Komisi II DPRD Sumenep: Perda Soal Tata Niaga Tembakau Sudah Busuk

  • Whatsapp
dprd perda
Anggota Komisi II DPRD Sumenep Juhari. (ist)
banner 468x60

NUSADAILY.CIM – SUMENEP – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dari Fraksi PPP Juhari menilai Peraturan Daerah (Perda) Sumenep Jawa Timur Nomor 6 tahun 2012 tentang pedoman Pelaksanaan Pembelian dan Pengusahaan Tembakau sudah kadaluarsa, sehingga perlu direvisi.

“Perda yang mengatur soal tataniaga tembakau sudah busuk dan perlu diaktualisasi, perlu direvisi,” katanya pada sejumlah media, Selasa 22 September 2020.

Baca Juga

Dari hasil kajian yang dilakukan, terdapat beberapa poin yang perlu dirubah, sehingga keberpihakan kepada petani makin jelas.

BACA JUGA: Regulasi Harga Tembakau Tak Jelas, DPRD Sumenep Minta Agar Mengunakan Hati Nurani

“Selama ini perda tersebut terkesan lebih berpihak kepada pengusaha tembakau. Kalau saya lihat perda itu tidak tegas membela petani,” ujarnya.

Oleh karena itu lanjut Anggota Komisi II DPRD Sumenep itu, perda yang baru nanti juga mengatur pola komonikasi pihak gudang atau perusahaan dengan petani.

Misalnya, tiga bulan jelang musim panen perusahaan sudah memberikan pengumuman mengenai tata cara pembelian hingga kuota serapan.

“Perda yang baru harus ada penekanan pada pihak perusahaan, meski tidak bisa mengatur soal harga,” jelasnya.

BACA JUGA: Soal Regulasi Harga Tembakau, Ini Solusi dari Ketua Kadin Sumenep

Sekadar informasi, berdasarkan data Dinas Pertanian Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan (Dispertahortbun) Sumenep, terdapat tiga gudang perwakilan perusahaan rokok yang ada di Sumenep melakukan pembelian tembakau rajangan.

Diantaranya PT. Gelora Djaja Surabaya, UD. Denny Harsono AS Pamekasan dan PT. Giri Dipta Sentosa di Kecamatan Guluk-guluk.

Sementara itu, produksi tembakau tahun ini mengalami penurunan dibandingkan musim tanam tahun sebelumnya. Hal tersebut seiring dengan berkurangnya luas area yang juga mengalami penurunan, tahun ini luas tanaman diperkirakan sebanyak 8.595 hektare, sedangkan tahun 2019 mencapai 14.337 hektare.

Sedangkan harga tembakau dikalangan petani saat ini masih belum sesuai harapan petani. Sehingga petani rentan mengalami kerugian. Di tingkat petani harga tembakau berkisar Rp30 ribu ke bawah dan ada yang dibanderol tidak sampai Rp20 ribu. (nam/lna)

Post Terkait

banner 468x60