Video Buang Telur ke Sawah, Pitut: Sebagian Besar Saya Sumbangkan

  • Whatsapp
Peternak Ayam
Suparni alias Pitut pengusaha sekaligus peternak asal Desa Kecamatan Ngariboyo Magetan  yang vidionya viral membuang buang telur ayam ke Sawah. (Riyanto/nusadaily.com)
banner 468x60

NUSADAILY.COM – MAGETAN – Suparni alias Pitut pengusaha sekaligus peternak asal Desa Kecamatan Ngariboyo Magetan yang video buang telur ke sawah viral, mengaku kesal dan emosi karena harga pakan ternak pabrikan terus naik sedangkan harga telur terus turun.

Ia juga mengaku telur yang dibuang hanya sisanya saja. Sedangkan sebagian besar telur ia sumbangkan kepada warung gotong-royong untuk meringankan warga terdampak pandemi.

Baca Juga

”Iya, kemarin saya emosi saat membuang telur. Hal itu saya lakukan sebagai bentuk protes kami para peternak terhadap dampak kenaikan pakan pabrikan. sedang harga telur turun diangka Rp17.000 per kilogram,” terangnya kepada nusadaily.com, Senin 25 Januari 2021 siang.

Kenaikan harga pakan ayam saat ini sangat memberatkan bagi dirinya dan peternak lain.

“Coba bayangkan kenaikanya dalam dua bulan ini mencapai Rp. 1.000 per kilogramny,” lanjur Pitut.

“Bulan pertama naik Rp300 per kilogram, kemudian naik lagi Rp200, bulan kedua naik lagi Rp300, selang seminggu naik lagi Rp200 per kilogram,” rincinya.

Jadi total seluruh kenaikan Rp1.000 per kilogram. Sedangkan Satu karung pakan ternak dengan berat 50 kilogram kenaikan mencapai Rp50.000.

Untuk membeli satu karung pakan ternak pabrikan harus mengeluarkan uang sebesar Rp461.000.

Alasan Video Buang Telur ke Sawah

Suparni yang sebelumnya engan ditemui media karena videonya menuai berbagai kontrofersi warganet. Hari ini Senin, 25 Januari 2021 nusadaily.com berhasil menemuai dan mewawancarainya secara langsung.

Berikut wawancara khusus nusadaily.com dengan peternak Magetan yang videonya viral di media sosial. Apa penyebab pasti hingga membuang telur telur tersebut.

”Saya emosi, soal harga pakan pabrikan yang terus alami kenaikan, sampai Rp1.000 per kilogram,” jelasnya.

Lebih lanjut, Pitut mengaku memiliki banyak karyawan, dan tidak ingin di masa sulit seperti ini merumahkan mereka akibat kerugian yang ia alami. Dampak dari pakan pabrikan naik, dan harga telur turun.

“Namun yang jelas, pada video saya kemarin hanya sebagai bentuk protes para peternak. Saya hanya membuang telur sekitar 21 ikat. Sebagian besar sudah saya sumbangkan kepada warga dan warung gotong-royong,” lanjutnya.

BACA JUGA:

Mewakili peternak, Pitut juga meminta maaf telah membuat gaduh media sosial dan berharap harga telur kembali naik di pasaran.

“Paling tidak di atas Rp18 000 perkilogram. Dengan harga di atas itu peternak masih dapat untung, tidak terus merugi dan teraancam gulung tikar,” pungkasnya. (nto/ark)