Riuhkan Hutan, Taman Safari II Jatim-PCBA Lepasliarkan Puluhan Burung Jalak Suren Jawa

Ancaman yang dihadapi Jalak Suren dalam bertahan hidup adalah penurunan kualitas habitat tempat mereka tinggal, penyempitan areal penyebaran karena eksploitasi/penebangan, konversi untuk lahan pertanian, perkebunan dan pemukiman maupun kebakaran hutan. Ancaman paling serius adalah perburuan liar dan menjadikan burung ini sebagai peliharaan di rumah.

NUSADAILY.COM - PASURUAN - Taman Safari Indonesia II Jatim bersama dengan Prigen Conservation Breeding Ark (PCBA) melepasliarkan puluhan burung jenis Jalak Suren Jawa (Gracupica jalla). Kegiatan ini bertujuan membiarkan burung terbang bebas dan menjalankan fungsinya di alam sebagai penjaga keseimbangan ekosistem lingkungan.

Direktur Utama Taman Safari Indonesia II Jatim, Tony Sumampau mengatakan ada total 40 ekor Jalak Suren yang dilepasliarkan di area Taman Safari. Kegiatan ini dilakukan bertepatan dengan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) yang diperingati setiap 5 November serta ulang tahun dari Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia (PKBSI).

BACA JUGA: Duh! 5 Singa Afrika Kabur dari Kebun Binatang Taronga Australia

“Dengan kegiatan pelepasliaran ini, kita akan tetap menikmati kicaunya burung yang riang maupun keindahan bulunya. Riuhkan hutan dengan kicauan burung. Upaya penangkaran yang dilakukan oleh kami sampai saat ini masih dilakukan agar Jalak Suren tidak punah,” kata Tony usai pelepasliaran Jalak Suren.

Menurutnya, ancaman yang dihadapi Jalak Suren dalam bertahan hidup adalah penurunan kualitas habitat tempat mereka tinggal, penyempitan areal penyebaran karena eksploitasi/penebangan, konversi untuk lahan pertanian, perkebunan dan pemukiman maupun kebakaran hutan. Ancaman paling serius adalah  perburuan liar dan menjadikan burung ini sebagai peliharaan di rumah.

“Jalak suren kini menjadi tawanan di rumahnya sendiri. Burung ini pernah hidup dan kumpul di pepohonan yang aman, setelah berburu larva serangga. Namun, hari ini, Jalak suren sudah tidak ada di alam liar, mereka dikurung di pasar dan rumah-rumah,” tuturnya.

Penangkaran dan pengenalan kembali mungkin tidak hanya menyelamatkan Jalak Suren dari kepunahan, tetapi juga dapat memulihkan fungsi ekologis yang berharga bagi ekosistem lokal. Berdasarkan catatan, jalak merupakan agen pengendalian hama yang efektif.

"Proses penangkaran, pelepasliaran, dan monitoring kualitas habitat serta perilaku burung di alam liar sangat menentukan keberhasilan satwa tersebut bertahan hidup secara berkelanjutan," tandas Tony Sumampau.

BACA JUGA: 104 Fotografer Meriahkan International Animal Photo Competition di Taman Safari Indonesia II Jatim

Untuk mendukung kehidupan satwa liar diperlukan satu kesatuan kawasan yang dapat menjamin segala keperluan hidupnya baik makanan, air, udara bersih, garam mineral, tempat berlindung, berkembang biak dan peran serta masyarakat.

Jalak Suren Jawa (Gracupica jalla) adalah burung berkicau yang status konservasinya Terancam Punah Kritis (CR). Jalak ini memiliki warna bulu hitam dan putih dengan warna paruh putih gading dan kulit di sekitar mata yang berwarna oranye.

Burung ini dulunya banyak ditemukan di Pulau Jawa dan Bali serta bagian selatan Pulau Sumatra. Namun, sekarang Jalak Suren Jawa sudah diperkirakan punah di alam liar akibat perburuan dan penggunaan pestisida dalam pertanian.

Burung ini sekarang hanya dapat ditemukan di dalam penangkaran. Hanya di Taman Safari II Jatim, Jalak Suren yang murni secara genetik dikembangbiakkan untuk keperluan konservasi. (oni/lna)