Kota Malang Waspada Happy Hypoxia, Ini Gejalanya

  • Whatsapp
Ilustrasi saturasi oksigen, happy hypoxia (Shutterstock/Anya Ivanova)
banner 468x60

NUSADAILY.COM – MALANG – Belum lama ini, kasus happy hypoxia menjadi perbincangan publik. Gejala silent hypoxemia (nama lain happy hypoxia) mulai banyak ditemukan pada pasien terkonfirmasi positif covid-19. Bahkan, menimbulkan kematian.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, dr Husnul Muarif menjelaskan, happy hypoxia merupakan penurunan kadar oksigen dalam darah yang tidak disertai dengan keluhan atau gejala yang dirasakan oleh pasien. Padahal dalam kasus Covid-19, pasien memiliki beberapa kategori. Mulai dari yang tidak bergejala, ringan, sedang sampai berat, hingga kritis. Umumnya, pasien Covid-19 memiliki gejala pneumonia atau radang paru.

Baca Juga

“Dilihat dari kosa kata, happy itu bahagia hipoxia itu kekurangan oksigen. Ini salah satu manifestasi dari Covid-19, karena orang merasa tidak ada gejala,” jelas dia.

BACA JUGA: Isolasi, Tes Cepat, Tertinggi di Indonesia, PCR Tertinggi Usai Jakarta

Husnul menerangkan, happy hipoxia jauh berbeda dengan pneumonia. Sebab, penyakit pneumonia bisa terdeteksi sebelumnya dengan adanya gejala mulai yang ringan, seperti flu, hingga gejala yang sedang atau berat, seperti demam, batuk, sesak napas, berkeringat, menggigil, nyeri dada ketika menarik napas atau batuk, selera makan menurun, lemas, detak jantung meningkat.

“Kalau pneumonia jelas ada keluhannya, ada gejalanya di saluran pernafasan, pasti itu,” ujar dia.

Sementara, penderita happy hypoxia tidak akan memunculkan keluhan apapun. Pasien tetap beraktivitas seperti biasa. Namun secara tiba-tiba kebutuhan oksigen dalam tubuh terhambat. Kurangnya kebutuhan oksigen di dalam tubuh bisadikatakan karena adanya paparan virus dari Covid-19 yang masuk.

BACA JUGA: Treatment Pasien Covid-19 Maksimal, Angka Kesembuhan di Kota Malang Meningkat

“Orang merasa tidak ada keluhan, sehingga begitu aktivitasnya seperti biasa kebutuhan oksigen mendadak menjadi terhambat. Itu yang menjadikan hipoxia-nya mana kala aktivitas-aktivitas seperti biasa. Nah, tidak tersupply-nya oksigen ini salah satunya memang karena dari paparan virus Covid-19,” imbuh dia.

Husnul menegaskan, saat ini, di Kota Malang masih belum ditemukan kasus happy hypoxia. Meski demikian, pihaknya tetap mengimbau masyarakat untuk selalu waspada dalam melakukan aktivitas. Mengingat, penderita happy hypoxia adalah seorang dengan kondisi yang sehat. Namun, bisa membahayakan ketika membawa penularan virus kepada yang lainnya.

“Sejauh ini belum ada (kasus happy hypoxia di Kota Malang), semoga tidak terjadi karena mobilitas warga Kota Malang juga tinggi. Untuk itu, masyarakat juga harus waspada karena kita 100 persen terhindar atau tidak terpapar Covid-19 juga belum tahu,” tandas dia.

Senada dengan Husnul, Wali Kota Malang, Sutiaji kembali mengimbau warganya untuk tetap menjaga kesehatan.

“Dengan menggunakan masker, jaga jarak dan cuci tangan menggunakan sabun dan hand sanitizer. Hal ini juga bertujuan untuk menekan angka penyebaran covid-19,” pungkas dia.(nda/lna)