Melas, Tak Punya Paket Data, Guru Honorer di Kabupaten Mojokerto Ngajar Online Nunut Wifi Balai Desa

  • Whatsapp
banner 468x60

NUSADAIlY.COM – MOJOKERTO – Ratusan Guru Tidak Tetap (GTT) dan Pegawai Tidak Tetap (PTT) di Kabupaten Mojokerto bingung. Mereka begitu merasakan kesulitan dan tekanan ekonomi akibat wabah Covid – 19 sejak masuk ke Indonesia.

Kesulitan ekonomi yang dirasakan tak lain adanya penggunaan kuota internet dalam jumlah besar selama pengajaran online. Setiap harinya sejak pemerintah meliburkan semua jenjang sekolah.

Baca Juga

“Kalau tugas online ini memberatkan kami soalnya harus WFH. Karena secara otomatis biaya yang dikeluarkan biaya sendiri, kami tanggung sendiri-sendiri,” ungkap Ketua Forkom Honorer SMA/SMK/PK-PLK Jawa Timur, Hadie Subagio, usai memberikan pengajaran presentasi ke 32 siswanya melalui aplikasi zoom, Senin 20 April 2020.

Dirinya yang juga mewakili rekan seprofesinya membeberkan, sejak pemerintah meliburkan selama wabah Covid – 19, pembelajaran tetap dilaksanakan. Tetapi diarahkan melalui online. Baik melalui aplikasi pesan singkat seperti Whatsap, maupun Zoom.

Dalam satu hari para guru honorer itu, mengajar selama empat sampai delapan jam. Dengan jumlah enam sampai delapan kelas. Yang mana jumlah rata-rata siswa sekitar 30 siswa per kelasnya.

“Seperti saya, mengajar mata pelajaran produktif. Ini tadi belajar online menggunakan aplikasi zoom, kebetulan tugas siswa hari ini presentasi dan harus online. Karena membutuhkan kuota yang banyak, akhirnya saya dan rekan mencari lokasi yang free wifi seperti di balai desa ini,” ucap guru honorer SMKN 1 Kemlagi, Kabupaten Mojokerto ini.

Guru Honorer Kesulitan Ngajar Online

Kesulitan akan kelas online, tak hanya dirasakan dirinya dan rekan seprofesi, melainkan juga siswa yang mengikuti kelas online. Tak jarang banyak siswa yang tidak bisa mengikuti pelajaran online secara langsung. Bahkan ada yang harus membeli kuota tambahan, dan menggunakan wifi di warung kopi (warkop).

“Gak hanya guru, yang sambatan tapi juga siswa ikut berkeluh kesah. Akibatnya kalau tidak punya pulsa otomatis cari wifi gratis, setidaknya bisa memback up kebutuhan sehari-hari,” papar Hadie yang juga warga Desa Mojopilang, Kecamatan Kemlagi.

Dirinya juga mengaku, untuk honor setiap GTT maupun PTT di Kabupaten Mojokerto tergantung kebijakan masing-masing sekolah.

“Honornya relatif tergantung kebijakan masing-masing sekolah. Per jam paling sedikit Rp 20.000 sampai Rp 30.000 per jamnya. Seminggu sekitar 15 jam sampai 20 jam perminggu,” ucap pria yang sudah menjadi guru honorer selama 15 tahun ini.

Ia dan 800 GTT dan PTT di Kabupaten Mojokerto, berharap pemerintah juga memberikan perhatian yang sama. Seperti program kartu pra kerja, penambahan alokasi PKH (Program Keluarga Harapan). Kemudian pengalokasikan Dana Desa untuk penanganan pendemi corona (covid 19), sebut saja PKTD ( Padat Karya Tunai Desa) dan BLT Dana Desa (Bantuan Langsung Tunai Dana Desa).

“Kami juga ingin diperhatikan, jangan dikesampingkanlah. Kebutuhan kita juga jelas, butuh makan, apalagi ini teman-teman saja punya dua sampai tiga anak. Posisi juga sekolah di SD, SMP, maupun SMA atau SMK yang butuh juga biaya untuk sekolah online,” tandasnya.

Sementara itu, hal yang sama dirasakan Alfayati, guru honorer SMKN Mojoanyar, Mojokerto. Pria yang mengajar dua mata pelajaran yakni PKN, dan produktif grafis ini menghabiskan pulsa kuota Rp 100.000 perbulan selama mengajar kelas online dengan delapan kelas dalam satu harinya.

“Dulu sebelum pandemi Rp 25.000 sebulan sudah cukup, karena dibantu wifi yang ada di sekolah. Kalau sekarang gak cukup, bisa sampai Rp 100.000 per bulan, dan harus cari wifi gratis. Kami harap pemerintah bisa memperhatikan nasib kami, yang saat ini juga sudah tidak bisa mencari tambahan sampingan,” tandas Sekretaris Forkom Honorer SMA/SMK/PK-PLK Jawa Timur ini. (din)

Post Terkait

banner 468x60