Patek Menyerang di Tengah Harga Cabai Melambung Tinggi

  • Whatsapp
Petani menunjukkan hasil panen cabainya yang terkena serangan jamur petek
banner 468x60

NUSADAILY.COM – MOJOKERTO – Penyakit antraknosa atau patek menyerang petani cabai di Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto. Akibatnya banyak buah cabai yang siap panen membusuk.

Penyakit yang disebabkan oleh jamur colletroticum capsici disaat musim hujan ini, menyerang sewaktu harga jual buah cabai melambung tinggi. Akibatnya, membuat hasil panen petani menurun.

Saat ini, harga cabai ditingkat petani berada di kisaran harga Rp 70.000 per kilogram (kg). Sedangkan harga jual di pasaran mencapai harga Rp 90.000 hingga Rp 100.000 per kilogram (kg).

“Ini sudah panen ketiga, tapi yah begini. Kena petek (sebutan warga desa), kalau gak segera dipanen menular ke yang lainnya. Jadi bisa rusak semua,” ungkap Arik Susanto, petani cabai di Dusun/Desa Cinandang, Kecamatan Dawarblandong, Kamis, 25 Februari 2021.

Selain rontok, cabai juga mengalami pembusukkan. Penyakit ini menyerang semua fase buah cabai. Baik, cabai yang masih muda maupun yang sudah masak berwarna merah.

“Jadi yang kena petek kita buang, atau dikeringkan saja. Cuman memang kondisi juga hujan, ya salah satu penyebabnya. Akhirnya lembab, kena jamur itu,” ucapnya.

Rupanya, tak hanya jamur patek yang menyerang buah cabai hingga membusuk. Persoalan lain datang dari hama atau hewan kecil-kecil yang meninggalkan telur dikulit buah cabai dan membuat cabai busuk sampai ke dalam.

Serangan Penyakit dan Hama

Disebutnya, serangan penyakit dan hama ini membuat hasil panennya menurun drastis. Di lahan seluas kira-kira 200 meter persegi itu, biasanya dia bisa memanen 1,5 kwintal cabai rawit. Namun, pada panen kali ini 1 kwintal saja tidak sampai.

“Panen maksimal itu antara panen ke empat sampai ke lima. Normalnya sampai 1,5 kwintal, tapi ini 1 kwintal saja gak sampai,” cetusnya.

Penyakit patek membuat kutit cabai hitam mengering. Sementara itu, bagian dalam buah mengalami pembusukan. Kondisi ini tentunya membuat cabai tidak laku dipasaran.

Pihaknya berharap pihak-pihak terkait turut memperhatikan nasib petani. Terutama, obat-obatan yang majur untuk mengusir hama.”Sekarang alhamdulillah harganya tinggi. Tapi kalau hasil panennya begini, semoga bisa balik modal,” pungkasnya. (din/aka)