Pandemi, Angka Kematian Ibu dan Bayi di Kota Malang Meningkat

  • Whatsapp
Ilustrasi ibu dan anak.
banner 468x60

NUSADAILY.COM – MALANG – Selama masa pandemi covid-19, angka kematian ibu dan bayi di Kota Malang mengalami peningkatan. Berdasarkan data yang berhasil dihimpun dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, sepanjang tahun 2020, tercatat ada peningkatan sejumlah 10 bayi yang meninggal dunia.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Kota Malang, Latifah Hanun mengungkapkan jumlah kematian bayi di tahun 2020 sebanyak 49, sedangkan di tahun 2019 tercatat 39 bayi. “Penyebabnya karena BBLR (Berat Badan Lahir Rendah), aspeksia atau sesak nafas pada bayi dan kelaianan kongenital atau kelainan bawaan yang terjadi pada masa perkembangan janin,” terang dia.

BACA JUGA: Berakhir 28 Januari, Kota Mojokerto Tak Lanjutkan PPKM

Dia menguraikan, untuk menekan angka kematian bayi, salah satunya dengan terus memaksimalkan edukasi dan pendampingam terhadap ibu. Seperti, edukasi BUTEKI (Ibu Meneteki atau menyusui) hingga pemantauan dini bayi dan balita. “Kami terus melakukan edukasi dan pendampingan pada ibu hamil, edukasi BUTEKI, serta juga pemantauan atau deteksi dini pada bayi balita,” papar dia.

Sementara itu, data kematian ibu justru tidak mengalami peningkatan. Tercatat, pada tahun 2019 dan 2020 berjumlah sama yakni 9. Dari jumlah tersebut, dua diantaranya disebabkan karena terjangkit Covid-19, sedangkan penyebabnya mayoritas karena memiliki penyakit penyerta. “Kalau ibu hamil tidak meningkat, tapi sama tahun 2020 ada 9 kematian ibu. Penyebabnya itu, karena penyakit infeksi, jantung dan perdarahan,” kata dia.

Terpisah, Wali Kota Malang, Sutiaji menguraikan, kondisi tersebut menjadi salah satu prioritas Pemkot Malang untuk segera dituntaskan. Apalagi, covid-19 dinilai lebih rentan menyerang ibu hamil dan balita. “Ini menjadi fokus kami, angka kematian bayi meningkat. Alasannya, karena pandemi, kena covid (covid-19). Ibunya bisa diselamatkan, tapi bayinya meninggal,” jelas dia.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah penangkalan stunting. Kemudian, menjalin kerja sama dengan Kementerian Agama (Kemenag) dan Pengadilan Negeri (PN) terkait izin menikah bagi usia dini. Sebab, usia terlalu dini juga menjadi salah satu yang rentan apabila tidak dengan optimal memahami mengenai kehamilan dan perawatan bayi.

“Maka dengan kerja sama dengan Kemenag dan PN itu jangan lagi ada dispensasi terkait pernikahan dini masih usia 15 tahun,” pungkas dia.

BACA JUGA: Harga Murah, Peternak di Magetan Pilih Buang Telur ke Sawah

Selain itu, Pemkot Malang juga menyusun sejumlah program kesehatan yang akan masuk dalam Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Kota Malang dan dibagi ke dalan enam kelompok. Mulai kelompok anak, kelompok lansia, kelompok perempuan, kelompok disabilitas, dan kelompok lainnya.

Dalam masing-masing kelompok ini nanti akan dibahas terkait variabel penanganan sesuai dengan kelompok klasternya. ”Termasuk di sana akan kami bahas terkait penanganan stunting pada anak. Lama masa sekolah. Karena indikator ini berhubungan dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kota Malang,” tandas Sutiaji. (nda/kal)