Candi Gedog Terkubur, BPCB Jatim: Ada Dua Penyebab

  • Whatsapp
eskavasi candi gedog
Candi Gedog yang terkubur dalam tanah, tim eskavasi menemukan rongga seperti terowongan.
banner 468x60

NUSADAILY.COM-BLITAR- Eskavasi tahap kedua terhadap situs Candi Gedog di Kelurahan Gedog Kecamatan Sananwetan Kota Blitar selama delapan hari atau mulai 5 – 14 Oktober 2020 sudah selesai.

BACA JUGA: Sempat Tertunda, Eskavasi Candi Gedog Blitar Dilanjutkan untuk Temukan Bangunan Induk

Baca Juga

Sejumlah fakta akhirnya ditemukan oleh tim ahli BPCB Jatim, diantaranya dugaan terkuburnya candi tersebut.

Selama eskavasi itu, tim ahli menggali satu kotak dengan kedalaman 2,5 meter dan luas 2 x 3 meter persegi. Banyaknya patahan struktur batu bata yang ditemukan membuat tim ahli kesulitan.

“Jadi kalau dilihat dari stratigrafinya, ada beberapa lapisan material yang memendam bangunan situs Candi Gedog. Di bagian bawah, kita menemukan lapisan vulkanis yang diduga berasal dari longsoran erupsi Gunung Kelud di masa lalu,” kata Nugroho Harjo Lukito, Arkeolog BCPB Jatim kepada Nusadaily.com, Sabtu 17 Oktober 2020.

Selanjutnya di bagian tengah, tim menemukan lapisan reruntuhan yang diduga dari bangunan candi. Sedangkan di bagian atas, tim mendapati lapisan bekas reruntuhan baru. Mengacu temuan lapisan reruntuhan baru di bagian atas, pihaknya memperkirakan ada upaya pengurukan bangunan candi. Lapisan reruntuhan baru bagian atas itu ditemukan di sisi selatan bangunan.

“Kita bisa menyimpulkan ada dua penyebab yang membuat bangunan candi terpendam. Pertama karena faktor alam, dan kedua faktor manusia pada masa lalu,” jelasnya kepada induk imperiumdaily.com ini.

Menurutnya, kalau karena faktor alam, maka lapisannya tidak setinggi bangunan. Sebab lapisan yang ditemukan tidak begitu tebal. Kemudian ada upaya pengurukan juga di sisi selatan. Ada lapisan bata bata baru sangat padat yang menguruk bagian candi.

Gali Candi Gedog Temukan Terowongan

eskavasi Candi Gedog
Fragmen di Candi Gedog, diperkirakan adalah antefiks berbahan limestone.

Saat melakukan penggalian, tim mendapati sebuah rongga membentuk lengkungan seperti terowongan dari bagian atas bangunan. Setelah diteliti, ada jejak perusakan pada rongga seperti terowongan di bangunan.

Meski demikian Nugroho tidak bisa menyebutkan secara pasti pada era apa perusakan itu terjadi. Hanya saja dari temuan-temuan situs lainnya, adanya upaya perusakan dan penjarahan situs cagar budaya terjadi sejak awal abad 20.

“Itu ketika orang Indonesia diajak Belanda untuk melakukan pemugaran. Mereka mulai mengerti pada sebuah bangunan candi, ada bekal pendeman atau cok bakal yang isinya salah satunya ada emas,” tuturnya.

Nugroho menambahkan, emas yang disimpan pada bangunan candi biasanya kecil dan tipis berbentuk binatang penyu sebagai lambang mikro kosmos. Ada juga terdapat batu mulai seperti topaz pada bangunan candi. Emas dan batu mulia itu biasanya disimpang di bagian sudut dan tengah bangunan candi.

“Nah, dari beberapa temuan baru, kita berasumsi bahwa situs Gedog bisa berupa candi yang berdekatan dengan petirtaan,” imbuhnya.

Dalam proses ekskavasi itu tim ahli juga menemukan fragmen arca bagian sandaran atau stela dan siras cakra. Dilihat dari pahatannya yang sangat halus dan rapi, diperkirakan usia Candi Gedog lebih tua dari masa Kerajaan Majapahit.(tan/cak)