Ketika Pilkada Bantuan Datang Tanpa Diminta, Giliran Banjir Melanda Senyap Tiada

  • Whatsapp
banjir jember
Relawan menggunakan perahu untuk membantu pengiriman logistik untuk warga terdampak banjir. (nusadaily.com/Sutrisno)
banner 468x60

NUSADAILY.COM – JEMBER – Tanpa anggaran, Pemerintah Kabupaten Jember tidak bisa berbuat banyak saat terjadi bencana banjir di 12 desa dalam 5 wilayah kecamatan saat ini. Praktis, yang bisa dilakukan sebatas mengirim personil untuk membantu evakuasi warga terdampak ke tempat lebih aman.

Kendala selain tiada anggaran, stok logistik yang dimiliki Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember juga menipis. Sehingga, kualitas bantuan yang dapat disalurkan tidak memadai dibandingkan dengan jumlah korban bencana sebanyak 3.986 kepala keluarga (KK).

Baca Juga

Warganet mengecam atas minimnya bantuan ditengah banyaknya korban terdampak yang membutuhkan bantuan, terutama lanjut usia, perempuan, dan anak-anak. Terlebih lagi, Bupati Jember, Faida tidak pernah menampakkan batang hidungnya selama bencana berlangsung beberapa hari ini.

BACA JUGA: Ribuan Korban Banjir Terlunta-Lunta, Pemkab Jember Sudah Lumpuh Tanpa Dana

“Piye lek ngungsine neng pemkap ae.. Ben eruh bupatine.. Menowo gak eruh lek kenek bencana (bagaimana kalau mengungsi di kantor Pemkab, supaya Bupatinya tahu. Mungkin tidak tahu kalau ada bencana),” tulis akun Edo Gembler, Jum’at 15 Januari 2021 di group FB ‘I Love Jember’ yang beranggotakan 231,8 ribu orang.

Disamping itu, warganet juga membandingkan antara perilaku para elit saat momen Pilkada Jember pada Desember 2020 baru saja dengan situasi bencana banjir kali ini. Ketika Pilkada, para elit disebut gencar berlomba membagi bantuan tanpa diminta, sedangkan sekarang malah seperti tiada terjadi apa-apa.

“Ngene iki lek ape pilihan jelas do cepet cepetan mudon (Begini kalau saat Pilkada, jelas beradu cepat untuk terjun),” sahut akun Pipin Ae.

Pengamat kebijakan publik dari FISIP Universitas Jember, Hermanto Rohman juga turut menyampaikan pendapatnya. Seandainya bencana banjir terjadi bersamaan dengan Pilkada, pasti dimanfaatkan untuk kepentingan kapitalisasi suara.

“Jember banjir dimana mana. Perhatian publik pada hiruk-pikuk kisruh pemerintahan. Belum lagi, APBD tidak jelas logistik katanya menipis. Coba masa kampanye pasti berebut kerja sosial dan lahan penyaluran logistik hampir mewarnai pemberitaan media. Apa jiwa sosial itu sudah memuncak saat masa kampanye sehingga habis saat ini stok jiwa sosial mereka-mereka yang berkampanye kemarin?,” sindirnya.