Benarkah Ada Kekosongan Kepemimpinan Islam?

  • Whatsapp
Ilustrasi
banner 468x60

Oleh: Awan Abdullah

Pernyataan Jusuf Kalla tentang kekosongan kepemimpinan Islam menjadikan banyak kalangan berpikir sejenak. Benarkah ada kekosongan kepemimpinan Islam? Dari sudut pandang mana terjadi kekosongan?

Jusuf Kalla, politikus yang dikenal luas juga sebagai saudagar terkemuka, memang terkesan memberi masukan partai politik berbasis Islam. JK ‘kekosongan pemimpin yang bisa menyerap aspirasi secara luas’ sebagai penyebab di balik meluasnya dukungan untuk pemimpin Front Pembela Islam (FPI) Muhammad Rizieq Syihab.

Baca Juga

Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staqut memberikan respon menarik. Sorotan Gus Yahya langsung menohok ke jantung persoalan: Justru sebaliknya. Ada tokoh yang ingin meraih posisi kepemimpinan sosial-politik dengan mengeksploitasi Islam, menggencarkan agitasi politik identitas atas nama Islam untuk menggalang dukungan dan menyerang pihak mana pun yang dianggap lawan.

Tokoh semacam ini, menurut Gus Yahya, kemudian disokong pula oleh sementara kalangan elit dengan bermacam sumberdaya, termasuk uang dan perlindungan. Pihak-pihak dari kalangan elit tersebut sebenarnya tidak punya motivasi untuk “memperjuangkan kepentingan Islam”, bahkan tidak perduli sama sekali. Mereka hanya ikut menangguk keuntungan dari agitasi yang mengeksploitasi Islam itu dalam berbagai cara. Misalnya, karena yang diserang adalah lawan yang sama.

Umat Islam yang terseret dalam arus eksploitasi agama itu adalah korban seruan-seruan palsu. Memang, mereka punya keluhan-keluhan yang legitimate menyangkut nasib ekonomi, sosial dan politik. Misalnya, menyangkut ketimpangan ekonomi, hegemoni politik elit, korupsi, dan sebagainya. Tapi membungkus tuntutan-tuntutan ekonomi dan politik dalam absolutisme identitas agama adalah penyesatan.

Gus Yahya, Karena jelas, kata Gus Yahya, masalah yang ada bukan masalah identitas agama. Permainan politik semacam ini berbahaya bagi negara. Menimbulkan keresahan yang berpotensi meluas. Mengerdilkan kecerdasan politik masyarakat. Mempermainkan agama untuk kepentingan duniawi.

Memang, kita memahami, Jusuf Kalla tidak lagi menduduki jabatan, baik di pemerintah maupun di partai politik. Namun, pengaruhnya dalam kancah dunia perpolitikan tanah air masih kuat terasa dan tidak bisa dianggap enteng. Atas dasar itu, peran ketokohan JK bisa menjadi penyokong utama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Pilpres 2024.

Jusuf Kalla sudah malang melintang sebagai politisi di Tanah Air. Mulai dari menjadi Ketua Umum Partai Golkar hingga dua kali menjabat sebagai wakil presiden. JK pun merupakan pebisnis sukses. Sehingga jika dia memberi sokongan ke Anies, tentu akan sangat menguntungkan untuk Anies terutama pada pesta demokrasi itu. Di sinilah kita menunggu Anies Baswedan membuktikan dulu popularitas dan elektabilitasnya sebagai capres.

Terlepas dari perbedaan pendapat di antara respon soal “ada kekosongan kepemimpinan Islam”, tentu mengharuskan kita untuk berefleksi diri. Betapa pun pedasnya, hal itu sebagai kritik konstruktif.

Kenyataannya, partai-partai politik, khususnya berbasis umat Islam, tidak aspiratif. Masyarakat kemudian mencari alternatif, memang benar. Tapi, hal itu tidak semata-mata bisa ditujukan pada satu figur, apalagi yang telah “menghilang” selama tiga setengah tahun untuk “bersembunyi” di Arab Saudi.

Bila umat Islam menggebu-gebu untuk hadir dalam suatu forum, sebenarnya mereka mengharapkan figur yang mau mendengar dan bisa memberikan ketenangan dalam jiwa mereka. Habib Luthfi bin Yahya, termasuk yang mempunyai daya tarik dalam memelihara akhlak masyarakat dan umat Islam khususnya.

Kuncinya, memang pada tokoh yang mampu menyerap aspirasi masyarakat secara luas. Para tokoh Islam, atau pun bukan, bila memosisikan diri sebagai wakil rakyat, yang bisa menjawabnya. Tentu tidak berarti dengan bicara secara diskursif, melainkan dengan tindakan dan mengawal kebijakan secara nyata.

Memang, soal kekosongan kepemimpinan Islam yang mampu menampung aspirasi umat dan masyarakat secara aspiratif menjadi renungan bersama. Ya, aspirasi masyarakat membutuhkan sikap pembelaan yang jelas. Nah, bila membela rakyat secara umum, bukankah karena kondisi pandemi Covid-19 yang semestinya mengutamakan keselamatan terlebih dulu. Yakni, kepedulian kita untuk mengingatkan bersama-sama menjaga protokol kesehatan. Ini parameter paling mudah. Sehingga, para pemimpin umat Islam saat ini lebih banyak menyikapi kondisi dengan menahan diri: tidak mudah berteriak, tapi bersikap hati-hati melihat kondisi. Dan itu tak berarti para tokoh itu diam. (*)

*) Penulis adalah, salah satu pengisi tetap Selamat Pagi Nusaku, rubrik khusus berisi tulisan Dewan Redaksi Nusadaily.com.

Post Terkait

banner 468x60