Tidak Punya Handphone untuk Belajar, Anak Pengamen di Magetan Putus Sekolah

  • Whatsapp
Anak pengamen putus sekolah
Wiji Lestari saat menemani adiknya Aini belajar di rumah
banner 468x60

NUSADAILY.COM – MAGETAN – Anak pengamen di Magetan putus sekolah. Namanya Wiji Lestari 19 tahun, harusnya duduk di sekolah setingkat SMK kelas XII (dua belas). Wiji yang asal Kelurahan asal Kelurahan Lembeyan Kulon, Kecamatan Lembeyan Kabupaten Magetan ini putus sekolah, karena tak punya handphone.

Ya, ia terpaksa berhenti sekolah akibat tidak memiliki handphone untuk pembelajaran jarak jauh.

"
"

Baca Juga

"
"

BACA JUGA: Putus Sekolah, Remaja Dibawah Umur Nekat Jual Sabu

Saat ditemui di rumahnya, Wiji sedang menemani Aini adiknya yang baru berusia 8 tahun belajar. Kepada nusadaily.com, ia mengaku aktivitas ini yang bisa dilakukan saat ini di rumah. Yakni mengasuh adiknya saat kedua orang tua bekerja mengamen.

Ditanya kenapa memilih berhenti sekolah, Wiji terus terang bahwa dirinya tidak memiliki ponsel untuk pembelajaran jarak jauh. Yang diterapkan saat ini akibat COVID-19.

“Pernah minjam punya teman namun lama-lama tidak enak,” katanya.

Pernah meminta kepada orang tua, namun masih dijanjikan nanti bila uangnya sudah terkumpul.

Lama-lama ia tidak tega melihat kedua orang tuanya untuk minta dibelikan ponsel. Karena penghasilan mereka tidak menentu, kadang dapat uang kadang juga tidak.

“Cukup untuk makan saja bagi keluarganya sudah syukur,” ungkapnya.

Wiji Lestari anak sulung pasangan Pangat dengan Tutik ini sebenarnya memiliki bakat menyanyi, yang diwarisi dari orang tuanya. Buktinya sebelum wabah corona seperti saat ini, sering diminta untuk menyanyi di hajatan-hajatan, dari situ mendapat upah untuk memambantu ekonomi orang tua.

Wiji berharap pandemi covid 19 segera berlalu, agar anak sekolah bisa kembali belajar dengan tatap muka seperti semula. Biarlah dirinya yang putus sekolah asal adiknya Ani yang baru duduk di bangku sekolah dasar tetap lanjut.

BACA JUGA: Ning Ita Luncurkan “Pengamen Tangguh”, Lindungi Pekerja Seni di Kota Mojokerto

”Bagi keluarga saya ponsel adalah barang yang mahal, belum untuk membeli kuotanya, keluarganya tambah tidak akan kuat, ” imbuhnya.

Keinginan Wiji dapat kembali sekolah sebenarnya masih ada, namun bila pembelajaran jarak jauh seperti saat ini terus terang keluarganya tidak mampu untuk membeli ponsel dan paket datanya. Wiji bertekad akan membantu meringankan ekonomi kedua orang tuanya setalah tidak sekolah.(nto/cak)

Post Terkait

banner 468x60