan muncul: Kongres HMI ricuh, skenario siapa? Ataukah mereka sekadar mengaktualisasikan dirinya di tengah masalah bangsa yang selalu gaduh?

Tak mudah menjawabnya. Namun, aksi destruktif bagi generasi muda harapan bangsa, seperti mahasiswa yang tergabung dalam HMI, patut disayangkan. Bukankah selama ini, HMI telah melahirkan kader-kader bangsa dengan semangat intelektualisme yang menonjol.

Tradisi Intelektual HMI Alami Kemunduran

Sejumlah tokoh bangsa Indonesia, berproses melalui pelbagai macam dinamika kehidupan sosial melalui HMI. Kelahiran dan eksistensi organisasi yang dilahirkan Lafran Pane ini, dalam sejarah kemahasiswaan di Indonesia, adalah bidang intelektualisme Islam. Deliar Noer, Nurcholish Madjid, Ahmad Wahib, dan Dawam Rahardjo ialah nama-nama yang pernah dibesarkan oleh HMI.

Organisasi mahasiswa ini telah menorehkan nama besar. Karena ketekunannya dalam melakukan kaderisasi bidang intelektual. Berhasil menampilkan diri sebagai organisasi mahasiswa yang berani melakukan terobosan intelektual dengan pemikiran alternatif yang mampu mencairkan kebekuan pemikiran Islam pada masa Orde Lama maupun pada awal Orde Baru.

Nurcholis Madjid, seorang di antara tokoh yang lahir dari HMI, berhasil menerobos pemikiran Masyumi, dengan mengeluarkan gagasan fenomenal ‘Islam Yes, Partai Islam No’. Ketika itu, tentu sebagai lontaran gagasan yang berani dan tak banyak yang setuju. Namun, pengaruh dari gagasan tokoh kelahiran Jombang ini, banyak partai dan ormas melakukan reorientasi.

Perjalanan sejarah adalah pelajaran yang bisa menjadi pelajaran dalam menatap masa depan. Betapa pun HMI pernah mewarnai khazanah pemikiran intelektual di negeri ini. Sayangnya, dalam tiga dekade terakhir, tradisi intelektual itu telah meredup.

BACA JUGA: Suasana Kongres HMI XXXI Surabaya, Ramai di Luar dan Dalam Arena

Tentu kita berharap, dengan kepemimpinan HMI yang baru, kita segera bisa mendapat indikator fajarnya tradisi HMI secara intelektual. Semoga tradisi intelektual HMI tak sekadar menjadi butiran sejarah semata tapi juga kader-kadernya mampu mengambil bagian penting dalam perjalanan bangsa dan negara.

Kepemimpinan dan Keteladanan. Kehadiran seorang pemimpin dalam suatu organisasi ditandai dengan keteladanan. Keteladanan merupakan salah satu kunci untuk membangun iklim kerjasama yang positif, untuk mencapai cita-cita bersama.

Kepemimpinan yang utama adalah menghadirkan keteladanan kepada jajarannya. Seorang pemimpin dalam mengimplementasikan keteladananan, harus memberi contoh bagi jajarannya. Lebih peduli dan perhatian terhadap lingkungan organisasi atau kerjanya. Serta mampu mengayomi semua orang disekelilingnya.

Sehingga, tercipta kenyamanan dan kerakraban. Kalau itu sudah terbangun hal itu, mesin organisasi akan bekerja dan berjalan sesuai rel dan roda organisasi.

Menjadi Jembatan, HMI Penghubung Rakyat dan Kuasa

Meski telah menorehkan catatan tak sedap, HMI kini harus menatap masa depan. Di tengah problematika bangsa dan negaranya, dan masa-masa pandemi Covid-19 yang belum berakhir.

Setelah berada di pucuk pimpinan HMI, Raihan Ariatama patut mengambil posisi yang terbaik dalam periode kepengurusannya. Ia tak mau dipandang terlalu dekat dengan istana, maupun dipandang sebagai oposisi dari istana. Ia berusaha membawa HMI berada di tengah-tengah: sebgai jembatan. Jembatan istana kepada masyarakat, jembatan masyarakat pada istana pemerintah.

BACA JUGA: Kongres XXXI Usai, PB HMI Minta Maaf ke Gubernur Khofifah dan Rakyat Jatim

“Kami ingin menjadi penghubung, menjadi lidah rakyat untuk menyelesaikan persoalan-persoalan sosial yang ada di masyarakat. Baik di bidang pendidikan, sosial kesejahteraan, dan lainnya,” kata Raihan.

Organisasi besar seperti HMI, perlu menjadi wadah kontrol sosial kebijakan pemerintah maupun sebagai salah satu tempat sosialisasi kebijakan pemerintah yang pro-rakyat kepada warga di bawah.

Dalam catatan, Raihan termasuk figur yang dekat dengan Istana. Tokoh KAHMI, Mohammad Mahfud MD adalah Menkopolhukam. Ia pun dekat dengan Praktikno. Ia pun mengaku dekat dengan sejumlah tokoh dalam Kabinet Presiden Joko Widodo. Meski begitu, HMI akan tetap memosisikan diri sebagai organisasi mahasiswa yang kritis, sebagai organisasi mahasiswa yang menyuarakan suara-suara rakyat yang merasa kebijakan pemerintah tidak pro dengan mereka. Ketika ada kebijakan yang baik untuk rakyat, HMI pun turun tangan untuk memberi solusi bagaimana sosialisasi yang baik kepada rakyat.

Akhirul kalam

Kepemimpinan menjadi faktor utama penggerak organisasi. Selain itu, dasar yang penting lagi dalam suatu organisasi adalah kebersamaan. Saling merangkul dan membutuhkan, sebagai bagian dari sebuah sistem.

Karena, semua SDM yang duduk dalam struktur jajaran organisasi, memiliki tugas dan fungsi yang saling menguatkan dan menghidupkan organisasi. Semua orang punya peran berbeda, dari ketua, wakil ketua, sekretaris hingga anggota, tapi tujuannya untuk mencapai tujuan yang sama dalam berorganisasi.

Dalam ilmu organisasi, kebersamaan itu penting. Memang, hal itu gampang diucapkan tapi sulit dilaksanakan. Maka koordinasi dalam tubuh organisasi merupakan keharusan. Untuk berkomitmen bersama menjaga kebersamaan.

Demikianlah, kita menaruh harapan pada kader-kader bangsa, khususnya pada HMI yang melewati kongresnya itu. (*)