Kemanjuran Fungisida Produksi Rudy Dirasakan Petani Apel Kota Batu

  • Whatsapp
Slamet, petani apel yang pernah gagal panen karena penyakit busuk buah merasakan manfaat fungisida buatan Rudy Mardianto, petani asal Sumberbrantas
Slamet, petani apel yang pernah gagal panen karena penyakit busuk buah merasakan manfaat fungisida buatan Rudy Mardianto, petani asal Sumberbrantas
banner 468x60

NUSADAILY.COM-KOTA BATU- Petani dan peneliti mandiri asal Desa Sumber Brantas, Bumiaji, Kota Batu, Rudy Mardianto mampu menemukan formula yang mengatasi hama mata ayam pada buah apel. Formula itu berupa cairan fungisida yang dihasikan Rudy setelah melakukan eksperimen di ladang apel miliknya sendiri seluas 1 hektar. Kini obat tersebut banyak dimanfaatkan petani. 

Kemanjuran formula itu dinikmati Slamet petani apel di Sumber Brantas, Bumiaji, Kota Batu. Ia mencoba temuan Rudy, di ladang apel miliknya seluas 7 hektar.

Baca Juga

Rasa optimisme pun kembali muncul dibenak Slamet yang sebelumnya dibuat pusing karena penyakit busuk buah. Sejak memakai fungisida temuan Rudy sekitar dua bulan lalu, buah apel miliknya tampak sehat. Meskipun ada satu dan dua buah terserang, namun kondisinya bisa diatasi. Bintik mata ayam tidak sampai merusak apel. Penyebaran wabah juga tidak meluas.

Slamet berharap besar panen apel kali ini bisa mendapatkan keuntungan. Meskipun ia tahu bahwa uang yang ia dapat nanti akan digunakan untuk membayar hutang juga.

“Ada banyak utang saya. Kalau buat beli Rubicon bisa dapat dua,” katanya dilansir Nusadaily.com.

Slamet bisa dikatakan sebagai petani apel yang bertahan. Meski, bertubi-tubi mata ayam menyerang buah apel yang ditanamnya. Ia mempertahankan lahannya agar pohon apel tetap bisa berdiri tegak. 

Bagaimana tidak, ia telah menghabiskan miliaran rupiah demi keberlangsungan ladang apelnya. Bahkan Slamet berani mengambil keputusan merugi.

Slamet telah membuang ratusan ton buah apel yang tidak layak konsumsi sejak 2018 hingga 2020. Saat ditemui di ladangnya, ia mengisahkan pernah membuang 70 ton buah apel dari 1 hektar ladang.

Terus meruginya petani apel itu dirasakan oleh dirinya dalam tiga tahun terakhir ini. Slamet mengaku telah mengeluarkan modal sebanyak Rp 2.3 miliar. Uang itu didapatkan dari utang ke sejumlah bank.

Slamet tetap bertahan menjadi petani apel. Alasannya, karena ia memiliki kebanggaan. Apel adalah sumber kehidupan baginya, maka tidak mungkin mematikan sumber penghidupannya. Ia menjelaskan, penyakit mata ayam nampak ketika apel telah berusia 60 hari. Mulai nampak bintik hitamnya. 

“Sudah dilakukan penyemprotan masih saja tidak mempan. Menggunakan obat apa saja juga tidak ada hasilnya. Masih saya rawat secara terus menerus dengan melakukan pengompresan sedikit demi sedikit,” paparnya.

Awal mula Slamet bertemu Rudy melalui perantara temannya. Ia mengeluhkan kepada temannya akan serangan mata ayam yang tiada henti. Sudah banyak biaya dan tenaga yang dikeluarkan, namun tidak membuahkan hasil bagus.

“Kota Batu sebagai kota apel itu hanya slogan saja namun pada kenyataannya banyak petani apel yang dibunuh. Salah satunya adalah sangat sulitnya melakukan perawatan apel,” keluhnya.

Kemudian Slamet bertemu Rudy dan membeli fungisida ciptaan lelaki yang telah banyak melakukan penelitian di sektor pertanian tersebut. Tidak sulit bagi Slamet untuk mendapatkan bahan.

Sekitar dua bulan lalu, Slamet mendapatkan fungisida dan menyemprotkannya ke ladang. Slamet menjadi petani pertama yang menggunakan fungisida buatan Rudy.

Kini, sejumlah apel di ladangnya tampak bagus. Beberapa hari kedepan siap dipanen. Terutama Apel Manalagi.

Slamet merindukan panen apel yang berlangsung cemerlang seperti tahun-tahun sebelum 2018. Kala itu, panenan apel selalu memberikan dampak positif bagi petani termasuk penjual.

Saat memasuki tahun 2018 atau tiga tahun belakangan, ia mulai banyak membuang buah karena terserang hama mata ayam.

“Yang paling terasa terjadi pada 2018. Saya membuang 60 ton hingga 70 ton.  Dari 1 Ha ladang. Angka kerugiannya mencapai Rp 350 juta,” kenangnya.

Padahal, di tahun sebelumnya sekitar 2016, Slamet bisa memanen hingga 80 ton Apel Manalagi dan 15 ton Apel Anna.

“Dengan menggunakan fungisida ini, buahnya bisa menjadi bagus. Memang ada beberapa yang masih terkena namun tidak separah dulu,” terangnya.

Dengan adanya temuan itu, Slamet berharap panen apel kali ini bisa lebih bagus. Ia memperkirakan akan membuang sekitar 5 ton apel saja pada panen kali ini.

Ia juga meminta agar Pemkot Batu bisa menawarkan solusi stabilitas harga apel. Harga apel anjlok saat ini. Petani harus menghadapi sendirian anjloknya harga apel. Slamet mengatakan tidak ada langkah dari Pemkot Batu merespon rendahnya harga, padahal, Pemkot Batu memiliki keleluasaan untuk mengendalikan harga melalui kebijakan yang dikeluarkan. (wok/wan)