Harga Daging Ayam Meroket Lagi, Stok Tak Mencukupi

  • Whatsapp
ilustrasi penjualan ayam (nusadaily.com/Amanda Egatya)
banner 468x60

NUSADAILY.COM – MALANG – Harga daging ayam di pasaran Kota Malang kembali meroket. Sebelumnya, dijual Rp 37 ribu menjadi Rp 40 ribu per kilogram.

Salah satu pedagang ayam di Pasar Besar Malang, Hamidah mengungkapkan, kenaikan harga ayam tersebut disebabkan karena keterbatas stok.

Baca Juga

“Stoknya berkurang. Permintaannya banyak tapi barangnya tidak ada. Kondisi seperti ini sudah sekitar lima hari,” terang dia, Kamis, 2 Juli 2020.

Dia menguraikan, jika sehari-hari ia mendapat stok sekitar 50 sampai 60 kilogram, saat ini hanya berkisar 30 sampai 35 kilogram saja. “Karena pasarnya juga sepi, barang itu kadang habis dan kadang tidak,” imbuh dia.

Kenaikan harga ayam tersebut membuat masyarakat beralih untuk membeli bagian sayap, ceker, kepala maupun usus ayam. Harga ceker ayam dibanderol Rp 25 ribu setelah sebelumnya Rp 20 ribu per kilogram, kepala Rp 12 ribu setelah sebelumnya Rp 8 ribu per kilogram, sayap ayam Rp 32 ribu setelah sebelumnya Rp 30 ribu per kilogram dan usus ayam mencapai Rp 30 ribu per kilogram.

“Yang minat banyak, harganya juga lumayan mahal,” lanjut dia.

Sementara, harga ayam kampung berkisar antara Rp 32 ribu setelah sebelumnya Rp 30 ribu per ekor. “Sementara ayam kampung kecil, tidak ada stok selama semingguan ini,” pungkas dia.

Jika harga daging ayam tersebut terus melonjak, tidak menutup kemungkinan menjadi pemicu inflasi seperti yang terjadi pada bulan Juni 2020 lalu. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang, angka inflasi bulan Juni sebesar 0,44 persen.

Kepala BPS Kota Malang, Sunaryo menjelaskan, ada beberapa komoditi yang menyebabkan inflasi. Salah satunya, adalah kenaikan harga daging ayam ras yang sebesar 12,81 persen yang memberikan andil paling besar. Kemudian, adanya kenaikan tarif angkutan udara, telur ayam ras, rokok kretek filter, buah naga, mie, blus wanita, tahu mentah, alpukat, dan mobil.

“Kenaikan harga daging ayam memiliki andi 0,15 persen terhadap angka inflasi. Sedangkan tarif angkutan udara punya andil 0,09 persen,” tandas dia.(nda/lna)