Komisi X Minta Rektor Unipar Jember Diproses Etik

  • Whatsapp
unipar jember
Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda. (dpr.go.id)

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Ketua Komisi X DPR, Syaiful Huda, meminta kasus Rektor Universitas IKIP Argopuro (Unipar) Jember, Prof RS, terus diusut, terutama terkait etik.

“Kampus membentuk tim yang mencoba untuk mengetahui duduk perkaranya seperti apa. Tim yang melakukan semacam penilaian kode etik atas pelanggaran itu dan sampai sejauh mana masalahnya, walaupun Pak Rektor sudah mundur,” kata Ketua Syaiful Huda, Sabtu (19/6/2021).

Bacaan Lainnya

Dia mengaku mengapresiasi langkah Prof RS mundur dari jabatan Rektor. Meski demikian, dia menegaskan peristiwa tersebut merupakan kejadian yang tak pantas.

“Kita apresiasi tanggung jawab moral Pak Rektor dengan cara mengundurkan diri,” ucapnya.

“Saya kira ini menjadi preseden baik, pejabat selevel rektor, dia mempertanggungjawabkan kesalahannya dengan mempertaruhkan posisinya,” sambungnya.

BACA JUGA: Rektor Unipar Jember Lengser Seiring Pengakuan Dosen Perempuan yang Merasa Dilecehkan

Syaiful menduga RS telah menyadari kesalahannya itu sehingga langsung mengundurkan diri. Menurutnya, RS tidak ingin mencoreng nama kampus Unipar.

“Dengan sikap mengundurkan diri, artinya Pak Rektor sudah menghitung dampak efek dari kesalahan ini. Dan kelihatannya beliau tidak ingin ini mencoreng nama kampus. Saya kira bisa dipahami,” tutur Syaiful.

Wakil Ketua Komisi X DPR, Dede Yusuf, menilai seorang rektor harusnya menjadi contoh dari sisi akademis dan akhlak. Dia menilai ada kesalahan saat proses pemilihan rektor.

“Semestinya seorang rektor ketika terpilih, pasti dianggap telah mumpuni baik dari sisi akademis, moral, akhlak maupun kepribadian. Jadi kalau dia tidak bisa menahan nafsu kepada bawahannya, berarti proses pencalonannya diragukan,” ujar Dede.

“Atau perlu dicek apakah dia dalam keadaan di bawah pengaruh obat atau minuman. Jadi perlu ditelusuri juga,” lanjutnya.

Mundur Usai Ngaku Khilaf Cium Dosen

RS mengundurkan diri dari jabatan Rektor Unipar Jember. RS mundur setelah dianggap melakukan pelecehan seksual terhadap seorang dosen.

“Beliau menanggalkan jabatannya, agar kampus tidak turut terseret ke dalam masalah dugaan tindakan (pelecehan seksual) tersebut,” kata Kepala Biro III Unipar, Dr Ahmad Zaki Emyus, Sabtu (19/6).

Zaki menjelaskan pengunduran diri RS itu dibahas saat pertemuan di lingkungan kampus. Salah satu hasil pertemuan itu adalah dugaan pelanggaran pasal 20 ayat 1, 2, dan 3 aturan pokok kepegawaian.

“Yang secara jelas menyebutkan, bahwasannya bagi para pejabat yang melakukan pelanggaran berat, maka harus mengundurkan diri,” ucapnya.

RS telah mengakui pengunduran dirinya. Dia juga tidak menampik bahwa pengunduran dirinya ada kaitan dengan norma kesusilaan.

“Saya memang khilaf,” ujarnya singkat.

Menurut RS, dugaan pelecehan seksual terjadi ketika ada kegiatan di sebuah hotel di kawasan Tretes, Pasuruan. Saat itu dia hendak mengajak sang dosen untuk makan.

“Waktu itu saya ketuk pintu kamarnya. Ketika dia membuka pintu, tiba-tiba secara spontan saya cium, itu saja. Nggak tahu saya memang khilaf,” kata RS.(sut/Ina)