Melihat Polah Petugas dan Sopir Angkut Sampah di Jember Setelah 2 Bulan Tak Bayaran

  • Whatsapp
dan
Aksi mogok petugas dan sopir truk angkut sampah di Kabupaten Jember. (nusadaily.com/sutrisno)

NUSADAILY.COM – JEMBER – “Sudah dua bulan tidak ada (anggaran) BBM. Ya, kalau kapan hari itu kami ambilkan dari TPP (tambahan penghasilan pegawai) dan gaji untuk nemblongi (menalangi pembelian BBM). Bayaran belum dibayar sekarang, tidak mampu lagi sopir-sopir,”

Senin, 4 Januari 2020, Kota Jember, tak jauh beda dengan kota lain di Indonesia, gerimis datang sejak fajar menjelang. Senidar salah satu sopir truk pengangkut sampah berlari kecil sambil menutupi kepalanya dengan kedua tangganya untuk menghindari air hujan, ia memasang spanduk pemberitahuan bahwa pihaknya dkk tidak beroperasi karena sudah 2 bulan tak bayaran.

BACA JUGA: 30 Ton Sampah Diangkut dari Pantai Kuta – Nusadaily.com

Mereka memarkir 36 unit truk pengangkut sampah ke halaman Pendopo Wahya Wibawa Graha, sebutan rumah dinas Bupati Jember Faida.

Aksi memarkir puluhan truk itu sebagai tanda aksi mereka untuk melakukan mogok kerja karena protes tiadanya pasokan BBM sejak dua bulan lalu.

Tampaknya, kesabaran petugas dan sopir truk pengangkut sampah yang dipekerjakan Pemerintah Kabupaten Jember sudah habis batasnya.

Mereka merasa tidak kuat lagi menahan rasa kesal akibat selama dua bulan tidak diberi anggaran untuk mengoperasionalkan kendaraan pengangkut sampah.

 “Mulai hari ini kita mogok. Kita tidak mampu lagi (menalangi biaya operasional truk sampah),” kata Senidar, korlap aksi petugas angkut sampah saat memberi keterangan kepada media.

Dalam aksinya, mereka membentangkan spanduk besar bertuliskan ‘Mohon Maaf Kami Tidak Operasional Truk Sampah Ini Butuh BBM’ yang terpasang di sisi bak truk.

Senidar dengan nada kesal mengatakan, petugas angkut sampah terutama para sopir sudah tidak mampu lagi merogoh kocek sendiri tiap hari untuk membeli solar agar truk tetap bisa beroperasi.

Sudah Dua Bulan Tidak Ada Anggaran

“Sudah dua bulan tidak ada (anggaran) BBM. Ya, kalau kapan hari itu kami ambilkan dari TPP (tambahan penghasilan pegawai) dan gaji untuk nemblongi (menalangi pembelian BBM). Bayaran belum dibayar sekarang, tidak mampu lagi sopir-sopir,” ungkap Senidar.

Menurutnya, truk di parkir ke halaman rumah dinas Bupati Jember dan Kantor Pemkab Jember dalam jangka waktu yang tidak ditentukan. “Sampai ada keputusan kepastian BBM dari pimpinan,” tegas Senidar.

BACA JUGA: Sutiaji Sebut, Banjir di Kota Malang Dipicu Sampah – Javasatu.com

“Nunggu BBM keluar sampai kapan tidak tahu, sampai ada keputusan kepastian BBM. Mulai hari ini kita mogok, sejak 2 bulan yang lalu. Kita tidak mampu lagi, bayaran belum. Kalau kemarin dari TPP gaji untuk nemblongi. Sekarang tidak mampu sopir-sopir,” kata Senidar.

Petugas sampah bernama Selamet menuturkan, memang truk pengangkut tidak dijalankan. Namun, dirinya dan petugas yang lain tetap menyapu alun-alun. Sampah-sampah hanya dikumpulkan, kendati tidak sampai terangkut ke tempat pembuangan akhir karena tiada BBM untuk mengoperasikan truk.

Selain BBM truk sampah, ia juga menyesalkan alun-alun yang menjadi salah satu wajah perkotaan tidak terawat dengan baik. “Seperti ini kayak apa? Alun-alun rusak semua. Rumput waktunya dipotong enggak dipotong,” keluhnya.

BACA JUGA: Penampakan Sepanjang Pesisir Pantai Kuta Sampah Berserakan – Imperiumdaily.com

Ditempat terpisah, Bupati Jember Faida, hingga berita ini ditulis, masih belum memberi keterangan meski telah dimintai konfirmasi melalui pesan ke nomor selulernya.

Dan, bupati Faida yang akan mengakhiri masa jabatannya pada pertengahan Pebruari mendatang itu tidak tampak saat petugas dan sopir angkut sampah menggelar aksi di depan rumah dinasnya. (sut/aka)