Monumen Gerbong Maut Bondowoso jadi Ajang Skateboard, Sejarawan Berang

  • Whatsapp
Sejumlah anak muda bermain skateboard diatas monumen sejarah Gerbong Maut di Kabupaten Bondowoso. (nusadaily.com/ istimewa)
banner 468x60

NUSADAILY.COM – BONDOWOSO – Publik Kabupaten Bondowoso geram menyusul beredarnya foto-foto di media sosial sejumlah anak muda bermain skateboard di atas monumen Gerbong Maut.

Para pegiat sejarah mengecam keras ulah para bocah yang bermain skateboard itu dan menilai pemerintah setempat gagal menjaga warisan historis perjuangan kemerdekaan.

Baca Juga

Pakar sejarah dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember, Mohamad Na’im menyebut Gerbong Maut menyimpan sejarah tragedi kemanusiaan pada saat masa penjajahan Belanda.

Menurutnya, menjadi sangat ironi jika saat ini monumen Gerbong Maut itu justru diperlakukan seenaknya oleh sekelompok anak muda.

“Ini merupakan bukti kongkrit rendahnya apresiasi terhadap perjuangan para pendahulu pahlawan kita. Perlu dilakukan edukasi kepada generasi muda yang menggunakan monumen sebagai arena bermain skateboard,” tuturnya, Kamis, 12 November 2020.

Na’im mendesak Pemkab Bondowoso tidak tinggal diam dengan kejadian tersebut. Harapannya, hal itu tidak lagi terulang di kemudian hari.

Tidak beradab

Pernyataan serupa diungkapkan guru sejarah yang pernah menulis sejarah Gerbong Maut, Daris Wibisono. Dia menyindir dengan istilah pemuda yang bermain skateboard sedang unjuk kreativitas secara tidak beradab.

“Ini adalah proses kreatif generasi muda Bondowoso, dan menjadi salah karena dilakukan di tempat yang menjadi warisan sejarah perjuangan leluhur yang sangat monumental,” ujarnya.

BACA JUGA: Terjadi Lagi, Gedung Sekolah di Jember Ambruk

Daris berpendapat, terjadi ketimpangan antara kreatifitas dan latar belakang pengetahuan historis sehingga mengakibatkan perilaku yang menyimpang.

Pengetahuan sejarah harusnya ditanamkan, bukan sekadar diajarkan dalam lingkungan pendidikan formal.

“Kalau semua generasi kita buta sejarah, jangan berharap menjadi bangsa besar. Mereka bukan saja tidak menganggap penting setiap peninggalan sejarah, bisa-bisa melecehkan,” ketusnya.

Daris mengingatkan kembali Gerbong Maut adalah penanda terjadinya kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Belanda. Generasi milenial semestinya punya pengetahuan tentang itu.

“Belanda mengangkut para pejuang dari penjara bondowoso ke penjara Bubutan, Surabaya dengan gerbong tanpa celah udara. Faktanya, banyak korban dengan kondisi mayat yang diperlakukan jauh dari nilai-nilai kemanusiaan,” tegasnya.

Sementara, Plt Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Bondowoso Retno Wulandari belum berhasil dikonfirmasi. Nomor teleponnya dalam kondisi nonaktif. (sut/kal)