Rupiah Makin ‘Letoy’ ke Rp15.631, Dipicu Kebijakan BI yang Kurang Agresif

Mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau melemah. Tercatat won Korea Selatan melemah 0,6 persen, ringgit Malaysia minus 0,2 persen, yuan China minus 0,45 persen, dan yen Jepang minus 0,21 persen.

NUSADAILY.COM – JAKARTA - Nilai tukar rupiah bertengger di posisi Rp15.631 per dolar AS pada Jumat (21/10) sore.

Mata uang anak bangsa ini melemah 6 poin atau minus 0,39 persen dari perdagangan sebelumnya.

Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah menguat ke posisi Rp15.610 per dolar AS pada perdagangan hari ini.

Mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau melemah. Tercatat won Korea Selatan melemah 0,6 persen, ringgit Malaysia minus 0,2 persen, yuan China minus 0,45 persen, dan yen Jepang minus 0,21 persen.

Lalu, dolar Hong Kong dan dolar Singapura masing-masing melemah 0,01 persen dan 0,17 persen. Sedangkan, peso Filipina menguat 0,01 persen.

Mayoritas mata uang negara maju juga melemah. Dolar Australia melemah 0,11 persen, dolar Kanada minus 0,17 persen, franc Swiss minus 0,17 persen, dan poundsterling Inggris minus 0,45 persen.

Sementara itu, Euro Eropa menguat 0,05 persen dan rubel Rusia menguat 0,14 persen.

Senior Analis DCFX Lukman Leong mengatakan rupiah melemah imbas dolar AS yang kembali menguat dengan imbal hasil obligasi AS melewati 4,2 persen, tertinggi sejak 2008

"Sedangkan sentimen dari domestik masih tetap suram oleh kekhawatiran inflasi dan sikap BI yang kurang agresif," imbuhnya kepada CNNIndonesia.com.

Sepekan ke depan, sambungnya, dolar akan terus di atas angin menjelang rilis data PDB kuartal III AS dan data inflasi PCE.(han)