Suara Hendy-Gus Firjaun Kuasai 90 Persen Kecamatan di Pilkada Jember

  • Whatsapp
Hendy-Gus Firjaun
Saksi petahana menolak tanda tangan berita acara rekapitulasi suara Pilkada dengan menyerahkan catatan kejadian khusus kepada Ketua KPU Jember, Muhammad Syai'in. (nusadaily.com/ Sutrisno)
banner 468x60

NUSADAILY.COM – JEMBER – Pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Jember Hendy Siswanto – KH Mohamad Balya Firjaun Barlaman (Hendy-Gus Firjaun) resmi menjadi pemenang di Pilkada melalui hasil akhir perhitungan suara.

KPU Jember telah menggelar rekapitulasi suara sejak Rabu, 16 Desember hingga selesai pada Jumat, 18 Desember 2020 dini hari.

Baca Juga

Total sebanyak 1.051.171 suara terhitung sebagai suara sah yang tersalurkan dari pemilih dalam Pilkada Jember tahun 2020.

Hendy – Gus Firjaun mendulang 489.794 suara atau 46,6 persen. Keunggulan suara duet ini terjadi hampir di semua wilayah, yakni menang di 28 kecamatan dari 31 kecamatan yang ada di kota tembakau.

Berikutnya pasangan Faida – Dwi Arya Nugraha Oktavianto (Faida – Vian) yang meraih 328.729 suara atau 31,3 persen. Kendati berstatus sebagai kandidat petahana, namun hanya unggul di 3 kecamatan.

Peringkat terakhir adalah pasangan Abdus Salam – Ifan Ariadna Wijaya dengan perolehan 232.648 suara atau 22,2 persen. Calon berusia sangat muda ini tidak dapat unggul di satupun wilayah kecamatan.

“Rapat pleno terbuka rekapitulasi suara Pilkada Jember tahun 2020 secara resmi kami tutup,” ucap Ketua KPU Jember Muhammad Syai’in mengakhiri acara.

Anwari, dari saksi Hendy-Gus Firjaun merasa lega dengan hasil rekapitulasi suara meskipun berjalan alot dan melelahkan.

“Ini adalah kemenangan rakyat Jember. Kami akan merangkul semuanya untuk kebersamaan. Namun, kami menghormati jika saksi paslon lain bersikap tidak tanda tangan atau menolak dengan menempuh jalur konstitusional, ada Mahkamah Konstitusi. Itu hak mereka, kami hormati jika dilakukan,” tuturnya.

Rico Nurfiansyah Ali, saksi untuk Faida – Vian tampak kecewa dengan proses pemungutan suara dengan sejumlah catatan, meskipun belum secara tegas melakukan gugatan sengketa suara.

“Perbaikan Sirekap setelah pleno kecamatan, tidak dibenarkan. Diduga terjadi cacat hukum prosedural di 1.282 TPS jumlah pemilih lebih dari satu dapat menggunakan suara. Kami tidak akan ikut serta melegalkan pelanggaran dengan tidak menandatangani berita acara,” tukasnya.

Candra Arifianto, saksi Salam – Ifan secara kesatria dapat menerima hasil Pilkada. Namun, yang jadi titik tekan adalah supaya penyelenggara Pemilu memperbaiki kualitas Pilkada.

“Supaya tidak merugikan demokrasi, karena seperti seharusnya amplop surat suara tersegel disediakan KPU, dan saksi kami di sejumlah TPS tidak diberi form C kejadian khusus. Tapi kami menerima rekapitulasi suara,” tegasnya. (sut)