Puluhan Pedagang Pasar Baru Magetan Tersingkir Setelah Renovasi

  • Whatsapp
Puluhan pedagang Pasar Baru Magetan
Surati kini berjualan di pinggir jalan raya, ia tetap membayar retribusi per hari.
banner 468x60

NUSADAILY.COM-MAGETAN- Puluhan pedagang Pasar Baru Magetan tersingkir. Ini pasca pasar tempat mereka mengais rejeki direnovasi pemerintah. Padahal mereka sudah berjualan di situ selama puluhan tahun.

BACA JUGA: Samplok Jajanan Pasar Asal Kabupaten Magetan Yang Kian Langka – nusadaily.com

Baca Juga

BACA JUGA: Banyak Pasien COVID-19 Meninggal, Bupati Magetan Minta Evaluasi RS – Imperiumdaily.com

BACA JUGA: Remaja 15 Tahun Dijajakan di Karaoke – Noktahmerah.com

Salah satunya pedagang bernama Surati 49 tahun. Sebelumnya, ia biasa berjualan klontongan di bawah tangga yang saat ini dipasangi eskalator. Dirinya bersama puluhan pedagang yang lain harus pindah ke tempat yang disediakan namun lebih kecil.

”Sejak direnovasi pedagang disuruh pindah, diberi tempat pada dalam sisi utara pasar. Namun tidak memadai selain itu sepi karena jalan buntu orang lewat saja tidak ada. Akhirnya saya menyewa di luar dan membangun sendiri kiosnya, agar laku,” terangnya kepada nusadaily.com. Jumat (22/1/2021).

Tidak hanya Surati yang memutuskan pindah dari tempat yang disediakan. Puluhan pedagang lain juga ikut pindah. Memilih berjualan di luar pasar tepi jalan Bali pada Kelurahan Kepolorejo.

Untuk kembali ke tempat awal mereka dilarang karena lokasi mereka dijadikan jalan naik eskalator dan tempat-tempat duduk. Seluruh pedagang dilarang untuk berjualan di sekitar eskalator tersebut.

”Padahal di tempat awal bejualan sudah mapan, sudah banyak pelanggan. Lokasi tempat berjualan tersebut sudah 24 tahun,” kata Surati sambil terbata-bata sedih soal puluhan pedagang Pasar Baru Magetan.

Surati dan puluhan pedagang lain mengaku hanya bisa pasrah di tengah pandemi saat ini. Ekonomi sulit jualan sepi. Tidak ada pilihan lain selain pilih pindah mandiri.

” Ya pilih pindah, agar laku. Meski harus mengeluarkan uang untuk sewa dan membangunya sendiri. Habis gimana lagi, di tempat yang disediakan seharian tidak ada orang yang beli,” pungkas pedagang kecil ini.

Selain itu kios yang ia bangun sendiri tersebut. Pedagang ini juga masih harus tetap membayar retribusi sebesar Rp. 500 per hari.(nto/cak)