KLB Demokrat, Genosida Politik Kubu SBY

  • Whatsapp
politik demokrat
Ilustrasi: ARK
banner 468x60

Oleh: Awan Abdullah

Kekuasaan adalah kemuliaan. Dalam kekuasaan ada taktik, cara untuk meraihnya: politik. Untuk meraih kemuliaan harus ditempuh lewat politik. Benarkah demikian?

Memang, politik tak selamanya harus diartikan sebagai “upaya untuk merebut kekuasaan” (politic is the struggle for power), sebagaimana definisi politik menurut pandangan Barat. Namun, ada definisi politik yang lebih manusiawi dalam khazanah peradaban Islam: “politik adalah setiap ikhtiar manusia untuk mendatangkan kemaslahatan bagi umat manusia”.

Baca Juga

BACA JUGA: Seruan ‘Perang’ SBY Usai KLB

Mari kita perhatian fakta dalam panggung politik kita kali ini. Di masa-masa pandemi Covid-19, ketika pertemuan banyak orang harus ditabukan, ketika pertemuan via virtual (daring) menjadi tren yang harus dilakukan.

Jenderal (Purn) Moeldoko ditetapkan sebagai ketua umum Partai Demokrat periode 2021-2025 versi Kongres Luar Biasa Sumatera Utara, Jumat 5 Maret 2021.

Jhonny Allen, pimpinan sidang KLB — meski Moeldoko tidak hadir di ruang sidang. Moeldoko pun yang juga Kepala Staf Kepresidenan (KSP) ini sempat menanyakan apakah KLB berjalan sesuai AD/ART dan keseriusan sejumlah kader Demokrat versi KLB yang memilihnya sebagai ketua umum.

“Saya ingin tahu keseriusan kalian memilih saya di Demokrat serius apa tidak?” kata Moeldoko lagi. Spontan pertanyaan itu langsung dijawab peserta KLB dengan menyatakan serius. Moeldoko akhirnya terpilih secara aklamasi. Mengalahkan Marzuki Alie yang menghadiri KLB Demokrat secara langsung dan diusulkan oleh para kader dalam sidang sebagai ketua umum.

Lalu Moeldoko pun tiba di lokasi perhelatan itu pada malam hari. Kader menyambut kehadiran ketua umum mereka dengan memberikan jaket Partai Demokrat berwarna biru. Moeldoko mengenakan jaket kebesaran partai itu kemudian mengepalkan tangan.