Petani Puger Terdampak Pemindahan Irigasi Sangat Kecewa ke Bupati Jember

  • Whatsapp
petani jember
Petani hanya bisa bertemu dengan anggota Dewan, karena dari Pemkab Jember tidak datang. (nusadaily.com/Sutrisno)
banner 468x60

NUSADAILY.COM – JEMBER – Para petani Kecamatan Puger menyesal dengan sikap Bupati Jember Faida yang tiada mengutus barang seorang pun untuk menghadiri rapat dengar pendapat di Gedung Dewan, Selasa 22 September 2020.

Padahal rapat tersebut permintaan petani yang bertujuan untuk membahas tindak lanjut tuntutan pengembalian posisi saluran irigasi yang telah diubah mengitari area pabrik Semen Imasco sejak 2018 silam.

Baca Juga

“Kita sangat kecewa. Bupati punya kewenangan yang lebih, mestinya ada kepedulian. Kalau dilempar-lempar begini dampaknya irigasi sudah hancur,” kata Nurdiyanto, petani asal Desa Puger Kulon.

BACA JUGA: Tiga Tahun Berlangsung Gerakan Petani dan PMII Lawan Pabrik Semen Imasco

Menurut dia, DPRD Jember sudah bersedia menggelar hearing. Semestinya, Bupati menghadirkan Kepala Dinas Tanaman Pangan serta Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air.

Nurdiyanto malah merasa kontras jika dibandingkan antara sikap Bupati Faida yang tiba-tiba datang saat petani berunjuk rasa beberapa waktu lalu dengan saat inj.

Apalagi, sebelumnya Bupati tidak pernah berlaku demikian tatkala petani yang didampingi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) pada akhir aksi seringkali bentrok dengan aparat kepolisian.

Nurdiyanto mengindikasikan perubahan sikap Bupati akhir-akhir ini terkesan sangat politis.

“Musim Pilkada baru nemui petani, padahal kita gak kesana murni kepentingan petani,” gerutunya.

Samhaji, petani asal desa Puger Wetan menyatakan kemurnian gerakan petani seharusnya dapat dilihat dari keberanian menolak tawaran kompensasi dari Pabrik Semen Imasco.

BACA JUGA: Dewan dan Polisi Datangi Lokasi Irigasi yang Diubah Pabrik Semen Imasco

“Mau diganti sumur bor, genset, dan insentif, sikap petani tetap menolak. Kami tidak mau dengan kompensasi itu, yang penting saluran irigasi kembali,” tegasnya.

Retno Asih Juwitasari, anggota Komisi B DPRD Jember menyampaikan hearing dengan petani akan diagendakan lagi sampai para pihak bersedia hadir.

“Dari Pemkab Jember dan Imasco tidak datang tanpa alasan. Kasihan petani yang jauh-jauh kesini,” tutur legislator perempuan ini.

Sejak berdiri Pabrik Semen Imasco, saluran irigasi pertanian diubah, karena berada ditengah lahan pembangunan pabrik.

BACA JUGA: Kerusuhan Demonstrasi Aktivis PMII dengan Polisi: Kejadian Sama yang Berulang

Perubahan saluran irigasi berdampak air tidak lancar. Sekitar 200 hektare lahan sawah kesulitan mendapatkan suplai air. Sejak irigasi berubah, petani terpaksa membuat sumur untuk mengairi sawah.

Rata-rata petani mengeluarkan biaya tambahan sebanyak Rp300 ribu saban mengairi 1 hektare sawah. Uang itu buat membeli bahan bakar solar yang dipakai mesin penyedot air. (sut)

Post Terkait

banner 468x60