Tandusnya Ruang Berkesenian, Elegi Pekerja Seni Kota Batu di Kala Pandemi

  • Whatsapp
Sejumlah pekerja seni di Kota Batu berdialog dengan anggota dewan. (foto: wok/nusadaily.com)
banner 468x60

NUSADAILY.COM -KOTA BATU– Pemkot Batu masih belum bisa memastikan kapan diperbolehkannya pertunjukkan kesenian di masa pandemi Covid-19. Nasib para pekerja seni pun ibarat telur di ujung tanduk karena ruang berkreasi bagi mereka masih membeku.

"
"

Baca Juga

"
"

Jalur kesenian tak hanya menjadi ruang menampilkan pengalaman estetik mereka. Tapi juga sebagai jalur untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka dan keluarganya.

Sejak berbulan-bulan pentas kesenian mati suri yang berarti pula sumber penghidupan mereka semakin tandus.

Para pegiat seni di Kota Batu meluapkan keluh kesahnya dengan mendatangi gedung DPRD Kota Batu (Senin, 10/8). Kedatangan mereka diterima Ketua Komisi B, Hari Danah Wahyono dan Kepala Disparta Kota Batu Arif As Siddiq.

Pegiat seni meminta agar Pemkot Batu segera menerbitkan kebijakan membuka ruang-ruang pertunjukkan dengan tetap berpedoman pada protokol kesehatan. Sehingga segala macam aktivitas kesenian kembali bergulir. Mereka ingin Pemkot Batu segera membuat ketetapan tersebut dan bisa diselesaikan dalam waktu satu hingga dua pekan mendatang.

Jika ketetapan tersebut tidak keluar, mereka mengancam akan melakukan aksi ‘ngamen’ di jalanan Kota Batu demi memenuhi kebutuhan perekonomian. Seorang pelaku seni, Eko Utomo mengatakan, sudah lima bulan ini para pelaku seni betul-betul tidak mendapatkan pemasukan. Kondisi itu memperburuk kondisi perekonomian mereka.

“Ini masalah perut, kami tunggu hingga dua minggu ke depan. Kalau tidak ada, kami akan turun ke jalan untuk ngamen agar bisa makan. Intinya satu, kami butuh makan,” ujar Eko.

Dari 50 pegiat kesenian yang datang ke DPRD Kota Batu, hanya 15 perwakilan saja yang mengikuti dialog di ruang Komisi B. Mereka datang dari berbagai latar belakang aktivitas kesenian, mulai dari pekerja seni pertunjukkan, fotografer, tata rias, musisi hingga penata sound system.

Seniman makin terhimpit

Eko menuturkan, mereka semakin terhimpit secara ekonomi karena tak ada orderan yang mengalir sejak dilarangnya pertunjukkan kesenian selama pandemi. Apalagi sumber penghidupan mereka bergantung pada pentas-pentas pertunjukkan.

“Senilah mata pencaharian kami. Bisanya hanya itu. Kalau perizinan kami bisa urus, kalau dua minggu tidak ada ketetapan, ya kami turun ke jalan,” seru Eko.

Komisi B DPRD Kota Batu Hari Danah Wahyono menyadari kendala yang harus mereka hadapi. Dirinya sepakat dan akan membantu pekerja seni agar kembali bisa mendapatkan panggung mereka di kala pandemi. Bahkan Danah membagikan pengalaman seorang pelaku seni meratapi nasibnya m karena tidak mendapatkan penghasilan selama lima bulan terakhir.

“Tadi ada yang nangis karena tidak bisa berkesenian karena kerjanya ya seni. Kami akan bantu mereka agar bisa bekerja dan perekonomiannya kembali pulih,” ujar Danah.

Hari Danah pun mengupayakan agar dalam waktu dekat bisa keluar ketetapan yang diharapkan para pelaku seni. Ia kembali menegaskan, Komisi B DPRD Batu sangat setuju terhadap aspirasi para pelaku seni.

“Kami, selaku DPRD setuju bagaimana segera diberi solusi kepada teman-teman pelaku seni. Mereka menafkahi keluarga dan diri sendiri dari seni,” terangnya.(wok/aka)

Post Terkait

banner 468x60