SE Rektor UINSA dan Perwali Kota Surabaya, Perparah Kehancuran Warkop

  • Whatsapp
Surat Edaran tentang jam malam bikin warkop di Surabaya sepi. (foto: oka/nusadaily.com)
banner 468x60

NUSADAILY.COM-SURABAYA– SE Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA), nomor 406 tentang sterilisasi kampus. Ditambah Perwali Kota Surabaya nomor 33 tahun 2020 tentang jam malam. Demakin meremukkan sendi ekonomi pengusaha warung kopi (warkop) di sekitar kampus.

"
"

Baca Juga

"
"

Dalam SE Rektor itu mengatur sterilisasi kampus guna mencegah penyebaran virus Corona, dan munculnya klaster baru di kampus.

Aturan itu memuat kebijakan kuliah dilakukan melalui daring atau virtual. Akibatnya mahasiswa memilih pulang.

Keberadaan warkop – warkop di sekitar kawasan kampus yang mengandalkan segmen mahasiswa ini akhirnya “megap – megap” .

Kalaupun ada pelanggan itupun segelintir mahasiswa semester akhir yang memilih tetap tinggal di Surabaya.

Pantauan Nusadaily.com, Senin 3 Agustus 2020, pukul 20.00 WIB, dampak cabikan Covid-19 ini benar – benar membuat para pengusaha warkop ini kelimpungan.

Di Warkop Flash , di belakang kampus UINSA Jemursari, Surabaya ini misalnya. Yang tampak adalah kursi kosong, meja juga bersih dari hidangan. Satu – dua orang pelanggan saja terlihat.

Pemilik warung kopi tertekan saat ini

Lukman, pemilik warkop, ditemui Nusadaily.com, usahanya sangat tertekan saat ini. Hal itu diperparah dengan kebijakan SE Rektor dan Perwali Kota soal jam malam.

“Yang awalnya kami bisa buka sampai jam 12 malam, sekarang hanya sampai jam 10 malam. Itu membuat kami lebih tertekan,” tutur pemilik warkop Flash ini.

Pemuda berbaju hitam ini menyebut bahwa mayoritas pelanggan warkopnya berasal dari mahasiswa, karena kebijakan kuliah daring pelanggan habis.

“Kita lihat sekarang ini kan mahasiswa semua yang tidak pulang, biasanya semester akhir yang stay di Surabaya,” kata Lukman lagi.

Sedangkan menurut Uwais, pemilik warkop Zone, omset pendapatan mengalami penurunan yang sangat drastis bahkan anjlok hingga 80 persen.

“Menurunnya sampai 80 persen Mas,” tukasnya.

Lelaki berjenggot ini berharap agar kondisi badai Covid segera pulih dan berlalu sehingga kehidupan ekonominya normal kembali.

Dia sebenarnya mengakui sudah menerapkan protokol kesehatan di warkopnya. Mulai dari jaga jarak, bermasker, dan menyediakan wastafel cuci tangan.

“Kalau ditambahi pembatasan jam malam ya lihat sendiri seperti apa sepinya, seperti sekarang ini,” ujarnya.

Sejumlah pengusaha warkop ini berharap pembatasan jam malam ditinjau ulang dan direvisi. Karena warkop telah menjalankan protokol kesehatan sesuai anjuran Pemerintah.(oka/aka)

Post Terkait

banner 468x60