Fenomena Gelombang 3 Meter di Danau Kawah Ijen, Ini Penjelasan PVMBG

  • Whatsapp
(Syselpunk/Wikimedia Commons)
banner 468x60

NUSADAILY.COM – BANYUWANGI – Fenomena langka terjadi di danau Kawah Ijen. Air danau meluap hingga menyebabkan gelombang setinggi 3 meter dan menelan satu korban jiwa.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menduga peristiwa tersebut diakibatkan adanya pertemuan air danau yang panas dengan air hujan yang bersuhu dingin. Perbedaan suhu inilah yang kemudian menimbulkan gelembung besar dan memnicu terjadinya gelombang.

Baca Juga

“Untuk sementara sesuai dengan pengamatan itu adanya pertemuan suhu yang berbeda. Antara Kawah yang panas dengan hujan yang dingin. Sehingga memunculkan bualan besar dan terjadi gelombang,” ujar Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Barat pada PVMBG, Hendra Gunawan, Selasa 2 Juni 2020.

Longsoran Lokal

Selain itu, Hendra juga menduga ada longsoran lokal dari kaldera Kawah Ijen yang menjadi pemicu gelombang di permukaan danau. “Mungkin juga ada kejadian longsoran lokal, dengan curah hujan tercatat beberapa kali cukup tinggi (> 200 mm per hari),” tambahnya. 

Menurut Hendra, munculnya gelembung gas yang menyebabkan gelombang tinggi di Danau Kawah Ijen merupakan fenomena yang jarang terjadi. Dari data Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Ijen, lanjut Hendra, tercatat adanya gelembung selama 5 tahun terakhir. Namun tak sebesar di tahun 2020 ini. 

Sayangnya, PPGA Ijen tidak memiliki alat untuk mengukur tinggi gelombang di Danau Kawah Ijen. “Kami tidak memiliki alat untuk mengukur gelombang. Hanya pada kesaksian dari saksi mata yang sempat selamat melarikan diri,” tambahnya. 

Gelombang yang muncul, kata Hendra, sangat sulit diperkirakan. Hanya pada saat intensitas hujan yang tinggi membuat gelembung dan menciptakan gelombang di Danau Kawah Ijen. 

“Jadi sulit memperkirakannya. Kalaupun gelembung gas pecah efeknya hanya beberapa detik saja dan kondisi kawah kembali normal. Karena kejadiannya tiba tiba dan singkat. Kejadian itu terekam oleh alat monitoring gas, menunjukkan kejadian mendadak,” tutupnya. 

Seperti diketahui sebelumnya, penambang belerang dikejutkan gelombang setinggi 3 meter dari danau Kawah Ijen, Jumat 29 Mei 2020. Fenomena mirip tsunami ini mengakibatkan Andika (61), seorang pengawas penambang belerang jatuh dan terseret air danau.

Korban ditemukan keesokan harinya dalam kondisi meninggal dunia, Sabtu 30 Mei 2020, setelah rekannya Arifin melakukan aksi heroik mengarungi danau Kawah Ijen sejauh 150 meter dengan berenang demi mengevakuasi jenazah sahabatnya tersebut. (ozi)

Post Terkait

banner 468x60