Masih Rudy Seorang Diri yang Terjerat Skandal Korupsi ‘Republik Kopi’

  • Whatsapp
Rudy Hartoyo dituntut 6 tahun penjara, denda Rp 50 juta, subsider 6 bulan kurungan dalam kasus korupsi pembelian kopi PT Bondowoso Gemilang. (nusadaily.com/sutrisno)
banner 468x60

NUSADAILY.COM – BONDOWOSO – Hingga sekarang, hanya Rudy Hartoyo yang dihadapkan ke meja hijau menjadi pesakitan dalam perkara rasuah pembelian kopi oleh PT Bondowoso Gemilang (Bogem), badan usaha milik Pemerintah Kabupaten Bondowoso yang diproyeksikan menggawangi agenda program bertajuk ‘Republik Kopi’.

Baca Juga

Kejaksaan Negeri Bondowoso sementara ini sebatas memberi sinyal-sinyal kuat akan menambah lagi orang yang terjerat dengan menyatakan hanya soal menunggu timing penetapan status tersangka secara resmi.

“Kami masih penyidikan untuk pengembangan. Beberapa nama yang terlibat sudah menjalani pemeriksaan, namun belum kami tetapkan sebagai tersangka,” kata Kasi Intelilijen Sucipto.

Lazimnya praktek korupsi memang bukan tindak pidana biasa yang hanya dilakukan seorang diri. “Tersangka baru akan menyusul,” tegas Sucipto.

Adapun Rudy yang menjalani persidangan pada tahap penuntutan berpotensi menuai hukuman berat. Jaksa menuntut hukuman 6 tahun penjara, denda Rp 50 juta, subider 6 bulan kurungan kepada pria yang dalam PT Bogem berperan sebagai Direktur Produksi sekaligus Plt Direktur Administrasi itu.

Jaksa mendakwa Rudy melanggar Pasal 2 dan 3 UU tentang Pemberantasan Tipikor karena diyakini menyalahgunakan modal dana pemberian Pemkab Bondowoso sebanyak Rp 2,9 miliar yang di antaranya untuk pembelian kopi senilai Rp 1,6 miliar dengan kerugian keuangan negara Rp 477 juta.

Pembelaan diri Rudy di muka persidangan lewat pengakuan tentang uang perusahaan Rp1,6 miliar dipindah ke rekening pribadi di Bank Jatim. Namun, uraian dalihnya bahwa hal itu bermula atas perintah lisan Plt Direktur Utama PT Bogem, Surya Kodrat yang kini masih berstatus saksi.

Bahkan, dikemukakan juga alasan tambahan guna menguatkan alibi oleh Rudy seperti yang diutarakan melalui kuasa hukumnya, Dedi Rahman seorang advokat dari Firma Hukum Pengacara Nusantara Bondowoso.

Terdakwa Tidak Menikmati Satu Rupiahpun

“Terdakwa tidak menikmati, tidak satu rupiah pun dia nikmati. Masalah rekening pribadi atas perintah Plt Dirut, disuruh membuka rekening baru di Bank Jatim. Kemudian, uang sebesar Rp 1,6 miliar dibelanjakan kopi,” sergah Dedi.

Menurut dia, Rudy diperintah atasan memakai uang sebanyak itu untuk membeli kopi seberat 20 ton tidak sesuai kualitas. Karena sebagian berupa hard skin (HS) atau biji kopi gabah bukan sepenuhnya green bean. Yang berwujud buliran kupas kering atau biasa disebut biji kopi beras.

Disadari kelemahan terbesar alibi lantaran mendasari perintah melalui ucapan. “Jadi semua tindakan atas intruksi atasannya. Termasuk penunjukan (Rudy rangkap jabatan) juga tidak resmi, secara lisan dari Plt Dirut. Terdakwa polos melaksanakan tugas-tugasnya. Tetapi secara hukum ya keliru,” sahut Dedi.

Sebagai informasi, Plt Dirut PT Bogem, Surya Kodrat telah memberikan keterangan di persidangan berikut dengan sejumlah pihak terkait seperti ASN Pemkab Bondowoso bernama Wiratno dari BPKAD. Dan Aris Wasiyanto yang menjabat Kabag Perekonomian.

Saksi lainnya dari dua orang mantan pegawai PT Bogem, yakni Budi (Kepala Gudang), dan Ifa (Staf Administrasi). Selain itu, ada Mun’im (rekanan). Serta beberapa nama lain yang terkait seluk-beluk masalahnya. Semisal Joko Nugroho, Sumarhum, Yusriadi, dan Andi Wijaya.

Majelis hakim Pengadilan Tipikor Surabaya terdiri atas ketua, Tongani dengan dua anggota hakim adhoc Kusdarwanto dan Ellyani untuk menangani perkara ini yang masih menjerat terdakwa Rudy. Seorang warga asal Kabupaten Jember. (sut/aka)