Wali Kota Risma Sujud Pegangi Kaki Dokter, Kenapa Sih ? Ini Penjelasanya…

  • Whatsapp
Wali Kota Surabaya seperti berujud di hadapan anggota IDI. (foto: nusadaily.com)
banner 468x60

NUSADAILY.COM- SURABAYA- Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, mendadak meraih kaki seorang dokter, merunduk seperti sujud. Dia pun diangkat berdiri kembali.

Baca Juga

Saat itu digelar pertemuan audiensi dengan para dokter anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) Jawa Timur di Dapur Umum, Balai Kota Surabaya, Senin 29 Juni 2020.

Wali Kota Risma sempat sujud dua kali di hadapan para dokter ini.

Saat itu, ada salah satu dokter yang bertugas di RSUD dr Soetomo menjelaskan bahwa banyak rumah sakit penuh. Bahkan dikatakan masih banyak warga yang tidak menaati protokol kesehatan.

Dari situlah, Wali Kota Risma pun menjelaskan bahwa sudah berusaha menjalin komunikasi yang baik dengan pihak RSUD dr Soetomo.

RSUD dr Soetomo Dianggap Menolak APD

Namun, saat hendak mengirim bantuan Alat Pelindung Diri (APD), pihak RSUD dr Soetomo menolak.

“Saya tidak bisa bantu ke sana Pak, padahal rumah sakit lain kami bisa,” ujarnya.

Pemkot Surabaya katanya, rutin mengirim bantuan APD ke rumah sakit-rumah sakit di Kota Surabaya. Saat ada bantuan APD dari swasta, Wali Kota Risma mengatur sendiri pembagian APD itu sehingga tidak numpuk di Balai Kota Surabaya.

Tak pandang bulu, semua rumah sakit diberi bantuan oleh Pemkot, namun RSUD dr Soetomo menolak menerima bantuan itu.
Risma mengatakan selama pandemi Covid-19 ini, bersama jajaran Pemkot Surabaya sudah bekerja keras mati-matian menangani pandemi global ini.

Dia tidak ingin ada warga Kota Surabaya ada yang mati karena Covid-19. Namun juga tidak ingin ada warga Kota Pahlawan yang mati karena kelaparan.

“Kami ini sudah bekerja keras, berat. Apa dikira saya rela warga saya mati karena Covid-19 atau mati karena tidak bisa makan Pak ? Semalam saya dan Linmas pukul 03.00 WIB, masih ngurusi warga bukan Surabaya. Warga bukan Surabaya aja kami masih urus, apalagi warga Kota Surabaya,” akunya.

Kata Risma, persoalan kesehatan atau Covid-19 dengan persoalan ekonomi di Kota Surabaya harus berjalan seimbang.

Dan, protokol kesehatan harus selalu diutamakan. Untuk mendisiplinkan warga supaya terus menjaga protokol kesehatan, semua organisasi perangkat daerah (OPD), terutama Satpol PP aktif merazia setiap hari.

Jika menemui warga yang tidak memakai masker, KTP langsung disita. Yang tak bawah KTP langsung diberi sanksi sosial, dihukum joget di pinggir jalan, menyapu jalan dan diminta merawat pasien di Liponsos.

Ada juga keluhan tentang rumah sakit yang penuh karena pasien itu baru dipulangkan setelah melakukan tes swab 2 kali.

Tapi pihak rumah sakit tidak mau memulangkan pasien dalihnya tidak bisa diklaim ke BPJS.

Risma Meminta Pasien Tetap Dipulangkan

Menanggapi keluhan ini, Wali Kota Risma langsung meminta supaya pasien itu tetap dipulangkan.

“Kalau tidak bisa diklaim ke BPJS, klaim ke kami. Sejak awal saya sudah sampaikan itu,” tegasnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya Febria Rachmanita, kepada awak media, memastikan bahwa setiap hari selalu rutin berkoordinasi ke semua RS di Kota Surabaya.

Yang dilakukan adalah keliling untuk memastikan ketersediaan tempat tidur dan jumlah pasien yang sedang dirawat.

“Kenapa harus setiap hari? Karena tidak semua RS entry data pasien, sehingga kami harus mendatangi setiap hari. Yang mana sering tidak entry data dan yang tidak tepat waktu melaporkan pasiennya,” ujar Febria Rachmanita, biasa disapa Feni.

Kata Feni, koordinasi itu terkadang tidak langsung dengan direksi. Tapi plus rekam mediknya, perawat hingga dokter jaganya.

Dia ingin memastikan bahwa tidak benar tuduhan miring tidak adanya koordinasi antara Dinkes dengan pihak rumah sakit. “Kalau tidak koordinasi, pasti kami tidak punya data,” katanya.

Dijelaskan bahwa dia harus tahu tentang data pasien untuk kepentingan tracing setiap hari.

Tracing massif dilakukan maka penularan virus bisa segera dicegah.

“Kami ada data bahwa saat ini ada sebanyak 429 tempat tidur kosong di 50 rumah sakit di Surabaya. Kami tahu karena kami keliling ke rumah sakit itu,” pungkasnya.

Risma Sujud dan Nangis

Sekadar diketahui, Wali Kota Risma nangis-nangis dan sujud saat audiensi bersama IDI Jatim dan IDI Surabaya di Balai Kota. Dia menyebut dirinya goblok dan tak pantas menjadi wali kota.

“Saya gak pantas jadi Wali Kota,” ujar Risma.

Dia beralasan tak bisa berkomunikasi dengan RSU dr Soetomo. Padahal dia sudah membangun komunikasi berkali-kali. Dia berharap warganya yang terkena COVID-19 bisa dirawat di RSU dr Soetomo.

Risma mendengar keluhan ruang isolasi sudah penuh karena banyak pasien yang dirawat.

Ketua Pinere RSU dr Soetomo, dr Sudarsono, mengatakan rumah sakitnya overload pasien COVID-19 karena masih banyak warga tak menerapkan protokol kesehatan.

Dari situlah, Risma mengaku tidak bisa masuk ke RSU dr Soetomo. Pemkot Surabaya tidak bisa masuk untuk berkomunikasi.

“Tolonglah kami jangan disalahkan terus,” ujarnya

Ini Jawaban RSUD dr Soetomo

Di sisi lain, Dr dr Joni Wahyuhadi, Direktur RSUD dr Soetomo, mengatakan pihaknya tidak pernah menutup komunikasi dengan siapapun. Apalagi Pemkot Surabaya.

Soal menolak bantuan APD, dokter Joni mengakui menolak karena percuma membantu RSUD dr Soetomo, soal APD. Sebab APD di RSU dr Soetomo, banyak dan lebih-lebih.

“APD di kami kan sudah aman. Bahkan lebih banyak. Maka saya sarankan dibantu ke RS lainnya saja. Karena RS lain banyak yang membutuhkan. Kebetulan RS dr Soetomo, APD nya sangat mencukupi. Jadi saya tidak menolak begitu. Saya arahkan ke yang membutuhkan saja,” ujar Dr dr Joni Wahyuhadi, yang dikenal kalem ini.(ima/aka)

Post Terkait

banner 468x60