Pelaku Usaha Pariwisata 4 Kali Alami ‘Gagal Panen’

  • Whatsapp
Batu Flower Garden yang berada di dalam kawasan wana wisata Coban Rais sepi pengunjung saat pelaksanaan PPKM darurat.
banner 468x60

NUSADAILY.COM-KOTA BATU- Lonjakan insidensi kasus Covid-19 direspon pemerintah dengan menerapkan PPMK darurat Jawa-Bali mulai 3-20 Juli. Pengendalian dengan istilah baru ini diyakini bisa memutus mata rantai penularan Covid-19.

Baca Juga

Dari kacamata pemerintah, PPKM darurat merupakan strategi perlindungan terhadap aspek kesehatan. Meski begitu, ada konsekuensi yang dipertaruhkan dari sisi aspek ekonomi. Roda perekonomian kembali tersendat diganjal kebijakan ini. Seperti sektor pariwisata yang dibelit keadaan yang menghimpit.

Seluruh destinasi wisata dilarang beroperasi selama pelaksanaan PPKM darurat yang berlangsung selama tiga pekan. Kebijakan PPKM darurat dituangkan dalam Inmendagri nomor 15 tahun 2021. Mau tak mau mereka harus tunduk pada aturan itu dan rela melepaskan pendapatannya.

Kenyataan getir itu turut dirasakan pelaku usaha pariwisata di Kota Batu. Sejak kebijakan diberlakukan semua destinasi wisata seperti tertidur. Tak ada kunjungan yang membludak meskipun memasuki libur akhir pekan.

“Pastinya sektor pariwisata terpukul imbas PPKM darurat. Intinya ketika ditutup berarti pendapatan tidak ada,” kata Marketing & Public Relation Batu Flower Garden Coban Rais M. Nurul Umam.

Batu Flower Garden berada di kawasan wanawisata Coban Rais. Suasananya tampak lengang tanpa ada satu pun pengunjung. Hanya beberapa pegawai yang memanfaatkan longgarnya waktu untuk melakukan perawatan fasilitas.

Umam merinci, jika dihitung ada empat momen memanen pendapatan lepas begitu saja selama pandemi. Yakni saat lebaran 2020 lalu dan kembali terulang pada lebaran 2021. Lalu pada tahun baru 2021 dan kini kembali dirasakan saat PPKM darurat dijalankan.

“Kini puasa lagi. Sudah empat kali gagal panen. Biasanya bulan Juli ini panennya tempat wisata karena bertepatan libur sekolah,” celetuk dia.

Omzet Merosot hingga %0 Persen

Sudah dipastikan omzetnya anjlok. Umam mengatakan, di pertengahan tahun ini saja omzetnya merosot 50 persen dibanding saat masa normal. Ia mengatakan, ketika high season di masa normal pengunjung bisa hampir 1000 orang. Sedangkan di libur akhir pekan bisa sampai 1000-1500 orang. Namun semenjak pandemi merosot 200 pengunjung saat libur akhir pekan.

“Kalau situasi begini, kami nggak mikir untung dulu. Bisa bertahan saja untuk operasional itu sudah beruntung,” imbuh pria asal Situbondo itu.

Pelaku usaha pariwisata hanya bisa mengelus dada seiring munculnya kebijakan itu. Di sisi lain, belum ada jaminan dari pemerintah terhadap sektor pariwisata selama PPKM darurat diberlakukan. Tutupnya sektor pariwisata juga berdampak pada elemen lainnya seperti UMKM, jasa akomodasi perhotelan ataupun biro perjalanan.

“Memang kebijakan ini untuk mengantisipasi lonjakan kasus penularan Covid-19. Tapi pemerintah tidak memberi perhatian terhadap pemenuhan hajat hidup masyarakat,” kata dia.

Ketua PHRI Kota Batu, Sujud Hariadi mengatakan, saat ini hanya bisa pasrah mengikuti kebijakan itu. Sembari berharap bisa membawa perubahan signifikan terhadap kesehatan dan keselamatan masyarakat. Serta bisa membawa keadaan pulih sediakala agar roda perekonomian kembali bangkit.

“Kami dari pengelola wisata bisa memahami keputusan berat yang diambil pemerintah. Ini keputusan tidak mudah. Diperlukan keikhlasan dan legowo dari semua pihak. Kami sudah pasrah dan bismillah, semoga ini yang terbaik untuk menyelamatkan diri kita diri sendiri dan masyarakat,” kata Direktur PT Selecta tersebut.

Diterangkan Sujud, belum ada informasi mengenai bantuan kepada pelaku usaha pariwisata selama tempatnya tutup 17 hari hingga 20 Juli 2021. Selama tutup, sejumlah tempat wisata akan melakukan perbaikan fasilitas.

“Tidak ada bantuan karena kami tahu beratnya beban pemerintah saat ini. Perawatan dan perbaikan tentunya, juga peningkatan fasilitas. Kami hanya bekerja dengan kapasitas 30 persen dari karyawan,” kata Sujud menjelaskan kondisi Selecta.(wok/aka)