Sejarah Java Coffee Ijen, Rasa Natural yang Terus Bertahan

  • Whatsapp
Kopi Jempir lereng ijen
Petani kopi memanen kopi yang siap diprosuksi. (DISPARPORA BONDOWOSO)
banner 468x60

NUSADAILY.COM-BONDOWOSO- Sejak lebih dari satu abad, Java Coffee Ijen menjadi istilah yang terus melekat. Hingga kini digunakan untuk menyebut hasil perkebunan kopi dari pegunungan Ijen – Kabupaten Bondowoso.

Maka, saat berkunjung ke Bondowoso belum lengkap rasanya bila tidak mencicipi Kopi Jawa Ijen. Sebab, dalam satu seduhan tercipta empat rasa sekaligus: mint, pahit, kecut, dan manis. Sedangkan, aromanya segar mirip jahe.

Baca Juga

BACA JUGA: Air Terjun Kalipahit, Air Terjun Indah yang Menolak Dijamah

Rasa dan aroma yang khas itu pula yang sangat disukai oleh orang-orang Eropa sejak ratusan tahun silam hingga sekarang.

“Sepertinya itu soal taste,” kata Manajer Kebun Kalisat Jampit PTPN XII, Budi Setiawan saat berbincang dengan nusadaily.com perihal Kopi Jawa Ijen.

Selera khusus yang membuat Kopi Jawa Ijen dihargai mahal. Tiap tahunnya, sebanyak 3.500 – 5.000 ton yang dikirim ke sejumlah negara di benua biru.

Meski demikian, masih tersedia Kopi Jawa Ijen yang tersaji di kedai masyarakat maupun restoran dekat penginapan-penginapan setempat. Tentu, harganya tidak semahal dengan yang dikirim ke luar negeri.

“Sebanyak 90 persen ekspor dalam bentuk green bean. Harganya Rp70 ribu – Rp90 ribu per kilogram,” ulas Budi.

Dia masih memakai istilah green bean kendati mulai berkurang digunakan, karena artinya kacang hijau. Dalam perkembangan kekinian, lebih populer memakai sebutan coffee bean.

Ekspor wujud butiran kopi yang sudah terkelupas kulitnya bertujuan mempermudah pengepakan dalam kapal laut. Terjadi sejak kolonial Belanda merintis  kebun DBAK (Davit Bernie Administatie Kantor) pada tahun 1900 lampau.

BACA JUGA: Nikmati Pemandangan Lereng Ijen, Yuk…Mampir ke Kebun Kopi Jampit

Sampai sekarang, ekspor berupa coffee bean masih diterapkan meski perusahaan perkebunan beralih tangan ke Pemerintah Indonesia. Bahkan sudah berganti nama hingga 9 kali, terakhir menjadi PTPN XII.

Menurut Budi, Kopi Jawa Ijen yang paling banyak digemari dari varietas klasik semacam typica dan blue mountain.

“Itu memang special taste,” tuturnya.

Rasa spesial Kopi Jawa Ijen dihasilkan dari lahan seluas 4.700 hektare yang terbagi dalam 4 kebun. Yakni, Kebun Kalisat Jampit; Blawan; Pancur Angkrek; dan Kayu Mas yang keseluruhannya mempunyai sekitar 28 afdeling.

Ini Sejarah Java Coffee Ijen

Berikut ulasan latar belakang terciptanya Kopi Jawa Ijen berdasarkan dokumen PTPN XII yang diberikan oleh Budi.

Bermula dari kolonial Belanda membuat perkebunan di ketinggian antara 11.00 -1.550 meter diatas permukaan laut, karena cocok untuk budidaya kopi arabika.

Rupanya, topografi menunjukkan lingkungan lahan yang sesuai juga. Pegunungan Ijen terdiri dari batuan pyroxeen andesit, bazalt, dan sedikit horblende. Bazalt mengandung kadar asam kresik.

Mengutip catatan Van Der Veen, dataran tinggi dipengaruhi letupan gunung berapi yang membentuk tanah berwarna kelabu, kelam oleh kadar humus arang (koolhumus) dan kaya akan unsur hara. Kecuali, kadar magnesium yang tingkatannya rendah sampai sedang.

Pegunungan Ijen dicatat oleh Smith Ferguson, rata-rata curah hujan 1.636 mm per tahun sebanyak 114 hari. Sedangkan, temperatur udara rata-rata 18 derajat Celcius, dengan kelembaban udara mula 57,4% sampai 95,7%.

Potensi alam itupun baru disadari dalam satu dekade belakangan. Sejak 2011, masif bermunculan perkebunan baru diluar area kebun kopi peninggalan kolonial.

Terbentuklah ‘perkebunan rakyat’ yang dikelola warga bersama dengan Perhutani di atas lahan seluas 1.300 hektare. Sebagian lahan itu dahulunya adalah hutan korban pembabatan liar yang terbengkalai.

Lambat laun, Perhutani dan petani-petani lokal penggarap lahan baru itu turut menikmati penjualan butir kopi dengan harga ekspor seperti halnya PTPN XII.

Seiring dengan perkembangan tersebut, Pemerintah Kabupaten Bondowoso resmi menasbihkan diri sebagai ‘Republik Kopi’.(sut/cak)