Senin, Januari 24, 2022

NUSADAILY.COM STORIES

BerandaRegionalJember Ancang-Ancang Kerja Sama Pengolahan Sampah Berkelanjutan Seperti di Badung-Bali

Jember Ancang-Ancang Kerja Sama Pengolahan Sampah Berkelanjutan Seperti di Badung-Bali

NUSADAILY.COM – JEMBERBupati Jember Hendy Siswanto menyampaikan pada isu lingkungan aspek sampah adalah persoalan mendasar. Sehingga, di tahun pertama masa pemerintahannya salah satu prioritas konsentrasi untuk penanganan problem tersebut.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Ia lantas menjajaki kemungkinan kerjasama antara Pemkab Jember dengan PT Resiki Mantap Jaya yang mengelola daur ulang sampah di Kabupaten Badung, Provinsi Bali. Bahkan, ancang-ancang kolaborasi kedua belah pihak sepertinya bakal dipercepat.

“Sampah 500 ton per hari belum tertangani. Minggu depan saya undang ke Jember. Banyak tanah yang bisa dipakai, tinggal alih fungsi,” seloroh Hendy usai mendengar paparan penanganan sampah di Badung, Minggu, 28 Nopember 2021 malam.

Hendy sempat mendatangi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Sampahku Tanggung Jawabku (Samtaku) yang berlokasi di Desa Jimbaran, Kecamatan Kuta Selatan. Dia menilai penanganan sampah disana terbukti berfungsi efektif dan sangat tepat.

Atas dasar itulah Hendy tertarik memakai menerapkannya untuk mengatasi masalah sampah di Jember. “Saya ini latar belakangnya pengusaha, jadi bisa tahu TPST Samtaku prospek, karena dari sampah yang menjijikkan justru jadi menjanjikan. Datang ke Badung ini untuk studi tiru, bukan studi banding,” sebutnya.

Tercatat rata-rata sampah di Jember per hari sebanyak 1.307 meter kubik. Mayoritas berupa sampah organik sekitar 67,5 persen. Sisanya, merupakan sampah plastik, kertas, kayu, kaca, logam, kain, karet, dan lainnya masing-masing persentase dibawah 7 persen.

Asal sampah sebagian besar dari pemukiman warga yang mencapai 1.000 meter kubik per hari. Disusul oleh sampah pasar 174 meter kubik, dan sektor komersial 116 meter kubik. Selebihnya adalah sampah asal kawasan industri, perkantoran, fasilitas umum, sapuan jalan, dan saluran drainase.

Ketua DPRD Jember Itqon Syauqi menjelaskan, sementara ini secara koersif hanya terdapat Perda Nomor 4 Tahun 2011 tentang Retribusi Pengolahan Sampah yang fungsinya sebatas mengatur sisi pendapatan.

Dewan Programkan Penyusunan Raperda Tentang Sampah

Maka, parlemen memprogramkan penyusunan Raperda tentang pengolahan sampah sebagai beleid yang lebih komprehensif. Tujuannya adalah dari sisi hukum menjadi payuh terhadap kebijakan yang kelak dilakukan oleh eksekutif.

“DPRD harus mendukung penuh upaya penanganan sampah. Karena ini menyangkut kepentingan hajat hidup orang banyak. Kita dorong kerjasama Pemkab Jember itu agar segera terealisasi, dan masalah sampah dapat teratasi,” tutur Itqon.

TPST Samtaku yang di Badung hanya menggunakan lahan seluas 5.000m². Murni dibangun
Danone-Aqua kemudian dikelola oleh PT Reciki Mantap Jaya, perusahaan dari konsorsium antara PT Reciki Solusi Indonesia dengan PT Jimbaran Lestari, dan Bali Waste Cycle (BWC).

TPST Samtaku menjadi yang terbesar di Pulau Dewata, karena kemampuan pengelolaan sampahnya dengan kapasitas maksimum hingga 120 ton per hari. Kendati masih melayani enam desa, seperti Jimbaran, Kedonganan, Bualu, Kelan, dan Tanjung Benoa.

Bhima Aries Diyanto, CEO PT Reciki Mantap Jaya menjelaskan pihaknya memakai konsep Zero Waste to Landfill. Yakni, memproses semua sampah dimanfaatkan agar tidak terbuang percuma. “Taktis sederhananya: kumpul-angkut-olah,” jelasnya.

Perusahaannya memiliki pegawai terampil yang bertugas memilah sampah, dan seperangkat mesin modern untuk memilah sampah berdasarkan jenisnya hingga mengolahnya. Misal, pengomposan sampah organik untuk jadi pupuk, daur ulang plastik sebagai bahan pembuatan plastik baru, dan pengolahan residu melalui teknologi refuse derived fuel (RDF) guna diubah ke bahan bakar.

Yakin Konsepsinya Berhasil Diterapkan ke Badung

Meski Bhima yakin konsepsinya berhasil diterapkan ke Badung maupun Lamongan, dan Gresik, tapi tak serta merta gegabah memakainya untuk Jember. Dia merasa sangat perlu mengobservasi kondisi sampah di Jember sebelum melangkah lebih jauh.

“Karena sampah tiap daerah memiliki karakteristik tersendiri. Masing-masing daerah tidak sama, seperti misalkan sampah Badung berbeda dengan Surabaya. Begitupun sampah di Jember, tentu juga lain,” paparnya ke hadapan Hendy dan Pimpinan DPRD serta beberapa pejabat terkait.

Apalagi, pendekatannya disebut dengan proyek berkelanjutan. Sama sekali bukanlah program yang kerap hanya untuk memenuhi kepentingan sesaat. Serta, prinsip kesinambungan tersebut didasari upaya pekerjaan jangka panjang, karena seluruh komponen dalam sistem TPST berasal dari karya dalam negeri.

“Sistem murni 100 persen karya anak bangsa Indonesia. Desain milik Resiki tidak satupun yang bergantung impor luar negeri. Tenaga kerja di TPST juga menggunakan warga lokal yang harus terjamin gajinya paling tidak sesuai UMK (Upah Minimum Kabupaten), dan dibayarkan iuran untuk BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Ketenagakerjaan,” tegas Bhima.

Bhima memproyeksikan berbagai dampak manfaat majemuk jika Pemkab Jember bekerjasama dengan pihaknya. Diantaranya adalah terbuka lapangan kerja minimal 55 orang pada tiap pengolahan sampah 120 ton per hari, efisensi karena terjadi pengurangan biaya daerah untuk operasional alat berat di TPA, dan investasi masuk lantaran TPST dikerjakan swasta.

“Disamping itu juga berkontribusi pada pendapatan asli daerah (PAD), kebersihan lingkungan, membangun kesadaran terhadap kehidupan sosial masyarakat, dan meningkatkan kualitas kesehatan di daerah,” urai Bhima.

Dalam kesempatan tersebut banyak diulas tentang TPST Samtaku di Jimbaran yang merupakan kelanjutan dari penerapan yang telah dilakukan oleh Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Disana terbukti berhasil mengurangi timbungan sampah dalam TPA sebanyak 70 persen dibanding sebelumnya. (sut/aka).

- Advertisement -spot_img
@nusadaily.com Nadzira Shafa sempat hamil anak Ameer Azzikra #tiktoktaiment ♬ Filtered Light - Nik Ammar / Mike Reed