Gisel dan Anak Pinak Pornografi

  • Whatsapp
Ilustrasi
banner 468x60

Oleh: Gatot Susanto

Polda Metro Jaya memeriksa artis Gisella Anastasia alias Gisel sebagai tersangka dalam kasus video syur pada Senin 4 Januari 2021 hari ini. Selain Gisel, Polda Metro juga memeriksa pemeran pria dalam video itu, yakni Michael Yukinobu Defretes atau Nobu.

Penyidik menggali keterangan dari keduanya berkaitan pasal yang telah dipersangkakan yakni Pasal 8 dan Pasal 4 UU Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi. Pasal 4 juncto Pasal 29. Pasal 8 juncto Pasal 34. Lalu Pasal 27 UU ITE juncto Pasal 45. Pelaku pornografi bisa pula dijerat pasal dalam KUHP dan UU ITE.

Baca Juga

Ada setidaknya dua alasan kasus ini harus menjadi perhatian kita bersama. Pertama, tentu saja, kasus hukum. Penetapan tersangka terhadap Gisel dan Nobu menunjukkan penegakan hukum atas UU Pornografi harus dilakukan dengan benar. Pasalnya, kasus-kasus pornografi dampaknya sangat besar di masyarakat.

Pornografi adalah pemicu kejahatan-kajahatan lain yang mengakibatkan kerugian sangat besar bagi masyarakat yang menjadi korbannya. Pornografi adalah ibu yang melahirkan kejahatan lain.

Pornografi memicu tumbuh menjamurnya kejahatan seksual, mulai pemerkosaan hingga perdagangan perempuan dan anak-anak. Human trafficking dan pornografi juga telah dikapitalisasi sehingga menjadi industri kejahatan yang dampaknya sangat besar dan sulit ditanggulangi karena melibatkan mafia, kekuasaan, dan uang.

Karena itu, pornografi bukan kasus biasa, tapi merupakan kejahatan luar biasa, yang mestinya masuk extra ordinary crime. Hal itu mengingat luasnya dampak dai kejahatan di sektor ini. Belum lagi dampak sosial psikologi para korbannya yang sebagian besar anak anak dan remaja yang menjadi tulang punggung masa depan bangsa dan negara.

Karena itu, penyidik harus detail menangani kasus ini mengingat banyak kasus pelakunya dihukum ringan sehingga tidak ada efek jera. Salah satunya ada kemungkinan pelaku bisa lolos lewat celah yang ada dalam Penjelasan Pasal 4 ayat (1) UU Pornografi yang disebutkan bahwa yang dimaksud dengan “membuat” (video porno) adalah tidak termasuk untuk dirinya sendiri dan kepentingan sendiri.

Dalam kasus-kasus pornografi yang melibatkan artis, seringkali alasannya untuk kepentingan pribadi. Termasuk dalam kasus video porno Gisel dan Nobu. Kepada polisi, Gisel berdalih bikin video seks itu untuk keperluan dirinya sendiri. Namun mengapa Gisel juga mengirimkan video itu kepada Nobu?

Namun, harus diingat pula, bahwa pada kasus Gisel ada unsur kelalaian dari Gisel yang membuat video pornonya tersebar hingga jadi konsumsi publik. Faktor ini yang membuat Gisel sulit mengelak dari jerat hukum.

Apalagi Gisel sendiri bukan hanya sebagai pemain dalam video itu tapi juga sebagai pihak yang sengaja merekamnya meski tujuan utamanya masih dalam penyidikan memdalam dari aparat kepolisian. Membuat video seks jelas harus dilakukan ekstra hati-hati terutama saat menyimpannya, sehingga bila terjadi kebocoran, pemilik konten haram itu harus mempertanggungjawabkannya mengingat masyarakat terkena limbahnya yang sangat berbahaya. Pornografi tak ubahnya limbah B3, alias bahan berbahaya dan beracun.

Yang juga harus diperhatikan adalah Gisel merupakan seorang artis. Dia public figur. Bahkan bisa jadi idola bagi sebagian remaja. Karena itu, hal ini mestinya menjadi perhatian aparat hukum untuk memberi warning kepada public figur agar tidak sembrono dalam berperilaku di masyarakat sebab apa yang mereka lakukan bisa ditiru orang lain, khususnya para penggemarnya.

Faktor lain adalah industri pornografi.
Selain menggali terkait pembuatan video syur kepada Gisel dan Nobu, polisi juga masih mendalami perihal penyebar pertama video tersebut. Polda Metro Jaya sejauh ini baru menetapkan seorang berinisial PP dan MN sebagai tersangka penyebar masif video seks tersebut.

Industri pornografi menjanjikan keuntungan sangat besar. Video Gisel misalnya langsung menyebar yang sebagian di antaranya dilakukan dengan motif uang.

Media sosial penuh dengan aktivitas penawaran menonton video 19 detik dengan cara membayar. Bahkan konon ada edisi lebih panjangnya. Industri pornografi sulit dikendalikan sebab industri ini mengakali akal sehat masyarakat dengan imajinasi yang liar.

Dalam sisi lain, ada juga kasus-kasus pornografi yang kemungkinan orang merekam adegan syur untuk mencari perhatian dengan menyebarkan adegan intimnya agar menjadi konsumsi publik, dibicarakan, dan berharap terkenal dengan cara itu. Media sosial pelaku dibanjiri followers hingga lagi-lagi bisa dimanfaatkan untuk mencari uang.

Uang dan kekuasaan pada industri pornografi ini sangat berbahaya sebab bisa beranakpinak kejahatan lain.

Kedua, pornografi melemahkan moral masyarakat. Saat masyarakat berusaha mengembalikan akhlak, moral, hingga budi pekerti, pornografi secara otomatis mengeliminasi semua proses itu.

Lihat saja anak-anak muda sekarang tidak malu melakukan aktivitas berbau seksual di tempat umum. Anak-anak dan remaja tampil berbuat asusila di depan kamera, bahkan sebagian dilakukan secara live di media sosial. Misalnya pada aplikasi semacam Tik Tok.

Maka, menjadi tugas kita bersama untuk mencegah agar virus pornografi tidak menjalar ke mana-mana. Caranya, sama dengan mencegah penyebaran Covid-19 dengan melakukan 3 M. Yakni mencuci otak kita dari pikiran mesum, memakai akal sehat, dan menjaga jarak dari perbuatan zina. (*)

*) Penulis adalah salah satu pengisi tetap Selamat Pagi Nusaku, rubrik khusus berisi tulisan Dewan Redaksi Nusadaily.com.