Kiai Busyro Gagal Jadi Ketua PCNU Sumenep, Terjegal Tata Tertib

  • Whatsapp
Kiai Busyro
Kiai Busyro atau A. Buya Busyro Karim gagal menjadi Ketua Tanfidziyah PCNU Sumenep.
banner 468x60

NUSADAILY.COM – NUSADAILY.COM-SUMENEP- Kiai Busyro atau A. Buya Busyro Karim gagal menjadi Ketua Tanfidziyah PCNU Sumenep untuk periode 2020-2025. Lantaran terjegal Tata Tertib Konferensi Cabang (Konfercab) yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Nasy’atul Muta’alimin.

Baca Juga

BACA JUGA: KPK RI Turun ke Sumenep, Nurul Ghufron Paparkan Tiga Metode

Meski demikian, pria yang saat ini menjabat sebagai Bupati Sumenep tersebut sempat mengantongi suara terbanyak dengan perolehan 135 berhadapan dengan KH. Panji Taufiq yang memperoleh suara 116.

Sebelum masuk ke dalam tahapan pemilihan, tata tertib sidang pleno dibaca oleh perwakilan Pengurus Wilayah (PW) NU Jawa Timur, KH. Ahsanul Haq. Bahwa calon Ketua Tanfidziyah tidak boleh merangkap dengan jabatan politik seperti Gubernur, Bupati, Wakil Bupati, Wali Kota, Wakil Wali Kota, Menteri, dan Legislatif.

Dengan demikian, KH. A. buya Busyro Karim tidak bisa melenggang ke pucuk pimpinan organisasi yang didirikan oleh KH. Hasyim Asyari disebabkan saat ini masih berstatus sebagai Bupati Sumenep.

”Melihat tata tertib yang telah disepakati. Maka Kiai Busyro Karim dinyatakan gugur demi tata tertib ini walaupun perolehan suaranya mencapai 135 suara,” jelas pimpinan sidang, Ahsanul Haq dalam sidang pleno, Senin 28 September 2020.

“Selanjutnya, yang berhak maju ke tahap berikutnya adalah Kiai Panji Taufiq,” tambahnya kepada induk imperiumdaily.com ini.

Karena hanya Kiai Pandji Taufiq memenuhi syarat ambang batas minimal mengantongi minimal 75 suara. Oleh sebab itu, pimpinan sidang menetapkan secara aklamasi.

”Saya minta pak Pandji untuk menyatakan kesediaan,” pinta pimpinan sidang Ahsanul Haq.

Sementara, Kiai Pandji Taufiq mengatakan bahwa, sebenarnya pihaknya tidak ingin maju kembali sebagai Ketua Tanfidziyah PC NU Sumenep, mengingat dirinya sudah dua periode memimpin organisasi yang lahir tahun 31 Januari 1926 tersebut.

Pihanya ingin menyerahkan tongkat kepemimpinan NU Sumeneo kepada generasi yang lebih muda.

Cium Aroma Tak Biasa di Konfercab NU Sumenep

Kiai Pandji mengaku, dirinya terpaksa maju kembali serta menyatakan kesiapannya lantaran mencium sesuatu yang tidak biasa dalam Konfercab tahun ini.

Hanya saja, Kiai Pandji tidak bisa menyebutkan secara pasti apa alasannya. Kemudian Ia menyatakan siap berbakti kembali pada NU untuk periode 2020-2025.

”Sebagai Ketua Tanfidziyah PC NU Sumenep terpilih, kami siap menjalankan AD/ART organisasi, dan tidak akan terlibat dalam jabatan politik praktis baik secara langsung maupun tidak langsung,” ucapnya.

Meski sempat alot, pelaksanaan Konfercab PCNU Sumenep berjalan dengan damai aman dan lancar. Tidak ada satu pun peserta sidang pleno yang menyatakan keberatan atas putusan pimpinan sidang.

Rois Syuriah Dipilih Oleh Lima Orang Ahwa

Selain pemilihan Ketua Tanfidziyah, agenda dalam Konfercab NU Sumenep juga memilih Rois Syuriah dengan sistem Ahlul Halli Wal-Aqdi (Ahwa).

Tim Ahwa berjumlah 5 orang, yaitu KH. Hafidzi Syarbini, KH. Amiruddin, KH. Taufiqurrahman FM, KH. Munif Zubairi dan KH. Pandji Taufiq yang dipilih oleh forum pada rapat pleno berdasarkan suara terbanyak sesuai urutan yang hadir.

Setelah terbentuk, dewan Ahwa ini kemudian melakukan rapat internal untuk menunjuk satu orang yang diyakini mampu menjadi Rois Syuriah NU.

”Sesuai hasil keputusan Dewan Ahwa yang dipimpin Kiai Amiruddin, memutuskan KH. Hafidzy Syarbini sebagai Rois Syuriah NU 2020-2025,” kata, pimpinan sidang Pleno, Ahsanul Haq.(nam/cak)

Post Terkait

banner 468x60