Curah Hujan Tinggi, Luberan Air dan Material Sampah Ganggu Akses Jalan Kota Batu

  • Whatsapp
Sejumlah personel TRC PB BPBD Kota Batu menyingkirkan material sampah yang terbawa arus hingga ke badan jalan. Material sampah ini mengganggu pengendara kendaraan bermotor yang melintas di Jalan Raya Beji, Kota Batu.
banner 468x60

NUSADAILY.COM -KOTA BATU- Tingginya intensitas hujan sejak pukul 13.30 WIB membuat aliran Sungai Brantas dan anak Sungai Brantas mengalami peningkatan debit air. Sehingga menimbulkan derasnya aliran air disertai material sampah yang terseret arus (Sabtu, 5/12).

Baca Juga

Luapan air serta material sampah ini meluber hingga ke badan jalan. Seperti yang terlihat di Jalan Raya Beji pada Sabtu sore sekitar pukul 16.00 WIB. Material sampah ini serta lumpur yang terbawa arus menutupi beberapa ruas jalan. Dan beresiko membahayakan pengguna jalan.

Berdasarkan hasil pantauan Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC-PB) BPBD Kota Batu derasnya aliran Sungai Brantas dimulai dari hulu dan menjulur hingga ke anak sungai. Tingginya curah hujan membuat debit air meningkat.

Koordinator TRC PB BPBD Kota Batu, Suhartono mengatakan air beserta material sampah yang meluber ke jalan terjadi di beberapa titik. Di antaranya, di Jalan Raya Beji, Torongrejo, Sidomulyo, Bumiaji dan beberapa lokasi di Temas.

“Luapan air karena sumbatan material sampah di saluran drainase. Hingga meluber dengan membawa sampah dan lumpur,” kata Suhartono.

Terlihat pula ada batang kayu ambruk yang melintang di bawah jembatan wilayah Beji. Tumpukan sampah tersangkut pada batang kayu yang melintang. Selain karena sampah, luberan air disebabkan penampang saluran air yang tak mencukupi.

Suhartono menuturkan, BPBD telah merekomendasikan ke dinas terkait seperti DPUPR Kota Batu melakukan survei ulang saluran drainase dan segera dilakukan tindakan normalisasi saluran.

“Debit air yang meluap juga karena penampang saluran air yang sempit atau karena pendangkalan,” imbuh dia.

Sedangkan persoalan sampah yang mengakibatkan sumbatan di aliran air menjadi persoalan bersama. Masyarakat perlu memiliki kesadaran dan merubah paradigma agar aliran air ataupun sungai bukan tempat yang layak dijadikan pembuangan sampah.

Pihaknya telah berkali-kali turun langsung membersihkan aliran sungai dari tumpukan sampah. Namun tetap saja masyarakat tak peduli dan membuang sampah ke aliran sungai. Pihaknya rekomendasikan juga ke DLH memberikan himbauan. Kalau perlu ada regulasi untuk penindakan bagian dari penegakan regulasi.

Regulasi Sudah Ada, Tinggal Penegakan

“Sepertinya ada sih regulasi, tinggal penegakannya saja. Karena sekalipun saluran drainase diperlebar, tapi sampah menumpuk maka tetap air tak tertampung,” papar Suhartono.

Sementara itu berdasarkan rilis resmi BMKG memaparkan hasil analasis prakiraan cuaca sepekan mendatang, terhitung mulai 5-11 Desember. Potensi peningkatan curah hujan perlu diwaspadai.

Tingginya curah hujan dipengaruhi potensi peningkatan pertumbuhan awan-awan hujan di atas wilayah Indonesia dalam sepekan kedepan.Peningkatan potensi pertumbuhan awan ini dapat disebabkan oleh kondisi dinamika atmosfer yang tidak stabil.

Faktor berikutnya aktifnya fenomena Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby Ekuatorial, dan gelombang Kelvin di wilayah Indonesia. Serta adanya pusaran angin (sirkulasi siklonik) yang terpantau di beberapa tempat. Gelombang-gelombang ini dapat mendorong terbentuknya daerah pertemuan/perlambatan kecepatan angin (konvergensi).

Berdasarkan kondisi tersebut, BMKG memprakirakan dalam periode sepekan ke depan curah hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang berpotensi terjadi di sebagian besar provinsi Indonesia. Termasuk di Jawa Timur.

Deputi Bidang Meteorologi, Guswanto menghimbau masyarakat agar tetap waspada dan berhati-hati. Terhadap potensi cuaca ekstrem yang mengakibatkan musibah hidrometorologi.

“Musibah puting beliung, hujan lebat disertai kilat/petir, hujan es. Maupun dampak yang dapat ditimbulkannya. Seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang, dan jalan licin,” urai Guswanto.(wok/aka)