Sentra Olahan Tempe, Desa Beji Bakal Luncurkan Wisata Edukasi Tempe di 2021

  • Whatsapp
Kripik tempe salah satu produk olahan tempe yang diproduksi di Dusun Krajan Sae, Desa Beji
banner 468x60

KOTA BATU – Desa Beji, Kecamatan Junrejo, Kota Batu bisa dibilang sebagai sentra produksi olahan tempe. Di desa ini, produksi olahan tempe dengan mudah ditemukan di tiga dusun, yakni Krajan Sae, Jamberejo, dan Karang Jambe.

Hal ini yang membuat Kades Beji, Deni Cahyono menginisiasi tiga dusun tersebut menjadi destinasi wisata. Seperti di Karang Jambe yang akan dijadikan wisata edukasi tempe. Sedangkan wisata produksi olahan tempe bisa ditemui di Krajan Sae.

Baca Juga

BACA JUGA: Berbulan-bulan Berkubang di Zona Oranye, Meski Tingkat Kesembuhan 83 Persen

“Bisa dikatakan produksi tempe di Kota Batu itu di Desa Beji,” ujarnya.

Peresmian wisata edukasi tempe ini sempat terhalang karena pandemi COVID-19. Semula dijadwalkan pada awal 2020 lalu. Kemudian mundur dan dijadwalkan akan dibuka pada tahun 2021 mendatang.

Deni mengatakan, potensi wisata di Beji dibuka untuk mewujudkan setiap desa atau kelurahan di Kota Batu menjadi tujuan wisata. Pada akhirnya, dapat mendongkrak perekonomian warga.

Untuk itu, Pemdes Beji tengah menyusun skema untuk memfasilitasi lokasi tujuan wisata. Di antaranya adalah membangun gedung tempat edukasi bagi wisatawan.

Produksi olahan tempe menjadi mata pencaharian mayoritas masyarakat di Dusun Krajan Sae. Tempe diolah menjadi produk turunan seperti kripik maupun olahan lainnya.

Salah satu pelaku usaha olahan tempe, Sulis Andriani mengaku jika per hari bisa memproduksi 20 kilogram kripik tempe. Ia juga memproduksi sendiri tempe yang akan dijadijkan kripik.

Kalau tempenya menghabiskan sekitar 15 sampai 20 kilogram kedelai. Kalau pas banyak bisa sampai 50 kilogram,” ujar Sulis.

Disambut positif

Adanya rencana Desa Beji menjadi tujuan wisata edukasi tempe, Sulis menyambut positif. Pasalnya, hal itu bisa meningkatkan perekonomian warga.

“Kalau saya kira, lokasi kebersihan dan jalurnya ini perlu dipertimbangkan,” kata Sulis.

BACA JUGA: Aksi Vandalisme Warnai Pilwali Pasuruan, Ismail: Pendzoliman Gus Ipul – Adi Wibowo

Selama ini, Sulis menjual kripik tempe dengan harga Rp 45 ribu per Kg. Ia mengolah tempe dengan menggunakan minyak pilihan agar kualitasnya terjaga. Hasil olahannya itu dibeli oleh reseller yang setiap bulannya memborong 10-20 kilogram.

“Saya ada reseller, mereka packing ulang. Mereka pakai merknya sendiri. Sebulan itu bisa sampai 2 kali. Ada tiga reseller yang pasti,” katanya.

Menurutnya, jika dijadikan tujuan wisata, maka akan sangat penting memberikan edukasi kepada wisatawan tentang khasiat tempe.

“Selain makanan murah dan sehat, proses pembuatan tempe harus bersih. Makanan yang saat ini aman dikonsumsi. Tentunya Bisa bernilai ekonomis,” ujarnya. (wok/kal)

Post Terkait

banner 468x60