Riuh Gerakan All Eyes on Rafah dan Viral di Medsos

Krisis kemanusiaan warga sipil Palestina pun semakin parah karena penutupan Rafah ini. Namun, seolah tak cukup, Israel menyerang kamp pengungsian di Rafah.

May 31, 2024 - 04:25
Riuh Gerakan All Eyes on Rafah dan Viral di Medsos

NUSADAILY.COM – RAFAH – Dalam beberapa waktu terakhir ini, warganet ramai-ramai mengunggah ungkapan "All Eyes on Rafah" di berbagai platform media sosial.

Slogan ini merujuk pada sebuah kota di selatan Jalur Gaza, Palestina, yakni Rafah, yang kini menjadi target utama agresi brutal Israel.

Jika diterjemahkan, All Eyes on Rafah berarti semua mata tertuju pada Rafah.

Rafah adalah kota perbatasan Gaza dan Mesir yang belakangan menjadi target serangan Israel.

Kota ini merupakan rumah bagi lebih dari satu juta warga Palestina yang mengungsi imbas agresi Zionis.

Pada 6 Mei lalu, pasukan militer Israel menyerbu Rafah dan mengambil kendali perbatasan dari sisi Palestina.

Akibat serbuan ini, Mesir menutup perbatasan dari sisinya sehingga tak ada bantuan kemanusiaan yang bisa memasuki Gaza.

Sementara itu, selama agresi brutal Israel ka Gaza berlangsung sejak 7 Oktober lalu, Rafah menjadi satu-satunya "pintu" bagi dunia internasional untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan ke wilayah tersebut.

Rafah juga menjadi tempat pengungsian ratusan ribu warga Palestina yang terpaksa lari dari utara dan tengah Gaza yang dibombardir habis-habisan oleh Israel.

Krisis kemanusiaan warga sipil Palestina pun semakin parah karena penutupan Rafah ini. Namun, seolah tak cukup, Israel menyerang kamp pengungsian di Rafah.

Pada Minggu (26/5), setidaknya 45 warga Palestina yang tak berdosa tewas dan 200 orang luka-luka akibat kebakaran hebat yang disebabkan serangan udara Zionis.

Israel mengklaim serangan itu menargetkan kompleks Hamas. Dua pejabat senior Hamas diklaim tewas dalam serangan tersebut.

Mayoritas negara-negara di dunia mengutuk keras serangan Israel ini. Pasalnya, serangan ini terjadi hanya selang beberapa hari setelah Mahkamah Internasional (International Court of Justice/ICJ) memerintahkan Israel untuk menghentikan operasi militernya di Rafah.

Juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) Daniel Hagari beralasan pihaknya tak menduga bahwa serangan itu akan mengenai kamp pengungsian. Ia lantas menyebut serangan tersebut merupakan sebuah ketidaksengajaan.

Seakan tak gentar dengan kecaman global, pada Selasa (28/5), pasukan Zionis kembali menyerang kamp pengungsian di barat Rafah. Sebanyak 21 warga Palestina pun tewas.

Namun, militer Israel membantah telah melancarkan serangan di kawasan Al-Mawasi ini.

Peristiwa-peristiwa ini pun membuat publik nyaris di seluruh dunia ramai-ramai memberikan dukungan bagi Palestina. Melalui slogan "All Eyes of Rafah", publik mengecam dan menekan Israel agar menyetop serangan brutal ini.

Ungkapan ini sebetulnya sudah beredar di media sosial sejak beberapa waktu terakhir.

Namun, penyebarannya kian intens belakangan menyusul aksi pasukan Zionis di wilayah yang diklaim mereka sebagai zona aman bagi warga sipil.

Dilansir New York Times, pada Rabu (29/5), salah satu versi slogan All Eyes on Rafah telah dibagikan lebih dari 38 juta kali di Instagram.

Menurut New York Times, ungkapan ini kemungkinan dipopulerkan oleh Rik Peeperkorn, yang mengepalai kantor Organisasi Kesehatan Dunia untuk Gaza dan Tepi Barat.

Ia membuat komentar ini pada Februari lalu saat merespons operasi militer Zionis di Gaza selatan.

Komentar itu pun lantas digaungkan oleh kelompok-kelompok pro-Palestina serta organisasi-organisasi kemanusiaan.

Mereka bermaksud mengajak publik memperhatikan kondisi rakyat Palestina di Rafah, yang kini tak punya tempat aman di mana pun mereka berada.(han)